KabarDermayu.com – Ekonom menilai masih ada potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) apabila nilai tukar rupiah terus melemah di atas Rp18.200 per dolar AS dan defisit transaksi berjalan melebihi 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menganggap keputusan BI menaikkan BI-Rate merupakan langkah antisipatif yang positif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kenaikan BI-Rate bisa berlanjut jika rupiah masih tertekan hingga di atas Rp18.200 per dolar AS dan defisit transaksi berjalan melebar lebih dari 1,5 persen dari PDB,” ujar Hosianna di Jakarta pada 10 Juni 2026.
Menurutnya, pelemahan rupiah secara year to date (ytd) mencapai 8 persen terhadap dolar AS saat menyentuh Rp18.190 per dolar AS. Hal ini membuat intervensi BI menjadi krusial untuk meredam risiko inflasi impor dan dampaknya.
Hosianna juga mencatat bahwa kenaikan BI-Rate disambut positif oleh pasar. Hal ini tercermin dari penguatan rupiah sebesar 0,7 persen ke level Rp18.070 di pasar spot pada Selasa siang. Kebijakan ini diproyeksikan akan meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen domestik.
Pada Selasa, melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan, BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen.
Bersamaan dengan itu, suku bunga deposit facility dan lending facility juga dinaikkan masing-masing sebesar 25 bps, menjadi 4,50 persen dan 6,25 persen.
Dalam siaran persnya, BI juga mengumumkan sejumlah langkah untuk memperkuat stabilisasi rupiah. Ini termasuk kenaikan struktur suku bunga SRBI untuk seluruh tenor, pemberian insentif penurunan tingkat swap lindung nilai bagi investor asing, pembukaan kembali window lelang instrumen repo bagi perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter dalam rupiah maupun valuta asing.
Sebelumnya, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps pada RDG Bulanan tanggal 19-20 Mei 2026. Kenaikan pada Mei 2026 merupakan penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan stabil di level 4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan 125 bps.
BI dijadwalkan kembali menggelar RDG Bulanan pada 17-18 Juni 2026. Hingga akhir Mei 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS. Angka ini menurun 1,3 miliar dolar AS dari bulan sebelumnya, seiring dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Dalam lima bulan terakhir, cadangan devisa telah menyusut 11,6 miliar dolar AS dari posisi 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025. Pada Selasa sore (9/6), kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat ke level Rp18.141 per dolar AS, naik dari Rp18.171 per dolar AS pada Senin (8/6).





