Dolar AS Menguat: Dua Faktor Utama Penyebab Rupiah Melemah Signifikan

oleh -5 Dilihat
Dolar AS Menguat: Dua Faktor Utama Penyebab Rupiah Melemah Signifikan

KabarDermayu.com – Dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Rabu, 29 April 2026, yang berimbas pada merosotnya nilai tukar Rupiah hingga menembus angka 17.300 per dolar AS.

Data perdagangan menunjukkan Rupiah melemah 0,48 persen menjadi Rp 17.326 terhadap dolar AS di akhir sesi perdagangan Rabu sore. Penguatan dolar AS ini tidak hanya terjadi terhadap Rupiah, namun juga terhadap sejumlah mata uang negara lain.

Euro tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,07 persen ke level US$1,1705, sementara Poundsterling turun 0,05 persen menjadi US$1,3513.

Penguatan dolar AS ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar menjelang pengumuman keputusan suku bunga oleh Federal Reserve AS (The Fed). Para pelaku pasar memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level saat ini.

Baca juga di sini: Pesan Anggita untuk Suami Belum Terkirim, KRL yang Ditumpanginya Ditabrak KA Argo Bromo

Fokus investor kini beralih pada pandangan The Fed mengenai dampak perang antara Iran dan AS terhadap perekonomian global, serta arah kebijakan moneter ke depan.

Analis mata uang dari Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menyoroti ketidakpastian mengenai posisi Ketua The Fed, Jerome Powell. Powell masih memegang posisi gubernur The Fed hingga tahun 2028, meskipun masa jabatannya sebagai ketua akan berakhir pada 15 Mei 2026.

“Pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukan Powell, karena ia masih memegang posisi gubernur hingga 2028. Apakah ia akan mundur setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir atau tetap bertahan sebagai gubernur,” ujar Kong seperti dikutip dari Reuters pada Rabu, 29 April 2026.

Kong menambahkan bahwa keputusan Powell akan sangat bergantung pada persepsinya terhadap independensi bank sentral. Ia mengindikasikan bahwa Powell akan tetap bertahan jika merasa independensi The Fed terancam.

Selain faktor domestik AS, ketegangan geopolitik juga menjadi pendorong utama penguatan dolar AS. Upaya negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Presiden AS, Donald Trump, dilaporkan menolak proposal terbaru dari Teheran, mengingat keinginannya untuk menyelesaikan isu nuklir sejak awal. Situasi ini secara langsung mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Harga minyak tercatat mengalami kenaikan selama delapan hari berturut-turut, yang merupakan kenaikan terpanjang sejak Mei 2022. Kontrak minyak mentah bahkan kembali menembus level US$110 per barel.

Kepala Riset Global Markets EMEA MUFG, Derek Halpenny, menilai bahwa lonjakan harga energi ini berpotensi memperburuk kondisi ekonomi global. Menurutnya, harga minyak dunia yang kembali diperdagangkan di atas US$110 per barel dapat memberikan dampak ekonomi yang semakin berat, terutama menjelang musim panas.

“Jika situasi ini berlarut-larut, tekanan terhadap euro dan mata uang Asia akan semakin besar,” kata Halpenny.

Kombinasi sentimen global yang dipicu oleh ketidakpastian kebijakan moneter AS dan ketegangan geopolitik ini membuat dolar AS tetap perkasa. Sementara itu, Rupiah dan mata uang Asia serta Eropa lainnya berada dalam tekanan akibat meningkatnya risiko geopolitik dan ekonomi global.