Harga Pertalite Tak Naik: Bahlil Pastikan Minyak Mentah Meroket Hingga Akhir Tahun

oleh -11 Dilihat
Harga Pertalite Tak Naik: Bahlil Pastikan Minyak Mentah Meroket Hingga Akhir Tahun

KabarDermayu.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan kepastian bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, termasuk Pertalite dan Biosolar, tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun. Keputusan ini diambil meskipun terjadi lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi. Pernyataan ini disampaikan langsung olehnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada hari Selasa.

Beliau menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah Indonesia, yang tercatat mencapai rata-rata 117,31 dolar AS per barel pada April 2026, tidak akan serta-merta membebani konsumen BBM bersubsidi.

Lebih lanjut, Bahlil merujuk pada data rata-rata ICP sejak Januari 2026 yang masih berada di bawah ambang batas 100 dolar AS per barel. Hal ini menjadi faktor penentu untuk menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil.

“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” ujar Bahlil, menunjukkan bahwa kondisi keuangan belum mendesak untuk penyesuaian harga.

Dengan demikian, Bahlil kembali menggarisbawahi bahwa harga BBM bersubsidi dipastikan aman dan tidak akan ada kenaikan hingga akhir tahun 2026. Jaminan ini memberikan kelegaan bagi masyarakat yang bergantung pada BBM bersubsidi.

Baca juga: Teror Pocong Diduga Modus Penipuan di Tangerang, Polisi Ungkap Trik Pelaku

Sebelumnya, Kementerian ESDM telah merilis data rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) untuk April 2026 yang mencapai 117,31 dolar AS per barel. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 15,05 dolar AS dibandingkan dengan bulan Maret 2026, yang tercatat sebesar 102,26 dolar AS per barel.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah pada April 2026 dipicu oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah eskalasi konflik geopolitik yang berkelanjutan, terutama di kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz, yang meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia.

Selain isu geopolitik, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang kuat pada triwulan pertama 2026, dengan angka mencapai 5 persen secara tahunan, juga memberikan sentimen positif terhadap peningkatan permintaan minyak global. Hal ini turut berkontribusi pada kenaikan harga minyak mentah.

Meskipun demikian, Laode Sulaeman juga mengidentifikasi beberapa faktor yang berpotensi menahan kenaikan harga minyak dunia lebih lanjut. Proyeksi penurunan permintaan minyak global pada triwulan kedua 2026, yang diperkirakan mencapai 5 juta barel per hari secara tahunan, menjadi salah satu penahan utama.

Potensi terbukanya kembali jalur diplomasi damai antara Iran dan Amerika Serikat juga disebut sebagai faktor yang dapat meredakan ketegangan dan menstabilkan harga minyak di pasar internasional.