Bitcoin $76.000: Investor Ambil Untung, Waspada Koreksi

oleh -9 Dilihat
Bitcoin $76.000: Investor Ambil Untung, Waspada Koreksi

KabarDermayu.com – Harga Bitcoin mengalami penurunan signifikan dan kini diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 50 hari. Penurunan ini terjadi di tengah peningkatan arus keluar dana dari Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin dan melemahnya permintaan dari pasar Amerika Serikat.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan pada level US$76.745, atau setara dengan Rp1,36 miliar (menggunakan kurs Rp17.700 per dolar AS). Angka ini merupakan penurunan dari puncaknya bulan ini yang sempat menembus US$82.000, atau sekitar Rp1,45 miliar.

Menurut data dari TradingView pada Rabu, 20 Mei 2026, sumber utama tekanan harga Bitcoin berasal dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Instrumen investasi ini mencatat arus keluar dana yang cukup besar dalam beberapa hari terakhir.

Secara total, ETF Bitcoin mengalami outflow selama tiga hari berturut-turut. Arus keluar dana ini mencapai lebih dari US$1,2 miliar, atau sekitar Rp21,24 triliun dalam periode tersebut.

Pada hari perdagangan terakhir yang tercatat, arus keluar dana mencapai US$331 juta, atau sekitar Rp5,85 triliun. Angka ini menyusul penarikan dana besar yang juga terjadi sebelumnya.

Jika dilihat secara bulanan, ETF Bitcoin telah mencatat outflow sekitar US$727 juta, atau sekitar Rp12,87 triliun. Angka ini berbanding terbalik dengan kondisi awal bulan yang sempat mencatat inflow lebih dari US$1,6 miliar, atau sekitar Rp28,32 triliun.

Baca juga: DPR Yakin Rupiah Menguat Pasca Pidato Prabowo di KEM PPKF

Di sisi lain, Coinbase Premium Index juga terus menunjukkan tren negatif selama beberapa pekan terakhir. Hal ini mengindikasikan adanya pelemahan permintaan Bitcoin di Amerika Serikat jika dibandingkan dengan pasar global.

Di platform Coinbase, harga Bitcoin tidak lagi menunjukkan premi yang biasanya terlihat saat permintaan sedang kuat. Pasar derivatif juga mengalami pelemahan.

Open interest Bitcoin tercatat turun dari angka lebih dari US$60 miliar menjadi sekitar US$55 miliar. Penurunan ini menandakan bahwa posisi spekulatif para investor mulai berkurang.

Tekanan tambahan terhadap harga Bitcoin juga datang dari kondisi makroekonomi global. Kenaikan harga energi dan inflasi di Amerika Serikat telah memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga acuan akan dipertahankan tinggi lebih lama oleh bank sentral Federal Reserve.

Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi di Amerika Serikat mengalami kenaikan menjadi 3,8 persen. Sementara itu, indeks harga produsen mencapai angka 6 persen.

Kondisi inflasi yang tinggi ini secara umum memberikan tekanan pada aset-aset berisiko, termasuk aset kripto seperti Bitcoin.

Selain itu, investor juga dilaporkan mulai mengalihkan perhatian mereka ke pasar saham. Tren kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu pendorong utama aliran dana masuk ke sektor saham.

ETF besar seperti VOO dan IVV dilaporkan mencatat arus masuk dana yang signifikan sepanjang tahun ini. Di sisi lain, imbal hasil obligasi 30 tahun Amerika Serikat mengalami kenaikan di atas 5 persen.

Kenaikan imbal hasil obligasi ini membuat aset obligasi menjadi lebih menarik bagi para investor.

Dari sisi analisis teknikal, Bitcoin dilaporkan gagal bertahan pada pola rising wedge. Saat ini, harga Bitcoin berada di area rata-rata pergerakan 50 hari.

Jika harga Bitcoin menembus ke bawah level ini, ada potensi penurunan lebih lanjut. Harga berpotensi melemah hingga mencapai US$70.000, atau sekitar Rp1,24 miliar.

Secara keseluruhan, Bitcoin saat ini berada di bawah tekanan yang berasal dari arus keluar dana ETF. Ditambah lagi dengan pelemahan permintaan dari pasar Amerika Serikat dan kondisi makroekonomi yang kurang mendukung, aset berisiko ini turut terdampak.