KabarDermayu.com – Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menolak proposal perdamaian yang diajukan oleh Iran. Penolakan ini menimbulkan kekhawatiran pasar global terkait potensi gangguan pasokan energi.
Pada perdagangan Asia, Senin pagi, harga minyak mentah Brent tercatat naik 3,8 persen menjadi US$105,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS juga mengalami kenaikan 4 persen menjadi US$99,30 per barel.
Kenaikan harga ini dipicu oleh memanasnya kembali ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Iran sebelumnya telah menyampaikan tanggapan resmi terhadap proposal perdamaian AS, yang difasilitasi oleh Pakistan sebagai mediator.
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim, Iran mendesak agar perang segera dihentikan. Selain itu, Iran juga menuntut jaminan bahwa tidak akan ada lagi serangan dari Amerika Serikat maupun Israel ke wilayahnya.
Namun, Presiden Trump secara tegas menolak proposal tersebut. “Saya tidak menyukainya, SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA,” tulis Trump dalam sebuah pernyataan di media sosial, seperti dikutip dari BBC pada Senin, 11 Mei 2026.
Sebelumnya, media AS Axios melaporkan bahwa proposal dari Washington mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan penghentian program pengayaan uranium oleh Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga menegaskan bahwa perang tidak akan berakhir sebelum stok uranium Iran benar-benar “dihilangkan”. Ketegangan geopolitik ini kembali mengguncang pasar energi global.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis dan dilalui oleh sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, telah praktis ditutup sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Iran sebelumnya mengancam akan menyerang kapal yang melintas sebagai balasan atas serangan AS dan Israel.
Penutupan jalur pelayaran ini telah mengganggu distribusi energi dunia dan mendorong lonjakan harga minyak internasional. Meskipun sempat terjadi gencatan senjata pada awal April untuk membuka ruang negosiasi damai, situasi belum sepenuhnya stabil.
Pada 21 April, Trump bahkan memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu agar Iran memiliki kesempatan untuk menyampaikan proposal yang terpadu. Namun, hingga kini, belum ada kesepakatan yang berhasil dicapai di antara kedua belah pihak.
Di tengah lonjakan harga energi ini, perusahaan-perusahaan minyak justru melaporkan keuntungan yang besar. Raksasa energi Arab Saudi, Saudi Aramco, mengumumkan laba kuartal pertama tahun 2026 melonjak lebih dari 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
CEO Aramco, Amin Nasser, menyatakan bahwa jalur pipa lintas negara milik perusahaan telah membantu menjaga kelancaran distribusi energi di tengah gangguan pengiriman akibat perang Iran.
Perusahaan migas global lainnya juga merasakan dampak positif kenaikan harga minyak. BP melaporkan keuntungan kuartal pertama tahun ini naik lebih dari dua kali lipat, sementara Shell juga mencatat lonjakan pendapatan yang signifikan.
Lonjakan harga minyak saat ini semakin meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Negara-negara pengimpor energi diperkirakan akan menghadapi tekanan biaya yang lebih besar jika konflik Iran terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup.
Para analis menilai bahwa pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan perang di Timur Tengah, mengingat kawasan ini memegang peran krusial dalam rantai pasokan energi dunia. Selama belum ada kepastian mengenai perdamaian, harga minyak diperkirakan akan tetap berfluktuasi.





