KabarDermayu.com – Dunia akademisi Indonesia tengah digemparkan oleh isu skandal pemalsuan dan fabrikasi riset yang diduga dilakukan oleh sejumlah peneliti asal Indonesia. Kejadian ini terungkap di Konferensi Internasional Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026 yang diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark.
Informasi mengenai skandal ini pertama kali mencuat melalui unggahan di akun Instagram milik Ida Bagus Mandhara Brasika. Unggahan tersebut menyoroti bagaimana tindakan segelintir orang dapat merusak nama baik Indonesia di mata komunitas ilmiah internasional.
Dalam unggahan tersebut, terungkap bahwa salah satu pelaku diduga melakukan pemalsuan identitas. Modusnya adalah dengan mengganti-ganti nama saat presentasi, hanya dengan mengganti hijab dan nametag yang dikenakannya.
Lebih serius lagi, riset yang dipresentasikan oleh peserta tersebut juga diduga kuat dipalsukan. Disebutkan bahwa penelitian tersebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan/atau fabrikasi data agar terlihat meyakinkan, padahal riset tersebut diduga tidak pernah benar-benar dilakukan.
Data, gambar, hingga isi tulisan dalam abstrak penelitian tersebut bahkan diduga merupakan hasil rekayasa AI. Hal ini diperkuat dengan adanya temuan bahwa dua riset berbeda memiliki kesimpulan yang identik, yang semakin menimbulkan kecurigaan.
Pemilik akun Instagram tersebut mengaku telah mencoba mengonfirmasi langsung kepada salah satu terduga pelaku. Namun, ketika diminta untuk menjelaskan detail poster penelitiannya, pelaku tidak dapat memberikan penjelasan yang memadai.
Pelaku bahkan mengaku bahwa seluruh abstrak penelitian mereka “digenerate” oleh pemimpin mereka yang bernama Rifadly Fajar. Hal ini terlihat jelas dari poster-poster riset yang dipresentasikan.
Beberapa poin krusial lain yang disorot terkait riset yang diduga dipalsukan meliputi lokasi penelitian yang tidak masuk akal. Lokasi-lokasi tersebut antara lain Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, dan India Utara.
Yang menjadi sorotan adalah bahwa dalam riset-riset tersebut, seluruh peneliti yang terlibat berasal dari Indonesia, tanpa adanya kolaborator lokal dari negara tempat penelitian dilakukan.
Selain itu, tidak ada keterangan mengenai persetujuan etik yang diperoleh untuk penelitian tersebut. Ini menjadi poin penting dalam standar penelitian ilmiah internasional.
Poin lain yang juga dipermasalahkan adalah afiliasi organisasi yang diduga dipalsukan. Kelompok riset seperti AI-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation yang beralamat di Jakarta, Indonesia, tidak dapat ditemukan keberadaannya.
Diduga kuat, pemalsuan ini dilakukan secara terorganisir dengan tujuan utama untuk mendapatkan dana hibah (grant) atau penghargaan dari ajang-ajang ilmiah yang diikuti. Selain itu, pelaku juga diduga memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan fasilitas perjalanan ke luar negeri secara gratis.
Dengan cara ini, pelaku dikabarkan mendapatkan dana travel grant yang memungkinkan mereka bepergian ke luar negeri tanpa biaya pribadi. Namun, “biaya” sebenarnya dibayar oleh nama baik Indonesia yang tercoreng di mata ilmuwan dunia.
Lebih miris lagi, berdasarkan penelusuran pihak pengunggah, insiden ini diduga bukan kali pertama terjadi. Pelaku disebut telah beberapa kali berhasil memperoleh travel grant maupun penghargaan dalam konferensi internasional.
Unggahan tersebut juga menyertakan sejumlah foto yang diduga menunjukkan pelaku saat mengikuti konferensi di berbagai negara, termasuk Jepang pada tahun 2025 lalu.
Baca juga: Video Viral Pocong Jadi-jadian: Fakta Resahkan Warga Indramayu
Skandal pemalsuan ini akhirnya terungkap. Dampaknya sangat fatal, tidak hanya bagi pelaku individu, tetapi juga bagi seluruh peneliti Indonesia yang harus menanggung akibatnya. Kredibilitas Indonesia di dunia ilmiah internasional kini patut dipertanyakan.





