KabarDermayu.com – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diprediksi akan menyebabkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran di dunia kerja dalam beberapa tahun mendatang.
Sebuah laporan terbaru dari Mercer mengungkapkan bahwa hampir seluruh CEO yang disurvei siap untuk melakukan pengurangan tenaga kerja akibat implementasi AI. Laporan bertajuk Global Talent Trends 2026 tersebut menyatakan 99 persen CEO meyakini inisiatif AI di perusahaan mereka berpotensi memicu PHK dalam dua tahun ke depan.
Mayoritas eksekutif perusahaan meyakini bahwa perubahan sistem kerja yang berbasis otomatisasi akan memberikan keuntungan bisnis yang signifikan. Namun, hanya 32 persen dari mereka yang yakin bahwa tenaga kerja manusia dan mesin saat ini dapat bekerja sama secara optimal.
Dunia korporasi tengah berlomba untuk mengadopsi AI sebagai pendorong keuntungan baru. Banyak perusahaan teknologi, terutama yang berpusat di Silicon Valley, mulai mengklaim bahwa penggunaan AI telah meningkatkan efisiensi perusahaan, sehingga pengurangan karyawan dianggap sebagai langkah yang diperlukan.
Meskipun demikian, beberapa ahli masih meragukan apakah penggunaan AI benar-benar menghasilkan peningkatan produktivitas sebesar yang dijanjikan. Bahkan, ada pandangan bahwa narasi ancaman AI terhadap pekerjaan sengaja dibesar-besarkan oleh industri teknologi untuk mendorong penjualan produk AI mereka, seperti dikutip dari Gizmodo pada Selasa, 26 Mei 2026.
Kelompok pekerja muda juga diperkirakan akan menjadi pihak yang paling terdampak oleh tren ini. Survei lain dari sebuah perusahaan konsultan menunjukkan bahwa sebagian besar pengurangan tenaga kerja akibat AI kemungkinan akan menyasar posisi entry level atau pekerja di tahap awal karier.
Alasan utamanya adalah AI dinilai sangat efektif dalam mengotomatisasi tugas-tugas sederhana yang biasanya dikerjakan oleh pegawai junior sebagai bagian dari proses belajar dan pengembangan karier mereka. Namun, banyak perusahaan kini lebih tertarik menggunakan chatbot AI yang dapat bekerja sepanjang waktu dibandingkan dengan melatih generasi pekerja baru.
Dampak dari kondisi ini disebut sudah mulai terasa di pasar tenaga kerja global. Sejumlah studi yang dipublikasikan dalam setahun terakhir menunjukkan bahwa AI mulai memengaruhi peluang kerja bagi lulusan baru dan pekerja muda.
Situasi ini membuat pasar kerja bagi kelompok usia 22 hingga 27 tahun disebut sebagai yang terburuk sejak masa pandemi COVID-19. Banyak anak muda juga mulai merasa pesimistis terhadap masa depan mereka akibat perkembangan AI yang sangat pesat.
Sebuah studi terbaru bahkan menemukan bahwa penggunaan AI oleh generasi Z mulai melambat karena meningkatnya rasa cemas dan kemarahan terhadap teknologi tersebut.
Sentimen negatif terhadap AI juga mulai meluas ke kelompok usia lainnya. Jajak pendapat yang dilakukan NBC News pada Maret lalu menunjukkan bahwa tingkat ketidaksukaan publik terhadap AI bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan lembaga Immigration and Customs Enforcement Agency (ICE) di Amerika Serikat, yang sebelumnya juga menuai kontroversi besar.
Selain ancaman PHK, laporan Mercer juga mengungkap bahwa kondisi psikologis pekerja ikut memburuk akibat kekhawatiran terhadap AI. Hanya 44 persen pekerja yang mengaku merasa berkembang di tempat kerja pada tahun 2026, sebuah penurunan signifikan dibandingkan dengan 66 persen pada tahun 2024.
Mercer menyebutkan bahwa kecemasan terkait potensi kehilangan pekerjaan karena AI menjadi salah satu penyebab utama penurunan ini. Fenomena stres dan kecemasan akibat ancaman AI ini bahkan mulai memunculkan istilah baru di kalangan peneliti, yaitu “AI replacement dysfunction” atau AIRD.
Baca juga: Transjakarta Beroperasi Pukul 9 Pagi saat Libur Idul Adha
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan tekanan mental dan rasa tidak aman yang dialami pekerja karena ketakutan akan digantikan oleh teknologi AI di masa depan. Meskipun perkembangan AI dipandang mampu meningkatkan efisiensi perusahaan, perdebatan mengenai dampaknya terhadap lapangan kerja diperkirakan akan terus menjadi perhatian besar dalam beberapa tahun mendatang.





