Pinjol & Paylater: Generasi Muda Didorong Investasi

oleh -7 Dilihat
Pinjol & Paylater: Generasi Muda Didorong Investasi

KabarDermayu.com – Kondisi kesehatan finansial generasi muda Indonesia saat ini membutuhkan perhatian serius, terutama dengan kemudahan akses terhadap pinjaman online (pinjol) dan layanan buy now pay later (BNPL) atau PayLater.

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menyatakan bahwa tingginya penggunaan pinjol dan PayLater di kalangan anak muda mengindikasikan adanya ketidakseimbangan antara pola konsumsi digital dengan kesiapan mereka dalam membangun kondisi finansial jangka panjang.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 48,65 persen kredit macet pinjaman online per Maret 2026 berasal dari kelompok usia 19 hingga 34 tahun. Pada periode yang sama, total pinjaman online nasional mencapai Rp101,03 triliun, menunjukkan pertumbuhan 26,25 persen secara tahunan. Sementara itu, total utang dari layanan BNPL menyentuh Rp28,3 triliun dengan 30,81 juta pengguna.

Aloysia menambahkan bahwa generasi muda sangat akrab dengan teknologi dan layanan keuangan digital. Namun, banyak di antara mereka belum memiliki kebiasaan mengelola keuangan secara konsisten.

Baca juga: Thailand Batasi Masa Tinggal Bebas Visa Jadi 30 Hari untuk Turis

Padahal, membangun kondisi finansial yang sehat tidak selalu harus dimulai dari jumlah besar. Langkah sederhana seperti menyisihkan setidaknya 5 persen dana yang tidak terpakai untuk investasi rutin dapat membentuk disiplin finansial dalam jangka panjang. Oleh karena itu, Indodax mendorong generasi muda untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat melalui strategi investasi rutin.

Salah satu strategi yang disarankan adalah Dollar-Cost Averaging (DCA), yaitu metode investasi berkala dengan nominal tetap secara konsisten untuk membangun aset jangka panjang.

Menurut Aloysia, pinjaman online dan layanan BNPL pada dasarnya adalah instrumen keuangan yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Namun, di tengah kemudahan akses kredit digital dan gaya hidup serba instan, generasi muda semakin rentan terjebak dalam perilaku konsumtif yang dapat memengaruhi stabilitas finansial mereka di masa depan.

Data OJK menunjukkan rasio kredit bermasalah pinjol (TWP90) per Maret 2026 mencapai 4,52 persen. Aloysia menjelaskan bahwa kondisi ini mencerminkan bahwa pengelolaan keuangan dan penggunaan utang konsumtif masih menjadi tantangan di tengah meningkatnya akses layanan keuangan digital.

Selain itu, riwayat pinjaman dan kedisiplinan pembayaran juga menjadi bagian penting dalam rekam jejak finansial seseorang. Hal ini dapat memengaruhi akses keuangan di masa depan, mulai dari pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan, hingga pembiayaan usaha.

“Banyak generasi muda belum menyadari bahwa riwayat finansial hari ini dapat berdampak pada akses keuangan mereka di masa depan,” ujar Aloysia.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mulai membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Ini tidak hanya dalam mengelola konsumsi, tetapi juga dalam berinvestasi dan membangun aset secara konsisten.

Untuk mendukung kebutuhan ini, Indodax menyediakan fitur Investasi Rutin yang memungkinkan pengguna melakukan investasi otomatis secara terjadwal.

Selain itu, Indodax juga terus memperkuat edukasi bagi pengguna pemula melalui berbagai kanal. Tujuannya adalah untuk membantu masyarakat memahami risiko, prinsip dasar investasi, serta pentingnya membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat di era digital.