Mr Crack & Mr Clean: Pengawal Rupiah KrisMon 1998

oleh -8 Dilihat
Mr Crack & Mr Clean: Pengawal Rupiah KrisMon 1998

KabarDermayu.com – Nilai tukar Rupiah pada Rabu pagi, 20 Mei 2026, bergerak melemah 37 poin atau 0,21 persen menjadi Rp17.743 per dolar AS, jika dibandingkan pada penutupan sebelumnya di level Rp17.706 per dolar AS.

Mata uang Rupiah telah mengalami perjalanan panjang dan penuh gejolak sejak krisis moneter atau krismon pada tahun 1998. Saat itu, nilai tukar Rupiah anjlok drastis dari Rp2.400 menjadi Rp16.000 per dolar AS.

Krisis yang dipicu oleh pelepasan kurs tetap dan instabilitas politik tersebut memaksa Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga secara tajam dan melakukan intervensi pasar. Namun, upaya ini hanya memberikan efek yang terbatas.

Setelah melewati masa pemulihan pada tahun 2000-an, BI mulai menerapkan kebijakan inflation targeting dan sistem floating exchange rate yang terkendali. Meski demikian, terdapat dua sosok penting yang berperan sebagai pengawal Rupiah saat krismon 1998. Mereka adalah BJ Habibie, yang dikenal dengan julukan Mr Crack, dan Mar’ie Muhammad, yang bergelar Mr Clean.

Berdasarkan data yang dihimpun, BJ Habibie dan Mar’ie Muhammad adalah dua tokoh penting di Indonesia yang dikenal luas karena profesionalisme, integritas, dan pengabdian luar biasa kepada negara. Keduanya kerap berinteraksi dalam kapasitas sebagai menteri di masa pemerintahan Orde Baru (Orba).

BJ Habibie (Presiden ke-3 RI, Bapak Teknologi, dan Mr Crack)

Beliau adalah seorang teknokrat dan ahli dirgantara yang menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) selama puluhan tahun, serta kemudian menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia.

Pak Habibie, sapaan akrabnya, dikenal secara internasional sebagai Mr Crack karena penemuannya terkait teori kerambatan retak (Crack Progression Theory) di dunia aviasi atau penerbangan.

Pada awal tahun 1997, nilai tukar Rupiah masih terbilang stabil di kisaran Rp2.380 per dolar AS. Namun, dampak krisis keuangan Asia mulai mengguncang perekonomian Indonesia. Pada bulan Januari 1998, nilai Rupiah menembus angka Rp9.000, Rp10.000, dan bahkan Rp11.000 dalam satu hari.

Puncaknya terjadi setelah lengsernya Presiden Soeharto, dan BJ Habibie menggantikannya pada tanggal 21 Mei 1998. Pada tanggal 16 Juni 1998, Rupiah mencapai titik terlemahnya di Rp16.800 per dolar AS.

Presiden ke-3 Republik Indonesia ini diakui oleh sejarah memiliki ‘tangan dingin’ yang berhasil menyelamatkan Indonesia dari jurang krisis moneter yang kelam 28 tahun silam.

Pada masa krisis tersebut, BJ Habibie memilih untuk menyelamatkan ekonomi rakyat daripada mempertahankan ambisi besar industri dirgantara nasional, yaitu Proyek N250 Gatot Kaca.

Baca juga: Drone di Dekat PLTN UEA Berasal dari Irak

Mr Crack bukanlah seorang ekonom atau lulusan keuangan, melainkan seorang insinyur pembuat pesawat terbang. Namun, keterbatasan latar belakang itu justru menjadi senjata utamanya.

Lewat pendekatan ilmiah yang tak biasa, sang pakar dirgantara ini berhasil menjinakkan badai ekonomi makro tersebut hanya dalam kurun waktu 17 bulan.

Alhasil, empat paket kebijakan BJ Habibie berhasil meredam pelemahan dolar AS. Keempat kebijakan tersebut adalah independensi mutlak Bank Indonesia (BI), restrukturisasi perbankan, kebijakan suku bunga tinggi (rem likuiditas), dan jaring pengaman sosial untuk rakyat kecil.

Empat paket kebijakan BJ Habibie tersebut tercatat sebagai salah satu pemulihan ekonomi tercepat dalam sejarah krisis dunia. Pada kuartal I 1998, inflasi Indonesia sempat mencapai angka 78 persen. Namun, pada akhir masa jabatannya di tahun 1999, inflasi berhasil ditekan secara drastis hingga menyentuh level 2 persen.

Nilai Rupiah yang sempat menyentuh rekor terburuk sepanjang sejarah di level Rp16.800 per dolar AS pada Juni 1998, berhasil dipukul mundur hingga menguat tajam ke level Rp6.500 per dolar AS pada akhir tahun 1999.

Mar’ie Muhammad (Menteri Keuangan 1993–1998, Mr Clean)

Beliau adalah Menteri Keuangan dalam Kabinet Pembangunan VI (1993–1998) dan merupakan tokoh utama di dunia kemanusiaan. Ketika krismon 1997–1998 menghantam Indonesia, Mar’ie Muhammad berada di garis depan.

Pada bulan November 1997, ia mengambil keputusan yang ekstrem. Ia menutup 16 bank yang bermasalah, termasuk bank yang terkait dengan kelompok kuat di lingkaran kekuasaan. Keputusan ini berisiko sangat besar.

Namun, ia memilih untuk menjaga integritas negara, bukan menjaga kenyamanan jabatannya. Saking lurus dan jujurnya, Mar’ie Muhammad mendapatkan julukan Mr Clean.

Julukan tersebut diberikan karena perjuangannya dalam memberantas korupsi di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Di samping itu, ia juga berupaya meningkatkan efisiensi dan berusaha membersihkan institusi dari pegawai negeri sipil (PNS) yang korup.