Chatib Basri Buka Suara: Kabar Jadi Menkeu Gantikan Purbaya

oleh -7 Dilihat
Chatib Basri Buka Suara: Kabar Jadi Menkeu Gantikan Purbaya

KabarDermayu.com – Ekonom senior yang juga mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, angkat bicara mengenai isu yang beredar bahwa dirinya akan dilantik sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.

Saat ditemui awak media usai menghadiri acara Grab Business Forum di kawasan Sudirman, Jakarta, Chatib Basri mengaku tidak mengetahui informasi tersebut.

“Enggak tahu saya,” ujar Chatib Basri singkat sambil bergegas menuju mobilnya pada Selasa, 9 Juni 2026.

Sebelumnya, dalam forum yang sama, Chatib Basri sempat menyampaikan pandangannya mengenai tugas Menteri Keuangan. Menurutnya, meskipun tugas tersebut fundamental dalam mengelola keuangan negara, secara teknis pelaksanaannya terbilang sederhana.

Ia menjelaskan bahwa seorang Menteri Keuangan hanya memiliki tiga opsi utama dalam mengelola neraca keuangan negara, yaitu menaikkan pendapatan, memotong anggaran, atau meminjam dana.

“Tugas dari Menteri Keuangan itu sebetulnya sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal: naikkan, potong, pinjam,” tuturnya.

“Sesimpel itu. Karena ini balance sheet enggak bisa diapa-apain,” tambahnya.

Meskipun demikian, Chatib Basri menekankan bahwa implementasi dari ketiga opsi tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan, terutama dalam kondisi perekonomian saat ini.

Menaikkan pajak untuk mendongkrak pendapatan negara bukanlah pilihan yang bijak karena dapat melemahkan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, menambah utang juga diakuinya memiliki risiko yang tinggi, mengingat tingginya suku bunga global yang turut mendongkrak biaya dana.

Oleh karena itu, Chatib Basri berharap pemerintah dapat melakukan rasionalisasi anggaran secara progresif. Hal ini bisa mencakup pemangkasan subsidi yang tidak tepat sasaran atau yang kurang memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Menurutnya, upaya ini akan lebih realistis untuk menyehatkan kondisi fiskal tanpa membebani struktur utang dalam jangka panjang.

“Lalu, apa dalam situasi ini pajak harus dinaikkan, atau misalnya utang ditambah? Karena kalau mau pinjam atau mau ngutang itu, sekarang ini cost of fund-nya sudah sangat mahal,” pungkasnya.