Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Raih Sertifikasi Terminal Hijau Pertama di Dunia

oleh -9 Dilihat
Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Raih Sertifikasi Terminal Hijau Pertama di Dunia

KabarDermayu.com – PT Pertamina (Persero) baru saja menorehkan sejarah baru dalam industri energi global dengan menjadikan Terminal LPG Tanjung Sekong sebagai fasilitas pertama di dunia yang meraih sertifikasi Green Terminal Label Certification (GTLC) bintang 2.

Pencapaian prestisius ini diberikan oleh Bureau Veritas (BV) sebagai pengakuan atas komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan operasional terminal energi dengan standar keberlanjutan yang ketat. Terminal yang dikelola oleh anak usaha PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni PT Pertamina Energy Terminal (PET), ini dinilai berhasil memenuhi berbagai indikator lingkungan, keselamatan, dan tata kelola yang kompleks.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengungkapkan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar gelar, melainkan bukti nyata transformasi Pertamina dalam membangun bisnis yang ramah lingkungan. “Ini menjadi kebanggaan bagi Indonesia, karena untuk pertama kalinya terminal LPG mendapatkan predikat Green Terminal Label bintang 2 di skala global,” ujar Agung dalam keterangan resminya pada Rabu (5/8/2026).

Mengapa Sertifikasi Ini Begitu Penting?

Secara strategis, standar Green Terminal biasanya lebih banyak diterapkan pada pelabuhan umum atau terminal peti kemas. Namun, Pertamina berhasil membuktikan bahwa fasilitas dengan risiko tinggi seperti penyimpanan LPG pun mampu beroperasi dengan standar keberlanjutan yang tinggi.

Penerapan sertifikasi ini mencakup poin-poin krusial dalam operasional terminal, di antaranya:

  • Efisiensi penggunaan energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
  • Penerapan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (HSE) yang ketat.
  • Penguatan tata kelola perusahaan (good governance) dan keunggulan operasional.
  • Integrasi komitmen pemangku kepentingan dalam keberlanjutan program perusahaan.

Inovasi Energi Hijau di Tanjung Sekong

Salah satu faktor penentu keberhasilan Terminal LPG Tanjung Sekong adalah inovasi dalam transisi energi. Terminal ini kini mulai mengintegrasikan energi terbarukan melalui pemanfaatan tenaga surya. Tidak berhenti di situ, Pertamina juga tengah menyiapkan rencana strategis penggunaan hidrogen hijau sebagai bahan bakar masa depan.

Hidrogen tersebut rencananya akan disuplai dari fasilitas produksi berbasis panas bumi yang dikembangkan oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. di Ulubelu, Lampung. Dengan menggunakan teknologi elektrolisis Anion Exchange Membrane (AEM), produksi hidrogen hijau ini diharapkan dapat meningkatkan porsi energi bersih secara signifikan dalam kebutuhan listrik operasional terminal.

Proses Audit yang Ketat

Perjalanan menuju sertifikasi ini telah dimulai sejak 11 Februari 2026 melalui serangkaian tahapan intensif, mulai dari gap assessment hingga audit final pada Juli 2026. Terminal LPG Tanjung Sekong berhasil mengumpulkan skor 78,86% dari audit independen yang dilakukan oleh Bureau Veritas.

Joko Prakoso, selaku Industry Director Bureau Veritas Southeast Asia, menegaskan bahwa penilaian ini dilakukan berdasarkan bukti data lapangan yang nyata. “Sebagai terminal LPG pertama di dunia yang meraih sertifikasi ini, Tanjung Sekong telah menetapkan tolok ukur baru bagi industri energi global,” kata Joko.

Target Masa Depan Pertamina

Keberhasilan di Tanjung Sekong hanyalah permulaan. Pertamina berencana mereplikasi konsep “Green Terminal” ini ke fasilitas-fasilitas strategis lainnya di seluruh Indonesia. Beberapa lokasi yang masuk dalam target berikutnya adalah:

  • Terminal LPG Tuban
  • Fuel Terminal Baubau
  • Fuel Terminal Kotabaru
  • Integrated Terminal Tanjung Uban

Sebagai informasi, Terminal LPG Tanjung Sekong yang berlokasi di Cilegon, Banten, memiliki peran vital dalam rantai pasok nasional. Dengan kapasitas penyimpanan mencapai 98.000 MT, terminal ini mampu memenuhi sekitar 35 hingga 40 persen kebutuhan LPG nasional. Melalui inisiatif ini, Pertamina tidak hanya memperkuat keamanan energi dalam negeri, tetapi juga menunjukkan keseriusan dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060.

“Pencapaian ini membuktikan bahwa operasional yang andal dan berkelanjutan dapat berjalan beriringan. Kami ingin menjadikan ini sebagai referensi bagi seluruh unit bisnis Pertamina Group ke depannya,” tutup Agung Wicaksono.