KabarDermayu.com – Indonesia, Malaysia, dan Thailand kembali mempererat kolaborasi strategis dalam sektor agribisnis, khususnya komoditas kelapa sawit, melalui gelaran The 4th Project Implementation Team (PIT) Palm Oil Cooperation (POC) Meeting.
Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda kerja sama The 19th Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Working Group on Agriculture and Agribusiness (WGAA) Meeting yang diselenggarakan di Jakarta. Kementerian Pertanian RI bertindak sebagai tuan rumah dalam forum yang krusial bagi masa depan industri sawit kawasan tersebut.
Sinergi Lintas Sektor untuk Daya Saing Global
Dalam upaya memperkuat diplomasi ekonomi, Kementerian Pertanian tidak bergerak sendiri. Pemerintah didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) serta Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), termasuk anak usahanya, PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) dan PT Kawasan Industri Nusantara (KINRA).
Head of Delegation (HoD) Indonesia, Hendratmojo Bagus Hudoro, menekankan bahwa keterlibatan berbagai pihak ini mencerminkan komitmen kuat Indonesia dalam membangun industri sawit yang berkelanjutan. Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan BUMN adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan perdagangan internasional yang semakin dinamis.
“Pertemuan ini menjadi momentum strategis bagi Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan sektor kelapa sawit yang berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing,” ujar Hendratmojo pada Rabu, 22 Juli 2026.
Pilar Utama Pasokan Minyak Nabati Dunia
Konteks kerja sama ini sangat mendesak mengingat dominasi ketiga negara tersebut di pasar global. Indonesia, Malaysia, dan Thailand secara kolektif menguasai sekitar 87 persen total produksi minyak sawit dunia. Indonesia memegang posisi sebagai produsen terbesar, diikuti oleh Malaysia dan Thailand.
Posisi sebagai tiga negara produsen utama ini memberikan tanggung jawab besar dalam menjaga ketahanan pasokan minyak sawit dunia. Melalui kerangka IMT-GT, ketiga negara berupaya menyatukan langkah untuk menghadapi tantangan seperti:
- Peningkatan produktivitas kebun secara berkelanjutan.
- Harmonisasi standar keberlanjutan global.
- Pemberdayaan pekebun rakyat agar lebih mandiri dan kompetitif.
- Penguatan akses pasar internasional di tengah ketatnya regulasi lingkungan.
Fokus pada Keberlanjutan dan Pekebun Rakyat
Hendratmojo menambahkan bahwa kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada sisi industri hilir, tetapi juga pada inovasi teknologi dan mitigasi perubahan iklim. Salah satu poin penting yang disoroti adalah pemberdayaan pekebun rakyat yang menjadi tulang punggung produksi sawit di ketiga negara.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari BPDPKS, Normansyah Syahrudin, memberikan apresiasi atas hasil diskusi yang berlangsung. Ia berharap berbagai rekomendasi yang lahir dari forum ini dapat segera ditransformasikan menjadi program konkret di lapangan, terutama dalam meningkatkan taraf hidup pekebun kecil.
Keberlanjutan Program Kerja 2027
Keberhasilan pertemuan ini juga ditandai dengan usulan untuk melanjutkan inisiatif serupa. Para delegasi sepakat agar program webinar dan forum kerja sama teknis terus ditingkatkan, dengan target untuk memasukkan program-program baru ke dalam agenda PIT Palm Oil Cooperation pada tahun 2027 mendatang.
Secara keseluruhan, The 4th PIT POC Meeting di Jakarta telah menghasilkan kesepakatan-kesepakatan krusial yang diharapkan mampu menjaga stabilitas industri sawit kawasan. Dengan mengedepankan kerja sama yang inklusif, ketiga negara optimistis dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi kawasan serta menjawab tantangan ketahanan pangan dan energi dunia secara berkelanjutan.
“Melalui platform IMT-GT, ketiga negara diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam peningkatan produktivitas, pengembangan industri hilir, serta harmonisasi berbagai inisiatif yang mendukung pembangunan industri kelapa sawit yang berkelanjutan,” tutup Hendratmojo.





