KabarDermayu.com – Upaya pemenuhan kebutuhan hunian layak bagi masyarakat Indonesia mencapai tonggak sejarah baru melalui gelaran Akad Massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi yang dipusatkan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Acara ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam mengentaskan tantangan backlog perumahan nasional yang selama ini menjadi perhatian utama.
Dalam agenda strategis tersebut, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mencatatkan diri sebagai penyalur terbesar dengan memfasilitasi 39.043 debitur. Angka fantastis ini mengukuhkan posisi BTN sebagai pilar utama dalam ekosistem pembiayaan perumahan rakyat di bawah skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang dikelola oleh BP Tapera.
Secara keseluruhan, akad massal ini melibatkan 62.710 debitur yang tersebar di 372 kabupaten dan kota di 36 provinsi. Pelaksanaannya dilakukan secara hibrida, di mana 200 debitur hadir secara fisik di Batang, sementara puluhan ribu lainnya mengikuti prosesi akad melalui sambungan daring di 130 titik lokasi yang berbeda di seluruh penjuru Indonesia.
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, menekankan bahwa hunian adalah kebutuhan fundamental bagi setiap warga negara. Presiden menginstruksikan seluruh pemangku kepentingan—mulai dari kementerian terkait, perbankan, hingga para pengembang—untuk terus berakselerasi, meningkatkan sinergi, dan melahirkan inovasi yang mampu memangkas hambatan dalam penyediaan rumah terjangkau bagi rakyat kecil.
Direktur Utama BTN, Nixon L P Napitupulu, mengungkapkan bahwa keberhasilan BTN dalam mengakomodasi puluhan ribu debitur ini tidak lepas dari peran strategis Danantara Indonesia. Lembaga ini dinilai berhasil memperkuat kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan kebijakan pemerintah dengan realitas di lapangan.
“Pencapaian BTN sebagai penyalur terbesar dalam akad massal ini merupakan hasil kerja bersama. Dukungan Danantara Indonesia dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah, BP Tapera, perbankan, pengembang, dan seluruh pelaku ekosistem turut meningkatkan kapasitas BTN dalam memperluas akses pembiayaan rumah bagi masyarakat,” ungkap Nixon di sela-sela acara pada Kamis, 30 Juli 2026.
Lebih lanjut, Nixon menjelaskan bahwa fokus BTN bukan sekadar angka penyaluran, melainkan memastikan keberlanjutan akses bagi berbagai lapisan profesi. Penerima manfaat KPR subsidi ini mencakup spektrum yang sangat luas, mulai dari pengemudi ojek daring, pedagang kecil, buruh, hingga tenaga kesehatan dan pendidik. Salah satu contoh nyata adalah Sutam Sapto Wibowo, seorang pengemudi ojek daring asal Bantul yang kini mampu mencicil rumah dengan angsuran sangat terjangkau, yakni sekitar Rp1,05 juta per bulan.
Data dari BP Tapera menunjukkan bahwa hingga 29 Juli 2026, realisasi penyaluran FLPP secara nasional telah mencapai 118.756 unit dengan nilai total Rp14,76 triliun. Dalam peta persaingan bank penyalur, BTN memimpin dengan 55.766 unit, diikuti oleh Bank Syariah Nasional (BSN) dengan 28.282 unit. Kombinasi keduanya menjadi tulang punggung pembiayaan rumah subsidi di tanah air.
Strategi BTN kini tidak hanya terbatas pada sisi pembiayaan konsumen (KPR), tetapi juga merambah pada sisi penyediaan pasokan rumah melalui Kredit Program Perumahan (KPP). Hingga akhir Juli 2026, realisasi KPP BTN tercatat sebesar Rp4,39 triliun. KPP ini dirancang untuk menyokong para pengembang, kontraktor, hingga toko bahan bangunan agar rantai pasok perumahan tetap terjaga dan efisien.
Untuk mempermudah akses masyarakat, BTN juga telah mengoptimalkan layanan digital melalui platform balé Properti. Layanan ini memungkinkan calon pembeli untuk mencari hunian, melakukan simulasi cicilan, hingga mengajukan permohonan KPR dalam satu pintu yang terintegrasi. Nixon menegaskan bahwa komitmen perusahaan adalah untuk terus mempercepat layanan agar semakin banyak keluarga Indonesia memiliki rumah pertama yang layak huni.
Integrasi antara sisi permintaan (masyarakat) dan sisi penawaran (pengembang) yang didorong oleh Danantara Indonesia ini diharapkan dapat menjadi model berkelanjutan dalam menekan angka kebutuhan rumah nasional di masa depan. Dengan sinergi yang solid, target penyediaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah diproyeksikan akan terus menunjukkan tren positif.





