Muktamar NU ke-35 Diharapkan Bebas Kepentingan Politik

oleh -9 Dilihat
Muktamar NU ke-35 Diharapkan Bebas Kepentingan Politik

KabarDermayu.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) diminta untuk bebas dari berbagai kepentingan politik praktis dan orientasi ekonomi yang dapat merusak nilai-nilai luhur organisasi. Penegasan ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang, KH Achmad Rosikh Roghibi, atau yang akrab disapa Gus Rosikh.

Gus Rosikh menekankan bahwa Muktamar seharusnya menjadi forum permusyawaratan tertinggi NU yang sakral. Forum ini harus diisi dengan semangat keikhlasan dan tanggung jawab keumatan, bukan menjadi ajang perebutan kekuasaan atau transaksi yang berorientasi pada keuntungan materi.

“NU ini berdiri di atas fondasi perjuangan para ulama. Kalau Muktamar sudah disusupi kepentingan politik dan kepentingan materi, maka arah perjuangan NU akan menyimpang dari khittahnya,” ujar Gus Rosikh dalam sebuah keterangan, Selasa, 28 April 2026.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya mengembalikan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kepada dzuriyah muasis. Dzuriyah muasis, yang merupakan keturunan para pendiri NU, dinilai memiliki kedekatan historis, kultural, dan spiritual dengan nilai-nilai dasar organisasi.

“Sudah saatnya PBNU kembali dipimpin oleh dzuriyah muassis yang memahami betul ruh perjuangan NU. Ini bukan soal eksklusivitas, tapi soal menjaga kesinambungan nilai dan amanah para pendiri,” tegas Gus Rosikh.

Ia juga mengingatkan bahwa dominasi kepentingan politik dalam tubuh NU dapat menimbulkan polarisasi di kalangan warga nahdliyin. Hal ini berpotensi mengikis kepercayaan publik terhadap independensi organisasi.

Gus Rosikh mengajak seluruh elemen NU untuk bersama-sama menjaga marwah Muktamar agar tetap bersih, jujur, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Ia berharap proses kepemimpinan di PBNU ke depan benar-benar mencerminkan integritas, kapasitas, hingga keilmuan.

Dominasi kepentingan politik dalam organisasi berpotensi menjauhkan NU dari khittahnya sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah. Menurut Gus Rosikh, hal ini dapat berdampak pada melemahnya kepercayaan warga nahdliyin terhadap kepemimpinan organisasi.

“PBNU harus kembali ke pesantren, kembali ke ulama yang benar-benar hidup dalam tradisi keilmuan dan pengabdian. Jangan sampai NU hanya menjadi alat kepentingan kekuasaan,” tegasnya.

Ia kembali mengajak seluruh elemen warga NU untuk menjaga integritas Muktamar sebagai forum yang bermartabat. Gus Rosikh mendorong agar proses pemilihan kepemimpinan dilakukan secara jujur, transparan, dan berlandaskan pada kapasitas keilmuan serta keteladanan, bukan semata-mata kekuatan modal.

Baca juga di sini: Antisipasi Kekeringan di Jawa Barat, Indramayu Jadi Titik Fokus

Dengan demikian, Gus Rosikh berharap NU dapat tetap menjadi pilar utama dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang moderat. Organisasi ini diharapkan terus berperan sebagai penyejuk di tengah dinamika sosial dan politik bangsa.