KabarDermayu.com – Mercusuar Films berkolaborasi dengan Digital Frame Production untuk menghadirkan film thriller-horor terbaru berjudul “Juminten Edan”. Film yang disutradarai oleh Dedy Mercy dan Jonathan Ozoh ini berani mengangkat cerita tentang perempuan dengan disabilitas wicara dan pendengaran, sebuah tema yang jarang dieksplorasi dalam genre horor Indonesia.
Naskah film ini digarap oleh Alim Sudio. Ceritanya berpusat pada Juminten, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya di sebuah pulau bersama suami dan anaknya setelah delapan tahun merantau. Kepulangan mereka disambut hangat oleh keluarga. Namun, kehangatan itu perlahan terusik ketika Juminten mulai menunjukkan perubahan perilaku yang tidak wajar.
Kejadian-kejadian aneh mulai menghantui, baik saat Juminten dalam keadaan sadar maupun tidak. Beberapa insiden bahkan menggambarkan Juminten berusaha membahayakan suami, anak, dan anggota keluarga dekatnya. Film ini secara mendalam akan mengungkap berbagai peristiwa yang terjadi.
Tokoh Juminten tidak digambarkan sebagai sosok yang sempurna. Ia dibebani oleh luka, trauma, dan rahasia masa lalu yang menjadi kunci utama dalam pengungkapan seluruh cerita film ini.
Sutradara Dedy Mercy menjelaskan bahwa konsep cerita “Juminten Edan” telah dipersiapkan sejak lama dengan pendekatan yang mengedepankan realisme dan kejujuran.
“Storytelling Juminten Edan sudah cukup lama dipersiapkan. Kisah dan perjuangan sosok Juminten dibuat realistis dan jujur,” ujar Dedy Mercy. Ia menambahkan, “Melalui film Juminten Edan, saya ingin menghadirkan miniatur masalah sosial dalam keluarga. Ada kehangatan yang dibangun, ada semangat, dan puncaknya bagaimana film ini bercerita bahwa di zaman modern sekarang kewarasan justru lahir dari orang-orang yang dianggap ‘gila’.”
Dengan pendekatan tersebut, “Juminten Edan” tidak hanya menyajikan rangkaian adegan menyeramkan. Film ini menjadi ruang untuk menggali trauma, tekanan batin, serta dinamika relasi keluarga. Perubahan perilaku Juminten menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana luka lama dapat kembali muncul dan mengancam orang-orang di sekitarnya.
Peran sentral Juminten dipercayakan kepada aktris Meisya Amira. Tantangan besar dihadapi Meisya karena karakter ini harus menyampaikan berbagai emosi tanpa banyak dialog. Meisya menjalani proses persiapan yang sangat mendalam sebelum syuting dimulai.
“Untuk membangun emosi Juminten yang menyimpan trauma besar namun tidak banyak bicara, aku mulai dari proses persiapan yang cukup mendalam,” ungkap Meisya Amira. Ia melanjutkan, “Sebelum syuting dimulai, aku baca sinopsis secara menyeluruh, memahami karakter, serta mempelajari latar belakang dan backstory Juminten yang sudah dikasih ke aku. Ini membantu aku untuk mengenali akar emosi dan batin yang dimiliki oleh karakter tersebut.”
Proses persiapan Meisya tidak berhenti di situ. Ia juga mempelajari bahasa isyarat bersama seorang pelatih khusus yang mendampinginya sejak sesi pembacaan naskah hingga syuting selesai. Langkah ini krusial agar ekspresi dan komunikasi Juminten tetap terasa kuat di layar, meskipun karakternya memiliki keterbatasan dalam berbicara.
“Aku juga belajar bahasa isyarat bersama coach yang mendampingi aku dari proses reading sampai selama syuting berlangsung. Ini menjadi bagian penting agar komunikasi dan ekspresi karakter tetap terasa,” jelas Meisya.
Baca juga: Nadiem Makarim Ajukan Permohonan Jadi Tahanan Rumah ke Majelis Hakim
Selama proses syuting, Meisya mengakui bahwa menjaga emosi tetap hidup hanya melalui gestur, tatapan, dan bahasa tubuh menjadi tantangan terberat yang dihadapinya.
“Pada proses syuting, tantangannya cukup besar karena aku harus memberi emosi tanpa banyak dialog. Tidak mudah untuk mengaplikasikan rasa dan emosi dalam keterbatasan tersebut, apalagi memerankan karakter tunawicara. Ada momen aku membutuhkan ruang untuk benar-benar memahami situasi dan kondisi yang terjadi di dalam adegan,” papar Meisya.
Seiring berjalannya waktu syuting, Meisya berupaya keras untuk terus memposisikan dirinya sebagai Juminten agar emosi karakter tidak terputus dan tetap terasa otentik.
“Seiring berjalannya waktu, emosi tersebut mulai terbentuk dengan sendirinya karena aku berusaha untuk terus memposisikan diri sebagai Juminten selama proses shooting. Aku bawa seluruh trauma dan latar belakang karakter itu ke dalam setiap adegan, jadi apa yang dirasakan menjadi lebih jujur. Bagiku, penting untuk tetap stay dalam karakter agar setiap emosi yang muncul bisa benar-benar terasa dan tersampaikan dengan baik,” katanya.
Dalam film ini, Dimas Aditya memerankan karakter Manto, suami Juminten. Posisi Manto dalam cerita tidaklah mudah. Ia mencintai Juminten dengan tulus, namun dihadapkan pada ketakutan luar biasa menyaksikan perubahan drastis pada diri istrinya.
“Cinta mengalahkan rasa takut. Bahkan rasa cinta yang besar membuat Manto rela memilih hidup bersama Juminten dan meninggalkan kemapanan hidup bersama keluarganya. Karena cinta bisa mengalahkan apa saja, bahkan ketakutan sekalipun,” ujar Dimas Aditya.
Relasi antara Manto dan Juminten menjadi salah satu elemen emosional yang sangat menopang film ini. Di tengah ancaman teror dan misteri yang menyelimuti, hubungan suami-istri ini menampilkan pertarungan sengit antara cinta, ketakutan, dan kesetiaan.
Selain Meisya Amira dan Dimas Aditya, jajaran pemain “Juminten Edan” juga diperkuat oleh Anne J Coto sebagai Salma, Kukuh Prasetyo sebagai Marlan, Deden Bagaskara sebagai Kadir, dan Bambang Oeban sebagai Kakek Juminten. Deretan pemain lainnya meliputi Wina Marrino sebagai Farida, Sharon Jovian sebagai Saskia, Teguh Julianto sebagai Heri, Wanto Cacing sebagai Sidik, Feril Ali sebagai Manto Kecil, serta Maria Lituhayu sebagai Juminten Kecil.
First look dari “Juminten Edan” telah memperlihatkan nuansa horor psikologis yang kuat, berfokus pada penggalian trauma, dinamika keluarga yang kompleks, dan misteri masa lalu. Teror dalam film ini tidak hanya hadir melalui serangkaian kejadian ganjil, tetapi juga melalui perubahan perilaku Juminten yang secara perlahan mengancam keselamatan keluarga dan seluruh warga pulau.
Film “Juminten Edan” dijadwalkan akan tayang di bioskop pada tahun 2026.





