KabarDermayu.com – Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memunculkan spekulasi tentang kemunculan AI yang mampu meningkatkan kemampuannya sendiri tanpa intervensi manusia.
OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, kini membuka peluang karir sebagai peneliti keamanan AI dengan tawaran gaji yang sangat menggiurkan. Posisi ini krusial untuk mengantisipasi potensi risiko dari teknologi AI yang bisa melakukan pengembangan diri.
Lowongan kerja ini dibuka oleh tim keamanan Preparedness OpenAI. Perusahaan menawarkan paket kompensasi tahunan mulai dari US$295 ribu hingga US$445 ribu. Jika dikonversikan dengan kurs Rp17.600 per dolar AS, angka ini setara dengan Rp5,19 miliar hingga Rp7,83 miliar.
Dalam deskripsi lowongan, OpenAI secara spesifik mencari individu dengan keahlian teknis mumpuni untuk mempersiapkan diri menghadapi fenomena recursive self-improvement. Kondisi ini merujuk pada kemampuan AI untuk secara mandiri mengembangkan versi yang lebih canggih dari dirinya sendiri.
“Tugas ini menuntut kemampuan untuk mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul di masa depan, meskipun belum ada saat ini,” demikian kutipan dari pengumuman lowongan OpenAI, seperti dilaporkan Business Insider pada Senin, 25 Mei 2026.
“Penilaian yang baik dan strategi yang matang sangatlah esensial bagi individu yang mengisi posisi ini,” imbuh pernyataan tersebut.
Isu mengenai AI yang mampu mengembangkan dirinya sendiri telah menjadi topik hangat dalam industri teknologi. Kemajuan signifikan yang ditunjukkan oleh model-model AI dari OpenAI maupun Anthropic membuat banyak pihak mulai mempertimbangkan kemungkinan ini secara serius.
Bahkan, CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, menyatakan bahwa umat manusia kini berada di ambang singularitas. Istilah ini menggambarkan titik krusial di mana AI mulai meningkatkan kecerdasannya sendiri hingga melampaui kemampuan intelektual manusia.
OpenAI sendiri dilaporkan tengah berupaya keras mewujudkan sistem riset AI yang sepenuhnya otomatis. CEO OpenAI, Sam Altman, pernah mengungkapkan ambisi perusahaannya untuk mengoperasikan program magang peneliti AI otomatis menggunakan ratusan ribu chip pada September mendatang.
Baca juga: Jutaan Peziarah Menuju Mina pada Hari Tarwiyah, Jemaah Haji Indonesia Langsung ke Arafah
Lebih lanjut, OpenAI menargetkan pencapaian “peneliti AI otomatis sejati” pada Maret 2028. “Ada kemungkinan kita gagal total mencapai target ini,” tulis Altman melalui platform X. “Namun, mengingat potensi dampak luar biasa yang bisa terjadi, kami merasa kepentingan publik menuntut kami untuk bersikap transparan mengenai hal ini.”
Laporan dari lembaga riset METR juga menggarisbawahi percepatan kemampuan model AI. Riset yang dipublikasikan pada Maret lalu menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan AI untuk menyelesaikan tugas-tugas kompleks terus berlipat ganda setiap kurang lebih tujuh bulan.
Hal ini mengindikasikan bahwa AI berpotensi mampu menangani sebagian besar pekerjaan pemrograman perangkat lunak, yang saat ini membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu bagi manusia.
Di sisi lain, pesatnya perkembangan ini juga memicu kekhawatiran terkait aspek keamanan AI. Sejumlah pihak menyuarakan keprihatinan bahwa AI yang mampu melakukan peningkatan diri secara mandiri dapat berkembang di luar jangkauan kendali manusia.
CEO METR, Elizabeth Barnes, berpendapat bahwa pengembangan AI seharusnya dilakukan dengan lebih hati-hati. “Peradaban yang bijaksana seharusnya bergerak jauh lebih lambat dan lebih berhati-hati dalam mengembangkan AI,” tulis Barnes.
Dalam detail lowongan pekerjaannya, OpenAI menjelaskan bahwa peneliti yang diterima akan memiliki fokus pada berbagai ancaman keamanan AI. Salah satunya adalah serangan data poisoning, yakni upaya untuk merusak model AI melalui manipulasi data pelatihan yang disengaja.
Karyawan pada posisi ini juga akan bertugas mengembangkan alat untuk memahami proses kognitif AI. Selain itu, mereka akan melakukan eksperimen guna mempelajari risiko dan tingkat keamanan dari model-model AI. OpenAI juga menyatakan bahwa peneliti akan berkontribusi dalam memantau evolusi otomatisasi pekerjaan teknis, termasuk mengukur pemanfaatan alat pemrograman berbasis AI.
Tim Preparedness OpenAI dibentuk dengan tujuan utama mencegah dampak negatif AI terhadap masyarakat. Tim ini juga menangani berbagai risiko lain, seperti ancaman siber, risiko biologis dan kimia, serta ancaman yang timbul dari AI otonom.





