Perjuangan Pelari Indonesia, Yad dan Irma, Raih Prestasi Lewat Perjalanan Panjang

by -4 Views
Perjuangan Pelari Indonesia, Yad dan Irma, Raih Prestasi Lewat Perjalanan Panjang

KabarDermayu.com – Bagi Yad Hapizudin dan Irma Handayani, berlari bukan sekadar tentang mencapai garis finis. Ini adalah sebuah perjalanan panjang yang melibatkan pembangunan konsistensi, pengujian mental, dan dorongan untuk terus melampaui batas diri.

Yad dan Irma adalah dua pelari kebanggaan Indonesia yang mendapatkan dukungan dari PUMA. Keduanya secara konsisten menunjukkan performa gemilang di berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Yad, yang berasal dari Lombok Timur, telah mengukuhkan dirinya sebagai spesialis nomor 1.500 meter. Prestasinya terbaru adalah meraih medali emas di Singapore Open Track and Field Championships 2026. Tak hanya itu, ia juga memegang rekor nasional untuk kategori U-20 dan mencatatkan waktu impresif 15 menit 8 detik untuk nomor 5 km dalam Adhyaksa International Run 2026.

Sementara itu, Irma Handayani, seorang pelari maraton asal Kalimantan Timur, terus menjaga performanya di level tertinggi. Ia telah berpartisipasi dalam berbagai lomba prestisius, termasuk Daegu Marathon 2026 di Korea Selatan, di mana ia mencatatkan waktu 2 jam 56 menit 1 detik.

Bagi mereka berdua, garis finis bukanlah titik akhir. Sebaliknya, garis finis justru menjadi titik awal untuk menetapkan target-target baru. Setiap kompetisi yang diikuti menjadi ajang evaluasi diri sekaligus batu loncatan untuk meraih perkembangan lebih lanjut, baik dalam hal catatan waktu, teknik berlari, maupun ketahanan mental.

Perjalanan Penuh Tantangan

Kisah Yad dalam dunia lari bermula dari kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Awalnya, ia menjalani latihan silat dan lari secara bersamaan. Titik baliknya terjadi ketika ia berhasil meraih kemenangan dalam sebuah kompetisi tingkat pelajar.

“Awalnya hanya ikut-ikutan saja, tapi setelah menang, saya merasa ini bukan sekadar aktivitas biasa. Sejak saat itu, saya mulai serius dan termotivasi untuk terus berlari,” ungkap Yad.

Baca juga di sini: Airlangga: APBN Alokasikan Rp 4 Triliun untuk Perbaikan 1.800 Jalur KA

Seiring berjalannya waktu, Yad menyadari bahwa menjadi seorang atlet bukan hanya soal kemampuan fisik, tetapi juga tentang pilihan dan dedikasi. Rasa jenuh, tekanan dalam latihan, hingga pengorbanan waktu bersama keluarga adalah bagian tak terpisahkan dari proses ini. Saat ini, Yad menargetkan pencapaian besar berikutnya, yaitu memecahkan rekor nasional untuk nomor 1.500 meter di kategori senior.

Di sisi lain, Irma memiliki cerita yang tak kalah inspiratif. Ia memulai perjalanannya dari kondisi yang serba terbatas, bahkan pernah mengikuti sebuah perlombaan tanpa mengenakan sepatu.

“Dulu saya pernah lari tanpa sepatu. Situasi itu justru membuat saya merasa tertantang untuk terus berkembang agar bisa meraih performa yang lebih baik,” tuturnya.

Bagi Irma, lari telah menjadi gaya hidup yang menuntut komitmen penuh. Ia harus rela mengorbankan waktu istirahat dan momen-momen berharga bersama orang-orang terdekat demi menjaga performanya. Namun, dari pengorbanan tersebut, ia justru menemukan motivasi yang kuat untuk terus berkembang dan melampaui potensi dirinya.

Meskipun telah meraih berbagai pencapaian, termasuk di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON), Irma tetap berpegang teguh pada prinsipnya: menikmati setiap proses yang dilaluinya.

Latihan, Konsistensi, dan Dukungan yang Membangun

Dengan latar belakang yang berbeda, Yad dan Irma dipertemukan oleh kesamaan visi: dorongan kuat untuk terus berkembang. Keduanya memahami bahwa performa yang optimal tidak tercipta secara instan, melainkan hasil dari latihan yang terstruktur, mencakup latihan interval hingga latihan jarak jauh (long run).

Seiring dengan peningkatan intensitas latihan, kebutuhan mereka pun turut berkembang. Hal ini tidak hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga efisiensi dan responsivitas dalam setiap gerakan lari.

Dengan mengusung konsep “speed for everyday”, perlengkapan lari yang mereka gunakan dirancang untuk mendukung berbagai tahapan latihan, mulai dari persiapan hingga hari perlombaan.

Bagi Yad, responsivitas menjadi faktor krusial, terutama pada fase akhir perlombaan. “Di 2 kilometer terakhir biasanya sudah terjadi adu kecepatan. Oleh karena itu, saya membutuhkan sepatu yang dapat membantu saya tetap responsif dan stabil,” jelasnya.

Sementara itu, Irma lebih menekankan pentingnya menjaga ritme lari dari awal hingga akhir. “Saat berlari, saya fokus pada performa. Jadi, sangat penting bagi saya untuk memiliki dukungan yang dapat membantu menjaga ritme dari awal hingga garis finis,” katanya.

Namun, bagi keduanya, dukungan yang diterima lebih dari sekadar perlengkapan. Dukungan tersebut juga mencakup kepercayaan dan sistem yang membantu mereka berkembang, baik secara fisik maupun mental.

Lebih dari Sekadar Berlari

Pada akhirnya, lari bukan hanya tentang siapa yang mampu berlari paling cepat. Ini adalah tentang keberanian untuk menetapkan target baru dan konsistensi untuk mencapainya.

Bagi Yad dan Irma, setiap langkah yang mereka ambil merupakan bagian dari sebuah perjalanan panjang. Dengan dukungan yang tepat, langkah-langkah tersebut membawa mereka semakin dekat untuk mencapai versi terbaik dari diri mereka sendiri.