Megawati Hangestri: Perjuangan dan Rahasia Comeback V-League Korea

oleh -5 Dilihat
Megawati Hangestri: Perjuangan dan Rahasia Comeback V-League Korea

KabarDermayu.com – Bintang voli Indonesia, Megawati Hangestri, dipastikan kembali meramaikan V-League musim 2026/2027. Keputusannya untuk kembali ke Liga Voli Korea Selatan disambut antusias oleh para penggemar, terutama setelah ia terpilih sebagai pemain kuota Asia oleh Hyundai Hillstate.

Keputusan ini mengakhiri spekulasi yang sempat beredar mengenai kepindahan Megawati ke Red Sparks. Hyundai Hillstate rupanya telah lama mengincar Megawati, melihat potensinya untuk memperkuat lini serang mereka.

Performa impresif Megawati selama dua musim bersama Red Sparks menjadi pertimbangan utama Hyundai Hillstate. Namun, proses perekrutan tidak berjalan mulus. Kondisi lutut Megawati sempat menjadi perhatian serius manajemen klub.

Untuk memastikan kesiapannya, Hyundai Hillstate bahkan mengirim pelatih Kang Sung-hyung langsung ke Indonesia. Kunjungan ini bertujuan untuk memantau kondisi fisik Megawati secara langsung sebelum kontrak resmi disepakati.

Hasil pertemuan tersebut sangat positif, memperkuat keyakinan Hyundai Hillstate untuk merekrut pemain berusia 25 tahun itu. Media Korea Selatan, My Daily, turut mengungkap informasi mengenai jadwal kedatangan Megawati.

“Pemain kuota Asia dapat bergabung dengan tim masing-masing mulai 1 Juli. Perhatian juga terfokus pada apakah Mega, yang kembali ke Korea setelah setahun, akan mengunjungi Jecheon untuk mendukung tim nasional Indonesia,” tulis My Daily.

Informasi ini membuka peluang Megawati untuk segera bertolak ke Korea Selatan, bahkan sebelum jadwal resmi bergabung dengan klub dimulai. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube ASEAN-Korea Centre, Megawati menceritakan awal mula keputusannya menerima tantangan bermain di Liga Voli Korea.

“Awalnya karena ada Asia draft ya, pertama kali di Korea dan agen aku ngasih tawaran, ‘Mau nggak main di Korea untuk memperbanyak pengalaman dan menimbah ilmu’,” ungkapnya.

Mega mengakui sempat ragu untuk meninggalkan Indonesia dalam waktu yang cukup lama. Ia sempat berpamitan kepada ibunya untuk meminta izin.

“Awalnya ragu karena lama banget kan sembilan bulan, dan akhirnya aku pamit ke mama dan bertanya boleh nggak main di Korea, tapi lama mainnya, kata Mama berangkat aja buat pengalaman,” ujarnya.

Dengan dukungan penuh dari keluarga, Megawati akhirnya memutuskan mengikuti Asia Draft. Namun saat itu, ia tidak terlalu percaya diri bisa terpilih karena persaingan yang sangat ketat.

“Sepertinya gagal, karena saingannya banyak dari negara-negara lain, apalagi Thailand mungkin terkenal volinya di AVC atau di Asia, selain Korea,” terangnya.

“Indonesia bagus, cuma pengalamannya kan kurang menurut aku daripada Thailand. Jadinya pesimis kayaknya gak bisa nih, ternyata namaku ada,” ucapnya antusias.

Megawati juga membagikan pengalamannya mengenai perbedaan antara Liga Voli Korea dan kompetisi di kawasan Asia Tenggara. Ia merasa perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan karena masih berada dalam lingkup Asia.

“Menurutku perbedaannya nggak, karena kita masih di lingkup Asia. Mungkin dengan cara latihannya lebih padat sama waktunya, lebih padat porsinya, lebih banyak,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pada awalnya ia terkejut dengan intensitas latihan di Korea Selatan. Namun, seiring waktu, ia berhasil beradaptasi.

“Jadi pas awal aku di sini kaget, wah berat banget ya (latihannya), menurut aku berat tapi lama kelamaan udah terbiasa,” ujarnya.

Meskipun intensitas latihan lebih tinggi, Megawati menilai atmosfer pertandingan tidak jauh berbeda. Antusiasme suporter dalam mendukung tim kesayangan tetap terasa besar, sama seperti yang ia rasakan di negara lain.

Selain itu, Megawati juga mengungkap rahasia yang membuat dirinya mampu beradaptasi dengan cepat selama tinggal di Korea Selatan. Ia mengandalkan sifatnya yang suka mengobrol dan santai.

“Sebenarnya nggak ada cara yang sangat signifikan sih menurut aku, karena aku orangnya suka ngobrol, orangnya santai. Jadi mungkin dari situ jadi kebiasaan enjoy dalam keseharian aku,” imbuhnya.

“Aku tipenya, aku ngajak ngobrol mereka (pemain lain) jadi akrabnya lebih cepat, dan aku lebih bisa beradaptasi dengan cepat di Korea,” jelasnya.

Ketika ditanya mengenai masa paling berat selama berkarier di Korea Selatan, Mega menyebut periode pramusim sebagai fase yang paling menguras tenaga.

“Latihan sebelum V-League dimulai, yang bulan Oktober, atau bulan Juli, Agustus, September. Yang itu menurut aku hari-hari yang sangat berat setiap harinya,” tuturnya.

Untuk mengatasi kelelahan tersebut, Mega memilih memanfaatkan waktu libur dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan, seperti jalan-jalan.

“Cara untuk mengatasinya, kalau dapat free day atau lagi off latihannya, sebisa mungkin jalan-jalan biar me-refreshing otaknya,” kata Mega.

Tak hanya mendapatkan pengalaman baru, Megawati juga merasakan banyak perubahan positif pada dirinya selama berlatih dan berkompetisi di Korea Selatan. Ia merasakan peningkatan fisik yang signifikan.

“Setelah melakukan latihan, dan kehidupan di Korea, berubah mungkin dari Indonesia ke Korea. Perubahan latihan, dan aku merasa ototku makin banyak, body fit aku semakin turun, dan first time in my life latihan seperti ini, itu aja sih keuntungannya,” pungkas Mega.

Menurutnya, peningkatan fisik tersebut turut berdampak pada perkembangan kemampuannya sebagai pemain voli profesional.

“Skill aku jadi bisa bertambah di sini, ternyata aku bisa mengembangkan skill aku di sini,” tambahnya.

Pengalaman berkarier di Liga Voli Korea pun menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan Megawati Hangestri. Kompetisi tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas permainan, tetapi juga membentuk fisik dan mentalnya, menjadikannya salah satu pemain voli terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini.