KabarDermayu.com – Militer Israel dilaporkan tengah berupaya keras mencari solusi efektif untuk menghadapi serangan drone canggih yang dilancarkan oleh Hizbullah dari Lebanon Selatan.
Media penyiaran publik Israel, KAN, mengutip sejumlah sumber melaporkan bahwa militer Israel baru-baru ini mulai menempatkan sistem penargetan pintar di wilayah tersebut. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam melacak dan mencegat drone-drone milik Hizbullah.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa ratusan alat bidik malam bernama ‘dagger’ telah didistribusikan kepada personel militer Israel. Alat ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi tembakan terhadap target yang bergerak, terutama dalam kondisi malam hari.
Melansir laman presstv.ir, drone Hizbullah yang menggunakan serat optik kini menjadi salah satu ancaman paling serius bagi militer Israel di Lebanon Selatan. Hal ini disebabkan oleh kesulitan dalam mendeteksi drone tersebut, dan Israel belum mampu mencegatnya secara konsisten.
Pengakuan mengenai kerentanan ini datang langsung dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Akhir bulan lalu, ia mengakui bahwa rudal dan drone Hizbullah merupakan dua ancaman terbesar bagi negaranya. Netanyahu bahkan secara khusus meminta para komandan militer Israel untuk segera menemukan solusi atas masalah ini.
Pengakuan terbuka dari Netanyahu ini jarang terjadi dan secara implisit menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pertahanan militer Israel.
Baca juga: Lonjakan Harga Pangan di Iran Capai 115 Persen
Pada Sabtu lalu, militer Israel melaporkan bahwa serangan drone Hizbullah telah menyebabkan luka pada seorang perwira dan dua tentara Israel di Lebanon Selatan. Salah satu dari korban dilaporkan dalam kondisi serius.
Sementara itu, Hizbullah mengklaim telah berhasil melakukan sejumlah operasi militer. Target operasi tersebut meliputi kendaraan militer Israel, titik berkumpulnya pasukan, dan posisi-posisi militer strategis di Lebanon Selatan.
Kelompok perlawanan tersebut juga menyatakan bahwa mereka berhasil mencegat sebuah drone Israel dalam periode waktu yang sama. Tindakan ini diklaim sebagai respons langsung terhadap pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh Israel.
Hizbullah menegaskan bahwa operasi-operasi mereka merupakan balasan atas serangan berulang Israel ke wilayah sipil di Lebanon Selatan. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 17 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, Israel dilaporkan masih melancarkan serangan harian ke Lebanon.
Sejak 2 Maret, serangan Israel ke Lebanon dilaporkan telah merenggut lebih dari 2.700 nyawa dan memaksa lebih dari satu juta warga sipil mengungsi dari rumah mereka.





