KabarDermayu.com – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 16 Juni 2026. Pelemahan mata uang Garuda ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap rencana Amerika Serikat (AS) untuk memberlakukan tarif impor tambahan pada sejumlah produk asal Indonesia.
Pelaku pasar menilai kebijakan tersebut berpotensi memicu tekanan baru terhadap kinerja ekspor nasional. Sektor manufaktur, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia, dinilai paling rentan terdampak.
Kekhawatiran ini turut memengaruhi sentimen investor dan tercermin dalam pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang perdagangan hari ini.
Rupiah Ditutup Melemah
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa rupiah mengakhiri perdagangan dengan pelemahan dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Menurutnya, tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan mata uang domestik.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 19 poin, sebelumnya sempat menguat 5 poin di level Rp17.725 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.708,” kata Ibrahim, Selasa.
Meskipun demikian, ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih memiliki peluang untuk menguat secara terbatas. Menurut proyeksinya, rupiah akan bergerak fluktuatif dengan rentang perdagangan antara Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar Amerika Serikat.
Ancaman Tarif Baru AS Jadi Sorotan
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada rencana pemerintah Amerika Serikat yang akan mengenakan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk Indonesia. Kebijakan ini dinilai dapat memperketat akses produk nasional ke salah satu pasar ekspor terbesar dunia.
Ibrahim menyebut ancaman tarif baru itu menjadi sentimen negatif yang cukup besar bagi pasar keuangan maupun sektor riil Indonesia. “Perang dagang kembali bergemuruh, setelah rencana Amerika Serikat untuk mengganjar tarif impor baru terhadap sejumlah produk Indonesia berpotensi menekan kinerja ekspor produk manufaktur nasional,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan tersebut bukan hanya berdampak pada perdagangan internasional, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi domestik secara lebih luas.
Ekspor Manufaktur Berisiko Tertekan
Sektor manufaktur menjadi salah satu bidang yang paling berpotensi terdampak apabila kebijakan tarif tambahan benar-benar diterapkan. Kenaikan tarif akan membuat harga produk Indonesia menjadi lebih mahal di pasar Amerika Serikat, sehingga daya saingnya berpotensi menurun.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi permintaan terhadap berbagai produk ekspor unggulan Indonesia. “Tidak hanya mengurangi daya saing produk di pasar AS, kebijakan tersebut juga berisiko memengaruhi utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut,” kata Ibrahim.
Apabila permintaan ekspor melemah, industri manufaktur nasional berpotensi menghadapi tekanan produksi yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap aktivitas investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Tarif Tambahan Berpotensi Berlaku Juli 2026
Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah muncul informasi bahwa tarif tambahan tersebut direncanakan berlaku secara bertahap mulai 24 Juli 2026. Kebijakan itu disebut mengacu pada Pasal 301 Trade Act 1974 yang digunakan Amerika Serikat dalam berbagai tindakan perdagangan internasional.
Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau USTR telah menetapkan *forced labor tariff* sebesar 10 persen terhadap Indonesia dan sejumlah negara lainnya. Pemerintah Indonesia memperkirakan beban tarif tersebut berpotensi meningkat hingga 18 persen setelah proses investigasi terkait dugaan kapasitas produksi berlebih atau *excess capacity* selesai dilakukan.
Jika skenario tersebut terjadi, maka tekanan terhadap ekspor nasional diperkirakan akan semakin besar.
AS Masih Jadi Pasar Penting Indonesia
Ancaman tarif baru menjadi perhatian serius karena Amerika Serikat merupakan salah satu tujuan ekspor utama Indonesia. Data perdagangan menunjukkan nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS sepanjang Januari hingga Juni 2025 mencapai sekitar 14,79 miliar dolar AS.
Angka tersebut setara dengan sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Berbagai produk manufaktur mendominasi ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat.
Komoditas tersebut meliputi mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian jadi, hingga berbagai produk aksesori industri yang selama ini menjadi sumber devisa penting bagi perekonomian nasional.
Sentimen Positif dari Timur Tengah Belum Mampu Menahan Tekanan
Di tengah kekhawatiran perang dagang, pasar global sebenarnya memperoleh sentimen positif dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harapan terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak mentah Brent turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Penurunan harga energi tersebut memberikan dorongan bagi pasar saham global karena investor memperkirakan tekanan inflasi dunia akan berkurang. Namun sentimen positif itu belum cukup kuat untuk mengimbangi kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Pasar masih menunggu kepastian mengenai implementasi kesepakatan damai serta perkembangan negosiasi menuju gencatan senjata permanen.
Investor Menanti Keputusan Bank Sentral Dunia
Selain isu perdagangan dan geopolitik, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada arah kebijakan bank sentral utama dunia. Ibrahim mencatat Bank Sentral Jepang telah menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendek menjadi 1 persen, level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade.
Sementara itu, Bank Cadangan Australia memilih mempertahankan suku bunga di level 4,35 persen setelah sebelumnya melakukan beberapa kali kenaikan. Kini fokus investor beralih pada keputusan Federal Reserve Amerika Serikat dan Bank of England yang dijadwalkan diumumkan dalam waktu dekat.
“Para pedagang kini menunggu pengumuman kebijakan dari Federal Reserve AS dan Bank of England akhir pekan ini,” ujar Ibrahim.
Di tengah ketidakpastian global tersebut, ancaman tarif impor baru dari Amerika Serikat menjadi faktor yang paling banyak diperhatikan pasar karena dinilai memiliki dampak langsung terhadap kinerja ekspor, investasi, dan pertumbuhan industri nasional dalam beberapa bulan mendatang.
tvOnenews/Abdul Gani Siregar





