Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.300 per Dolar AS, Ini Pemicunya

oleh -8 Dilihat
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.300 per Dolar AS, Ini Pemicunya

KabarDermayu.com – Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah Diprediksi akan semakin intens pada perdagangan pekan depan. Mata uang Garuda berada dalam posisi rentan, dengan potensi pelemahan yang diperkirakan mampu menembus kisaran Rp18.250 hingga Rp18.300 per Dolar AS, didorong oleh kombinasi faktor geopolitik global serta dinamika kebijakan moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pasar saat ini tengah bersiaga penuh menanti rilis data ekonomi domestik yang akan menjadi penentu arah pergerakan Rupiah. Menurut Ibrahim, terdapat serangkaian indikator makroekonomi kritis yang jika tidak sesuai ekspektasi, akan memperburuk sentimen pasar terhadap aset-aset Indonesia.

Analisis Data Ekonomi Domestik

Salah satu sorotan utama adalah neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Juni 2026. Terdapat kekhawatiran kuat bahwa neraca perdagangan akan mencatatkan defisit, sebuah kondisi yang secara langsung dapat menekan posisi Rupiah di pasar valuta asing. Selain itu, Ibrahim menyoroti beberapa sektor krusial lainnya:

  • Inflasi Domestik: Meskipun diprediksi melandai di bawah 3,34 persen berkat intervensi harga pangan, hal ini mencerminkan daya beli yang juga tertekan.
  • PMI Manufaktur: Sektor industri diproyeksikan masih terjebak dalam zona kontraksi di bawah angka 50. Kondisi ini menjadi sinyal negatif karena berimplikasi pada penurunan drastis penyerapan tenaga kerja dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).
  • Cadangan Devisa: Terjadi tren penurunan cadangan devisa dibandingkan posisi Juni yang berada di angka US$145,6 miliar.

Standar Internasional dan Ketahanan Ekonomi

Cadangan devisa Indonesia yang diproyeksikan hanya mampu mencukupi kebutuhan impor selama 4,9 bulan dinilai belum memenuhi standar ideal bagi negara dengan peringkat utang investment grade kategori Triple B, yang umumnya mensyaratkan cakupan minimal lima bulan.

Selain faktor di atas, Ibrahim menambahkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga menunjukkan tren penurunan yang konsisten sejak awal tahun. Berawal dari angka 129 pada Januari, IKK terus merosot hingga menyentuh 117,8 pada Juni, dan diprediksi akan kembali melemah ke level 116,6 pada Juli 2026.

Sentimen Pasar Global

Dinamika di dalam negeri ini tidak berdiri sendiri. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed dan tensi geopolitik global turut memperumit ruang gerak Rupiah. Ibrahim menekankan bahwa akumulasi dari data-data yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) maupun Bank Indonesia pada pekan depan akan menjadi penentu utama apakah Rupiah mampu bertahan atau justru terperosok lebih dalam.

Para pelaku pasar kini dituntut untuk lebih waspada dalam mengamati respons otoritas moneter terhadap data-data tersebut. Stabilitas Rupiah ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.