KabarDermayu.com – Mantan diplomat senior Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mohammad Safa, melontarkan tudingan keras terhadap Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, dengan menyebutnya sebagai penjahat perang dan pembunuh.
Pernyataan ini muncul menyusul insiden tragis yang menewaskan lima warga sipil Iran saat berlayar dari Oman menuju Iran. Safa menuding militer AS secara sengaja menargetkan dua kapal sipil yang tidak bersenjata dalam serangan tersebut.
Melalui akun X miliknya, Safa menyatakan, “Jika Amerika Serikat sedang berperang, maka Pete Hegseth adalah penjahat perang. Jika tidak, maka ia adalah seorang pembunuh.” Ia mengutip laman presstv.ir pada Rabu, 6 Mei 2026.
Lebih lanjut, Safa menegaskan bahwa perintah yang diberikan oleh Pete Hegseth kepada militer AS jelas melanggar hukum internasional. Ia merinci bahwa kapal sipil tersebut sedang dalam perjalanan dari Oman ke Iran saat diserang.
“Kapal sipil itu sedang berlayar dari Oman ke Iran. Militer AS dengan sengaja menyerang dua kapal tersebut dan menewaskan lima warga sipil,” tegas Safa dalam unggahannya.
Baca juga: Ahmad Dhani Unggah Bukti Laporan KDRT Palsu untuk Serang Maia Estianty
Di sisi lain, United States Central Command (CENTCOM) memberikan keterangan bahwa helikopter Apache milik Angkatan Darat dan MH-60 Seahawk milik Angkatan Laut AS telah menyerang enam kapal kecil Iran. Penyerangan ini dilakukan karena kapal-kapal tersebut dianggap sebagai ancaman bagi pelayaran komersial.
Mohammad Safa, yang juga merupakan perwakilan dari organisasi non-pemerintah Patriotic Vision Association (PVA) di PBB, mengingatkan tentang kewajiban yang jelas bagi pihak militer berdasarkan Konvensi Jenewa. Konvensi tersebut mengatur kewajiban bagi pihak yang menenggelamkan kapal.
“Berdasarkan Konvensi Jenewa, Anda wajib menyelamatkan awak kapal yang Anda tenggelamkan. Membiarkan korban selamat begitu saja hingga tenggelam adalah tindakan ilegal dan termasuk kejahatan perang,” jelasnya.
Ia bahkan berpendapat bahwa persidangan kejahatan perang terhadap Pete Hegseth akan menjadi sebuah peristiwa bersejarah jika benar-benar terjadi.
Sebelumnya, Safa mengumumkan pengunduran dirinya dari PBB pada tanggal 31 Maret 2026. Keputusan ini diambil karena adanya indikasi persiapan di lingkungan internasional untuk menghadapi kemungkinan penggunaan senjata nuklir terhadap Iran.
“Saya rela meninggalkan karier diplomatik demi membocorkan informasi ini. Saya menghentikan tugas saya agar tidak ikut terlibat atau menjadi saksi dalam kejahatan terhadap kemanusiaan ini,” ungkapnya saat itu.
Safa juga melontarkan tudingan bahwa sejumlah pejabat tinggi PBB lebih mengutamakan kepentingan kelompok tertentu dibandingkan dengan tugas utama organisasi tersebut. Ia menekankan bahwa Teheran merupakan kota besar dengan populasi hampir 10 juta jiwa.
“Bayangkan jika Washington, Berlin, Paris, London, atau kota besar lainnya dihantam senjata nuklir,” katanya sebagai perbandingan.
Kekhawatiran Safa ini sejalan dengan pernyataan pejabat dari World Health Organization (WHO). WHO dilaporkan tengah mempersiapkan skenario terburuk apabila konflik antara AS-Israel dengan Iran semakin memanas.
“Situasi terburuk adalah insiden nuklir… dan itu yang paling kami khawatirkan,” ujar Direktur Regional WHO, Hanan Balkhy, kepada Politico.
Selain itu, mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang juga peraih Nobel, Mohamed ElBaradei, tidak menutup kemungkinan terjadinya penggunaan senjata nuklir.
“Jika ada pemimpin yang bertindak di luar nalar dan merasa sedang kalah, kemungkinan itu tetap ada,” ujarnya merujuk pada potensi penggunaan senjata nuklir.





