KabarDermayu.com – Militer Israel dilaporkan tengah menghadapi lonjakan kasus bunuh diri di kalangan tentaranya, sebuah fenomena yang semakin mengkhawatirkan.
Peningkatan kasus bunuh diri ini diduga kuat berkaitan dengan meluasnya gangguan stres pascatrauma atau PTSD.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterlibatan dalam operasi militer yang berkepanjangan dan berulang di berbagai wilayah konflik.
Data yang dipublikasikan oleh Haaretz menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun ini saja, hampir 10 tentara dilaporkan mengakhiri hidup mereka dalam beberapa pekan terakhir.
Bulan April lalu, setidaknya enam tentara aktif dan tiga tentara cadangan yang sudah tidak bertugas dilaporkan meninggal karena bunuh diri.
Laporan Haaretz merinci lebih lanjut, menyebutkan bahwa setidaknya 10 tentara aktif telah meninggal karena bunuh diri sejak awal tahun, dengan enam kasus terjadi pada bulan April.
Tiga tentara cadangan yang bertugas selama perang juga meninggal karena bunuh diri pada bulan April, meskipun status mereka sudah tidak aktif.
Selain itu, dua petugas polisi, termasuk satu anggota Polisi Perbatasan wajib militer, juga meninggal karena bunuh diri pada bulan yang sama.
Sebelumnya, pada awal tahun 2025, media tersebut mencatat total 22 kasus bunuh diri tentara sepanjang tahun tersebut.
Angka ini tercatat sebagai angka tertinggi dalam 15 tahun terakhir, menandakan adanya eskalasi masalah yang signifikan.
Tren peningkatan ini semakin terasa dampaknya pasca peristiwa 7 Oktober 2023.
Sejak Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap warga sipil Palestina di Jalur Gaza, agresi militer Israel telah meluas.
Operasi militer yang mencakup Gaza, Lebanon, dan Suriah dilaporkan semakin memperparah krisis kesehatan mental di dalam tubuh militer Israel.
Namun, ironisnya, laporan tersebut menyoroti bahwa militer Israel justru mengurangi dukungan kesehatan mental bagi tentara, meskipun skala krisisnya besar.
Hal ini berbanding terbalik dengan klaim yang disampaikan oleh pemerintah setempat kepada publik.
Sesi evaluasi psikologis yang sebelumnya diwajibkan bagi tentara cadangan bahkan dihentikan pada bulan Februari.
Laporan tersebut mengindikasikan bahwa setelah perang dengan Iran dan peningkatan anggaran militer, pihak militer memutuskan untuk mengembalikan sesi evaluasi tersebut.
Namun, pengembaliannya tidak dilakukan secara menyeluruh, menyisakan celah dalam penanganan.
Haaretz juga mendokumentasikan sejumlah kasus tentara Israel di perbatasan Lebanon dan wilayah Tepi Barat yang dipulangkan.
Mereka dipulangkan dalam beberapa pekan terakhir tanpa sempat mendapatkan penanganan memadai dari tenaga profesional kesehatan mental.
Seorang sumber militer mengungkapkan kesulitan pihak berwenang dalam mengambil langkah efektif untuk mengatasi fenomena ini.
Terutama pada kasus tentara yang mengalami tekanan namun enggan mencari bantuan profesional.
“Pada awal perang, kami mengira situasinya terkendali, tetapi justru berbalik menjadi masalah besar,” ujar seorang pejabat senior militer Israel.
Beberapa tentara juga menyuarakan perasaan ditinggalkan oleh sistem setelah kembali dari medan perang.
“Ini jelas tidak bertanggung jawab, kami dipulangkan begitu saja dalam kondisi seperti ini,” keluh seorang tentara kepada Haaretz.
Ia mempertanyakan alokasi anggaran, “Mereka menghabiskan miliaran untuk persenjataan dan sistem pertahanan, tapi untuk hal ini justru dihemat?”
Tentara lain menggambarkan situasi tersebut dengan metafora yang kuat, “Ibarat menempelkan plester pada luka di pembuluh darah utama yang terus mengalir.”
Meskipun banyak tentara Israel yang secara terbuka merayakan kehancuran di Gaza, tidak sedikit yang justru mengalami tekanan psikologis berat.
Orang tua seorang tentara menceritakan kepada media berbahasa Ibrani bahwa “Semua orang di militer yang tidak tewas atau terluka, secara mental pasti terdampak.”
Ia menambahkan, “Sangat sedikit yang benar-benar siap kembali bertempur, dan kondisi mereka pun tidak sepenuhnya baik.”
Sepanjang konflik berlangsung, pasukan Israel juga disebut gagal mengalahkan kelompok perlawanan Hamas.
Mereka dilaporkan mengalami kerugian besar di medan perang, yang tentunya berdampak pada moral dan kondisi psikologis prajurit.
Seiring meluasnya invasi Israel ke Lebanon, pasukannya kini tersebar di berbagai wilayah, termasuk Gaza dan Suriah.
Situasi ini menambah beban dan potensi tekanan bagi para tentara yang bertugas di berbagai front.
Sejak awal Maret 2026, setidaknya 16 tentara Israel dilaporkan tewas akibat serangan pejuang Hezbollah di Lebanon selatan.
Pada pekan ini, seorang kontraktor militer juga tewas akibat serangan drone Hezbollah.
Insiden tersebut terjadi saat kontraktor tersebut sedang melakukan perobohan rumah-rumah warga sipil di wilayah tersebut, menambah daftar korban dan trauma.
Sementara itu, hasil jajak pendapat terbaru dari lembaga penyiaran publik Israel, KAN, menunjukkan pandangan mayoritas warga Israel.
Baca juga di sini: Laut Luas Buruh Berkumpul Rayakan Hari Buruh di Monas
Mayoritas warga menilai rezim Netanyahu gagal meraih kemenangan dalam konflik apa pun sejak Oktober 2023.





