Rupiah Diprediksi Terus Melemah di Angka Rp 17.500 per Dolar AS Pekan Ini

oleh -4 Dilihat
Rupiah Diprediksi Terus Melemah di Angka Rp 17.500 per Dolar AS Pekan Ini

KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan. Pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, pukul 10.17 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 17.430 per dolar AS di pasar spot.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pelemahan rupiah akan berlanjut. Ia memperkirakan pekan ini rupiah berpotensi menembus level Rp 17.550 per dolar AS.

“Tentang rupiah yang mengalami pelemahan sudah di atas Rp 17.400, target saya sendiri dalam minggu ini adalah di Rp 17.550, kemungkinan besar akan tercapai,” ungkap Ibrahim kepada awak media pada Selasa, 5 Mei 2026.

Salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah adalah eskalasi konflik di Selat Hormuz. Ibrahim menjelaskan bahwa serangan Amerika Serikat (AS) terhadap pasukan Iran di wilayah tersebut kembali memicu ketegangan.

Ketegangan ini bermula dari instruksi Presiden AS, Donald Trump, kepada Angkatan Laut AS untuk menguasai Selat Hormuz yang sebelumnya dikendalikan oleh Iran. Trump bahkan menyebut pasukan Amerika seperti bajak laut, yang akan membajak dan menguasai kapal-kapal yang keluar dari selat tersebut.

Tindakan ini diperkirakan menyebabkan kerugian bagi Iran yang mencapai lebih dari US$5 miliar. Di sisi lain, Trump berupaya agar kapal-kapal yang tersendat di Selat Hormuz dapat berlayar normal kembali, memungkinkan akses bebas ke laut internasional tanpa dikenakan biaya.

Menurut Ibrahim, insiden pengeboman dan kehancuran lebih dari lima kapal perang kecil Iran telah menciptakan ketegangan baru di Timur Tengah. Hal ini secara langsung berdampak pada sentimen pasar keuangan global.

Selain isu geopolitik di Timur Tengah, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh serangan drone Ukraina ke kilang minyak Rusia. Serangan ini menyebabkan penurunan produksi kilang minyak sekitar 10 persen.

Dampak penurunan produksi minyak tersebut berujung pada penguatan harga minyak mentah, baik jenis *grain* maupun WTI *crude oil*. Kenaikan harga komoditas energi ini secara umum memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca juga: KPK Panggil Staf Mantan Menhub Budi Karya Sumadi Hari Ini

“Ini hal-hal dari segi eksternal yang membuat rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan,” tegas Ibrahim.