Emas Tetap Primadona Investor di Tengah Gejolak Geopolitik Global

oleh -10 Dilihat
Emas Tetap Primadona Investor di Tengah Gejolak Geopolitik Global

KabarDermayu.com – Daya tarik emas sebagai instrumen investasi paling aman atau safe haven diprediksi akan terus menguat dalam waktu dekat. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan memanasnya tensi geopolitik di berbagai belahan dunia, logam mulia tetap menjadi pilihan utama bagi para investor maupun bank sentral untuk mengamankan nilai aset mereka.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa harga emas dunia (XAU) akan tetap berada pada level tinggi sepanjang pekan depan. Menurutnya, volatilitas pasar yang dipicu oleh kebijakan moneter Amerika Serikat serta konflik regional menjadi katalis utama yang menjaga harga logam mulia tetap stabil di zona atas.

Analisis Pergerakan Harga Emas

Berdasarkan proyeksi teknikal, Ibrahim memaparkan rentang harga emas dunia untuk sepekan ke depan. Berikut adalah rincian estimasi pergerakan harga emas (XAU) yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar:

  • Rentang Harga Jangka Pendek: Level support diprediksi berada di US$3.990 per troy ounce, dengan level resistance di angka US$4.132 per troy ounce.
  • Rentang Harga Mingguan: Secara lebih luas, harga emas diperkirakan bergerak pada kisaran support US$3.836 per troy ounce hingga resistance di level US$4.290 per troy ounce.

Tidak hanya di pasar global, pergerakan harga logam mulia di dalam negeri pun diproyeksikan akan mengikuti tren serupa. Untuk pasar domestik, harga emas diperkirakan akan bertengger di rentang support Rp2.410.000 per gram hingga resistance di level Rp2.720.000 per gram. Dalam jangka pendek, pasar domestik diperkirakan akan bergerak pada level Rp2.580.000 hingga Rp2.623.000 per gram.

Faktor Geopolitik dan Kebijakan Moneter

Ibrahim menekankan bahwa ada empat variabel utama yang memengaruhi dinamika harga emas saat ini, yakni eskalasi geopolitik, perpolitikan Amerika Serikat, kebijakan Bank Sentral AS (The Fed), serta keseimbangan antara pasokan dan permintaan (supply and demand).

“Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi sorotan utama pelaku pasar. Potensi ketegangan yang melibatkan infrastruktur energi di Iran serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah menciptakan kekhawatiran akan adanya gangguan pasokan energi global yang memicu inflasi,” jelas Ibrahim, Minggu 2 Agustus 2026.

Selain itu, situasi di Eropa Timur akibat konflik Rusia-Ukraina yang tak kunjung mereda terus menambah beban ketidakpastian pasar global. Kondisi ini memaksa investor untuk lebih berhati-hati dan memilih emas sebagai pelindung nilai dari risiko penurunan ekonomi yang lebih dalam.

Strategi Diversifikasi Bank Sentral

Menariknya, ketahanan permintaan emas global tetap terjaga meski dunia menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Data dari World Gold Council (WGC) mencatat bahwa permintaan emas sepanjang semester pertama 2026 mencapai 2.522 ton, meningkat 2 persen secara tahunan dengan total nilai transaksi menyentuh angka US$380 miliar.

Fenomena ini mengindikasikan adanya pergeseran strategi dari bank-bank sentral di seluruh dunia. Banyak bank sentral kini mulai melakukan diversifikasi cadangan devisa mereka dari yang sebelumnya didominasi dolar AS ke logam mulia. Langkah ini diambil sebagai respons atas kenaikan harga minyak mentah dan potensi inflasi yang mungkin kembali melonjak jika suku bunga AS tidak segera diturunkan.

“Dalam kondisi harga minyak mentah yang terus naik, bank sentral global cenderung memanfaatkan momen penurunan harga emas sementara untuk melakukan pembelian. Kami melihat, seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik di semester kedua, aksi borong logam mulia oleh bank sentral diperkirakan akan terus berlanjut,” pungkas Ibrahim.

Bagi para investor, kondisi ini menegaskan bahwa emas masih menjadi aset yang sangat relevan untuk dimiliki dalam portofolio investasi jangka panjang, terutama sebagai tameng terhadap gejolak ekonomi dan politik yang sulit diprediksi.