Kata-kata Pemicu dr. Icha Depresi Berat hingga Mengakhiri Hidup

oleh -2 Dilihat
Kata-kata Pemicu dr. Icha Depresi Berat hingga Mengakhiri Hidup

KabarDermayu.com – Dokter muda bernama dr Eliza Princila Utami Pakaenoni, yang akrab disapa dr Icha, diduga mengakhiri hidupnya akibat depresi berat yang dideritanya.

Menurut diagnosis dokter, dr Icha mengalami tekanan psikologis mendalam setelah menerima perlakuan intimidasi. Intimidasi ini diduga dilakukan oleh tiga orang yang merupakan anggota DPRD Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

PERINGATAN MENGENAI KONTEN SENSITIF: Informasi yang disajikan berikut ini bersifat informatif dan tidak dimaksudkan untuk mendorong tindakan serupa. Apabila Anda mengalami gejala depresi atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, sangat disarankan untuk segera mencari bantuan profesional dari psikolog, psikiater, atau pusat kesehatan mental terdekat.

Ketiga anggota dewan tersebut diketahui merupakan keluarga dari seorang pasien yang ditangani oleh dr Icha, pasien tersebut sebelumnya mengalami gigitan ular.

Dokter muda ini menghembuskan napas terakhirnya pada Jumat, 26 Juni 2026. Ia meninggal dunia di rumah orang tuanya yang berlokasi di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang. Sebelumnya, dr Icha telah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Leona Kefamenanu selama dua minggu.

Setelah melakukan pendekatan dan berkomunikasi dengan pihak keluarga korban, Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosep Falentinus Delasalle Kebo, mengungkapkan penyebab utama dr Icha mengalami depresi berat.

Bupati TTU, Yosep Falentinus Kebo, menjelaskan bahwa intimidasi yang diduga dilakukan oleh ketiga anggota dewan tersebut bersifat verbal. Mereka mempertanyakan prosedur penanganan yang telah dilakukan oleh dr Icha.

Diduga karena merasa tidak sabar dengan penjelasan yang diberikan, ketiga anggota keluarga pasien tersebut melontarkan kata-kata yang dinilai sangat menyakitkan hati dr Icha, sehingga menyebabkan trauma mendalam.

“Dokter Icha mungkin sudah menjawab, namun mereka tidak sabar. Kemudian berlanjut bentuk intimidasi itu, muncul lah kalimat ‘bodoh’ disitu. ‘Dokter Icha bodoh tidak bisa mengerti SOP’,” ungkap Yosep Falentinus Kebo saat diwawancarai dalam program acara Kabar Petang di tvOne.

Pernyataan yang dilontarkan oleh ketiga anggota dewan tersebut membuat dr Icha merasa dirinya bodoh dan tidak memiliki nilai. Ia merasa keilmuannya tidak dihargai.

“Ada juga anggota dewan yang mengatakan bahwa kami memegang SOP, sehingga dr Icha pada saat dirawat kita tanyakan, dia bilang ‘sepertinya saya merasa bodoh. Saya dianggap bodoh sehingga saya juga merasa tidak berguna keilmuan yang saya punya’,” kutipan pernyataan Bupati TTU.

Akibat dari pernyataan pedas dan berbagai ancaman yang diterimanya, dr Icha mengalami trauma berat yang berdampak signifikan pada kondisi psikologisnya.

Tanggapan Kementerian Kesehatan

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha. Beliau diketahui bertugas di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Menyikapi tragedi ini, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk mengusut tuntas kasus dugaan intimidasi yang dialami oleh almarhumah dr. Icha.

Saat ini, investigasi menyeluruh tengah berjalan secara intensif. Proses ini melibatkan langsung Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan serta Inspektorat Jenderal Kemenkes untuk memastikan semua fakta terungkap.

(kmr)

Anggota DPRD TTU Bantah Intimidasi dr. Icha, Paman Korban: Apa Perbedaan Membentak dan Bernada Tinggi?

Dokter bernama dr Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr Icha diduga tewas bunuh diri. Peristiwa ini disinyalir berawal dari dugaan intimidasi yang dialaminya. Paman korban pun memberikan tanggapan terkait isu ini.

Di tengah penyelidikan yang sedang berlangsung, salah satu anggota DPRD TTU yang diduga terlibat dalam kasus intimidasi ini telah memberikan bantahan. Namun, paman korban dr Icha menyuarakan keraguannya atas bantahan tersebut.

Beliau mempertanyakan perbedaan antara tindakan membentak dan berbicara dengan nada tinggi, menyiratkan bahwa kedua tindakan tersebut sama-sama dapat menimbulkan dampak negatif.

Tanggapan ini muncul sebagai respons terhadap klaim bahwa perkataan yang dilontarkan bukanlah bentuk intimidasi melainkan hanya perbedaan dalam intonasi bicara.