Antonio Conte Napoli: Racun Mengintai, Siapkah Sang Pelatih?

oleh -5 Dilihat
Antonio Conte Napoli: Racun Mengintai, Siapkah Sang Pelatih?

KabarDermayu.com – Antonio Conte secara resmi mengakhiri masa baktinya bersama Napoli. Pelatih asal Italia ini mengonfirmasi kepergiannya setelah membawa Napoli meraih kemenangan 1-0 atas Udinese dalam laga penutup Serie A musim ini.

Kemenangan tersebut memastikan Napoli finis di posisi kedua klasemen Serie A. Namun, di balik pencapaian itu, Conte mengungkapkan bahwa ia tidak lagi merasa nyaman berada di Stadio Diego Armando Maradona.

Mantan pelatih Chelsea dan Tottenham Hotspur ini bahkan menyebut adanya terlalu banyak “racun” di lingkungan klub.

“Saya gagal dalam satu hal. Saya tidak mampu menyatukan Napoli sepenuhnya, dan jika Anda tidak bisa melakukan itu, akan sulit bersaing melawan tim lain,” ujar Conte.

Conte bergabung dengan Napoli pada awal musim 2024/2025 dan langsung memberikan dampak signifikan. Ia berhasil membawa klub meraih gelar Serie A keempat dalam sejarah mereka, mengungguli Inter Milan.

Namun, musim keduanya berjalan jauh lebih sulit. Napoli gagal melaju dari fase grup Liga Champions dan tertinggal 11 poin dari Inter di Serie A.

Meskipun demikian, Conte menegaskan bahwa masalah utamanya bukan semata-mata hasil di lapangan.

“Saya melihat terlalu banyak racun, dan mereka yang menyebarkannya adalah pecundang. Napoli tidak membutuhkan orang-orang seperti itu, orang yang hanya mencari perhatian dan ‘like’,” tegasnya.

“Napoli membutuhkan orang-orang serius yang benar-benar mencintai tim, sama seperti suporter yang membeli tiket untuk mendukung klub.”

Baca juga: Ledakan Pabrik Kimia Cilegon Sebabkan Gangguan Pernapasan, BPBD Bergerak

Conte merasa atmosfer di sekitar klub sudah tidak sehat dan sulit untuk diperbaiki.

“Saya gagal dalam hal itu, dan saya sadar tidak akan pernah bisa menyatukan lingkungan ini. Bagi saya itu sangat penting, jadi saya memilih menyerah.”

Pelatih berusia 56 tahun itu juga mengungkapkan bahwa kekalahan 2-3 dari Bologna menjadi titik balik yang membuatnya yakin harus pergi.

“Setelah laga melawan Bologna, saya merasakan banyak situasi yang tidak saya sukai. Dan untuk mengatakan itu semua, dibutuhkan keberanian.”

Conte menegaskan bahwa dirinya tidak pernah ingin menjalani musim tanpa arah atau sekadar bertahan demi status.

“Saya tidak pernah menjalani musim yang anonim, dan saya tidak akan pernah melakukannya.”

Ia juga mengakui adanya masalah internal di ruang ganti setelah beberapa pemain baru gagal menyatu dengan skuad lama.

“Beberapa pemain baru tidak menyatu dengan grup lama, dan tercipta dinamika yang sangat sulit.”

Bahkan, jauh sebelum musim berakhir, Conte mengaku sudah memberi sinyal kepada presiden klub bahwa perjalanannya di Napoli hampir selesai.

“Saya menelepon presiden sekitar satu bulan lalu dan mengatakan bahwa saya merasa perjalanan saya di sini akan segera berakhir. Keputusan ini datang dari saya sendiri,” ungkap Conte.

Kepergian dari Napoli membuat Conte kembali melanjutkan pola unik dalam karier kepelatihannya. Lima pekerjaan terakhirnya selalu berakhir setelah dua musim, termasuk saat menangani Juventus, Chelsea, Inter, hingga Tottenham.

Menariknya, di Chelsea, Inter, dan Napoli, Conte selalu berhasil mempersembahkan gelar liga sebelum akhirnya pergi akibat hubungan yang memanas dengan internal klub.

Di sisi lain, Conte juga buka suara soal peluang menangani Timnas Italia usai kegagalan Gli Azzurri lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.

Ia menegaskan belum ada pembicaraan apa pun dengan federasi sepak bola Italia.

“Tidak ada apa-apa antara saya dan Federasi Italia soal posisi pelatih timnas. Sama sekali belum ada,” kata Conte.

Sebaliknya, ia justru melontarkan nama Pep Guardiola sebagai sosok ideal untuk menangani Italia setelah meninggalkan Manchester City.

“Kalau saya harus menyebut satu nama, saya akan memilih Pep Guardiola. Tapi apakah federasi punya dana untuk mewujudkannya? Itu pertanyaan besar,” tutup Conte.