Prabowo: Ekonomi Naik, Kemiskinan Bertambah, Kelas Menengah Turun

oleh -11 Dilihat
Prabowo: Ekonomi Naik, Kemiskinan Bertambah, Kelas Menengah Turun

KabarDermayu.com – Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai stabil dan menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.

Pernyataan ini disampaikan Prabowo dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 di ruang rapat paripurna DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu, 20 Mei 2026.

Prabowo mengungkapkan bahwa ekonomi Indonesia telah tumbuh rata-rata 5 persen per tahun selama tujuh tahun terakhir. Meskipun angka pertumbuhan ini terbilang baik, ia menilai bahwa pertumbuhan tersebut justru tidak sejalan dengan kondisi kelas menengah dan angka kemiskinan.

“Pertumbuhan kita dalam tujuh tahun terakhir memang baik, 5 persen tiap tahun. Selama tujuh tahun kali 5 persen, pertumbuhan kita 35 persen. Harusnya kita tambah kaya 35 persen,” tegas Prabowo.

Baca juga: Xi Jinping Kritisi Hukum Rimba di Tengah Konflik Timur Tengah Bersama Putin

Ia mengaku terkejut setelah menerima berbagai data ekonomi dalam beberapa minggu setelah menjabat sebagai presiden. Menurutnya, data tersebut menunjukkan bahwa angka kemiskinan justru mengalami peningkatan, sementara kelompok kelas menengah mengalami penurunan.

“Tapi apa yang terjadi? Angka rakyat kita yang miskin bertambah. Dari 46,1 persen naik jadi 49 persen. Yang kelas menengah turun,” ujarnya dengan nada prihatin.

Prabowo kemudian mempertanyakan secara mendalam mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ia mengajak semua pihak, mulai dari partai politik, organisasi masyarakat, hingga akademisi dan pakar ekonomi, untuk bersama-sama mencari jawaban atas persoalan ini secara ilmiah dan objektif.

“Saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas, semua pakar dan guru besar, bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinan meningkat?” jelasnya, menekankan urgensi untuk menemukan akar masalahnya.

Menurut Prabowo, persoalan ini kemungkinan besar disebabkan oleh arah sistem ekonomi nasional yang dinilainya belum tepat. Ia khawatir jika sistem yang ada terus dipertahankan, Indonesia berpotensi menjadi bangsa yang lemah dan selalu diliputi ketakutan dalam menghadapi tekanan ekonomi global.

“Kalau kita teruskan sistem seperti ini, tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur. Kita akan menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang selalu takut. Takut kurs dolar, takut BBM enggak cukup, takut ini takut itu. Bangsa yang takut, bangsa yang elitnya takut,” ujar Prabowo, menggambarkan konsekuensi dari sistem ekonomi yang keliru.

Ia menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar yang luar biasa, terutama berkat kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Namun, menurut dia, selama ini terjadi aliran keluar kekayaan nasional atau outflow of national wealth yang berlangsung sejak lama.

“Fakta juga telah menunjukkan bahwa telah terjadi mengalir keluarnya kekayaan kita sejak lama,” kata Prabowo, mengindikasikan adanya masalah struktural dalam pengelolaan kekayaan negara.