Pertamina Pride Lintasi Selat Hormuz: Kronologi Lengkap

oleh -6 Dilihat
Pertamina Pride Lintasi Selat Hormuz: Kronologi Lengkap

KabarDermayu.com – Kapal tanker Pertamina Pride, yang merupakan bagian dari armada PT Pertamina International Shipping (PIS), akhirnya berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat. Keberhasilan ini menandai berakhirnya penahanan kapal tersebut yang telah berlangsung sejak Maret lalu, memungkinkan kapal untuk kembali beroperasi normal.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, mengonfirmasi bahwa Pertamina Pride telah keluar dari area Teluk Arab dan berhasil melintasi jalur strategis tersebut. Kepastian ini muncul setelah kapal tanker Gamsunoro, yang juga berada di bawah pengelolaan PIS, sebelumnya telah berhasil keluar dari wilayah yang sama.

Vega menambahkan bahwa keberhasilan kedua kapal tersebut sangat berarti, memungkinkan mereka untuk melanjutkan perjalanan dan menjalankan tugas operasionalnya sebagaimana mestinya. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi ketahanan energi nasional yang bergantung pada kelancaran distribusi pasokan minyak.

Perjalanan Pertamina Pride melalui Selat Hormuz dimulai pada Selasa, 7 Juli 2026, pukul 13.00 waktu Dubai atau 16.00 WIB. Setelah melewati area yang dinilai kritis, kapal tersebut berhasil menembus Selat Hormuz pada Rabu, 8 Juli 2026, pukul 00.15 WIB.

Keberhasilan ini bukan hanya sekadar melintasi jalur pelayaran, tetapi juga menjadi bukti nyata dari efektivitas mitigasi risiko dan pemantauan operasional yang telah dilakukan oleh PIS. Langkah-langkah proaktif tersebut terbukti mampu menjaga keselamatan pelayaran di tengah kompleksitas dan dinamika kawasan Teluk Persia yang seringkali bergejolak.

PIS pun menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan. Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya, turut berperan penting dalam memastikan kelancaran operasi ini.

Proses pengambilan keputusan untuk melintasi Selat Hormuz bagi Pertamina Pride, sama seperti Gamsunoro, melibatkan kajian dan penilaian risiko yang sangat mendalam. Puluhan persyaratan ketat harus dipenuhi, mencakup berbagai aspek krusial seperti:

  • Asuransi yang memadai.
  • Kelayakan teknis dan operasional kapal.
  • Tindakan keamanan yang komprehensif.
  • Kesiapan dan pelatihan awak kapal.

Setelah semua kajian tersebut selesai dan dinilai memenuhi standar keamanan, barulah keputusan untuk memberangkatkan kapal dari Teluk Arab diambil. Selama pelayaran, kapal tersebut dipantau secara ketat selama 24 jam penuh.

Tim di darat yang bersiaga di crisis center PIS terus berkoordinasi dengan awak kapal di laut. Komunikasi yang intens ini bertujuan untuk memastikan setiap pergerakan kapal terpantau dan setiap potensi risiko dapat segera diatasi, demi menjaga keselamatan pelayaran.

Vega menegaskan bahwa seluruh awak kapal Pertamina Pride dilaporkan dalam kondisi aman dan selamat. Kapal tanker berkapasitas 2 juta barel minyak mentah ini selanjutnya akan melanjutkan perjalanannya menuju Cilacap. Tujuannya adalah untuk mendistribusikan muatannya, yang krusial dalam menjaga ketahanan energi nasional Indonesia.

Perkiraan waktu tempuh perjalanan Pertamina Pride dari Selat Hormuz menuju Cilacap adalah sekitar 15 hari. Kapal ini dijadwalkan akan tiba di Indonesia pada tanggal 23 Juli mendatang.

PIS berkomitmen untuk terus memantau situasi keamanan di jalur pelayaran internasional secara intensif. Koordinasi berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan akan terus dilakukan guna menjamin keselamatan awak kapal, keamanan muatan, serta kelancaran distribusi energi bagi bangsa Indonesia.

“PIS menyampaikan terima kasih atas doa, dukungan, dan perhatian dari seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan sehingga kedua kapal, Gamsunoro dan Pertamina Pride dapat berlayar keluar dari Selat Hormuz,” ujar Vega.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran yang sangat vital bagi perdagangan minyak dunia. Kawasan ini seringkali menjadi sorotan karena dinamika geopolitik yang tinggi, termasuk ancaman penutupan selat oleh Iran dalam situasi tertentu, seperti yang pernah diutarakan terkait dengan potensi serangan AS.