Rupiah Melemah ke Rp 17.741, Harga Pangan Naik Akibat Impor Tinggi RI

oleh -5 Dilihat
Rupiah Melemah ke Rp 17.741, Harga Pangan Naik Akibat Impor Tinggi RI

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan. Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah tercatat berada di level Rp 17.741 per dolar AS.

Posisi ini merupakan pelemahan sebesar 35 poin dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.706 per dolar AS. Pelemahan ini juga terlihat dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI.

Sebelumnya, pada Selasa, 19 Mei 2026, kurs rupiah tercatat di level Rp 17.719 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan 53 poin dari posisi Senin, 18 Mei 2026, yang berada di level Rp 17.666 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ini mulai menguji ketahanan harga pangan nasional. Ketergantungan Indonesia yang tinggi terhadap impor pangan menjadi faktor utama.

Tekanan pelemahan kurs rupiah berpotensi cepat merambat ke harga makanan yang dikonsumsi masyarakat. Komoditas seperti mi instan, roti, tahu-tempe, susu, hingga makanan olahan lainnya diperkirakan akan mengalami kenaikan harga pada semester II-2026.

Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk sejumlah komoditas pangan. Gandum, misalnya, seluruhnya dipenuhi dari impor. Kedelai sekitar 90 persen juga masih berasal dari luar negeri.

Selain itu, bawang putih mencapai 95 persen impor, gula sekitar 60 persen, serta daging sapi dan kerbau sekitar 54 persen masih dipenuhi dari impor.

Kondisi pelemahan rupiah secara otomatis meningkatkan biaya impor. Hal ini disebabkan mayoritas transaksi perdagangan internasional menggunakan dolar AS.

Peningkatan biaya impor ini berisiko menimbulkan kenaikan harga pangan di dalam negeri. Fenomena ini dikenal sebagai imported inflation atau inflasi impor.

Inflasi impor adalah tekanan inflasi yang timbul akibat pelemahan nilai tukar mata uang domestik dan tingginya ketergantungan terhadap barang-barang impor.

Transmisi pelemahan rupiah ke harga pangan konsumen bervariasi pada setiap komoditas. Untuk gandum dan kedelai, dampaknya bisa dirasakan dalam hitungan minggu. Hal ini karena industri pengolahan langsung berhadapan dengan kenaikan biaya bahan baku.

Kenaikan harga bahan baku ini kemudian ditransmisikan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga produk akhir. Tekanan kenaikan harga ini dinilai lebih cepat terasa pada produk olahan dibandingkan bahan baku mentah.

Baca juga: Prabowo: Pidato Kem PPKF Tidak Mempengaruhi Pelemahan Rupiah

Hal ini disebabkan adanya efek berantai yang memengaruhi biaya produksi, energi, distribusi, kemasan, dan logistik.

Dalam perkembangan lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak fluktuatif. Namun, pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.700—Rp 17.750,” ujar Ibrahim Assuaibi.

Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan penundaan serangan yang direncanakan terhadap Iran.

Trump menyatakan bahwa ada “peluang yang sangat baik” bagi AS untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Kesepakatan ini bertujuan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, beberapa jam setelah penundaan aksi militer diumumkan.

Konflik di Timur Tengah berpotensi menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengkonfirmasi bahwa posisi Teheran telah disampaikan kepada AS melalui Pakistan. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai isi proposal tersebut.

Seorang pejabat Pakistan, yang berbicara secara anonim, menyatakan bahwa Islamabad telah menyampaikan proposal baru antara kedua pihak. Ia juga mencatat bahwa kemajuan dalam negosiasi tersebut berjalan lambat.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Washington telah setuju untuk mencabut sanksi atas ekspor minyak Teheran selama negosiasi. Namun, seorang pejabat AS membantah klaim tersebut.

Dalam konteks domestik, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhammad Misbakhun menilai pidato Presiden RI Prabowo Subianto mengenai Kebijakan Ekonomi Makro dan Kerangka Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) tidak berkaitan dengan pelemahan rupiah.

Misbakhun berpendapat bahwa keputusan Presiden Prabowo untuk menyampaikan KEM PPKF secara langsung tidak memiliki kaitan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.