KabarDermayu.com – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memberikan kepastian kepada masyarakat yang tengah mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi. Kementerian memastikan bahwa suku bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) akan tetap stabil di angka 5 persen hingga seluruh masa kredit berakhir. Kepastian ini diberikan di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate).
Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR, Didyk Choiroel, menegaskan bahwa kebijakan kenaikan BI Rate oleh Bank Indonesia tidak akan berdampak pada cicilan rumah bagi para penerima program FLPP. Ini merupakan wujud komitmen pemerintah untuk terus menghadirkan hunian yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Program FLPP sendiri dirancang khusus untuk memberikan kemudahan akses kepemilikan rumah bagi masyarakat yang memenuhi kriteria tertentu. Selain suku bunga tetap yang sangat ringan, penerima program ini juga mendapatkan subsidi bantuan uang muka sebesar Rp4 juta. Hal ini menjadikan cicilan bulanan menjadi lebih ringan dan prediktif, tanpa perlu khawatir akan fluktuasi suku bunga pasar.
Sebelumnya, Bank Indonesia telah mengambil langkah menaikkan suku bunga acuannya. BI Rate tercatat mengalami kenaikan menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026, dan kembali meningkat ke angka 5,75 persen pada 18 Juni 2026. Meskipun demikian, Kementerian PUPR menjamin bahwa para penerima FLPP akan tetap merasakan keringanan dan kepastian dalam pembayaran cicilan rumah mereka.
Didyk Choiroel menambahkan bahwa karakteristik khusus dari program FLPP memang dirancang untuk memberikan perlindungan maksimal kepada MBR. Tujuannya adalah agar mereka dapat memiliki rumah yang layak dan terjangkau tanpa terbebani oleh gejolak suku bunga di pasar keuangan. Kepastian suku bunga 5 persen hingga akhir tenor kredit ini menjadi salah satu keunggulan utama program ini.
“Dengan arahan dari Bapak Presiden, Menteri PUPR, serta dukungan penuh dari Komite Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera), kami berkomitmen bahwa bunga FLPP akan tetap 5 persen dan tidak akan mengalami kenaikan hingga tenor kredit selesai. Ini memberikan jaminan dan perlindungan yang sangat berharga bagi masyarakat, sehingga mereka tidak perlu khawatir akan dampak fluktuasi suku bunga pasar,” jelas Didyk dalam sebuah keterangan resmi di Jakarta, Minggu.
Lebih lanjut, Didyk memaparkan mengenai skema pendanaan yang menjadi tulang punggung keberlanjutan program FLPP. Pendanaan program ini merupakan hasil kolaborasi yang solid antara dana pemerintah dan partisipasi dari sektor keuangan. Skema ini memastikan bahwa program dapat terus berjalan dan menjangkau lebih banyak lagi masyarakat yang membutuhkan.
“Saat ini, komposisi pendanaan FLPP terdiri dari 75 persen yang berasal dari BP Tapera. Sisanya, sebesar 25 persen, didukung oleh sektor pembiayaan melalui skema yang melibatkan Sarana Multigriya Finansial (SMF) dan berbagai lembaga perbankan. Kombinasi ini menjadikan program FLPP semakin kuat dan mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat,” ungkap Didyk.
Antusiasme masyarakat terhadap rumah bersubsidi melalui program FLPP dilaporkan terus mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2025, Kementerian PUPR mencatat realisasi program FLPP telah mencapai 278 ribu unit rumah. Angka ini merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah pelaksanaan program penyediaan rumah bersubsidi di Indonesia, menunjukkan tingginya permintaan dan kepercayaan masyarakat.
Hingga tanggal 24 Juni 2026, data terbaru menunjukkan bahwa realisasi penyaluran FLPP telah mencapai 81.268 unit rumah yang dananya telah berhasil dicairkan. Selain itu, sebanyak 21.735 unit rumah tercatat telah melalui tahap akad kredit, menandakan progres yang positif dalam pemenuhan kebutuhan perumahan masyarakat.
“Capaian ini secara nyata membuktikan bahwa rumah bersubsidi masih menjadi solusi yang paling tepat dan terjangkau bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain cicilan yang ringan dan kepastian suku bunga yang tidak terpengaruh oleh kenaikan BI Rate, kualitas rumah bersubsidi saat ini juga terus mengalami peningkatan yang patut diapresiasi,” tutup Didyk.





