KabarDermayu.com – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menjelaskan alasan di balik tingginya permintaan valuta asing (valas) pada periode April hingga Mei 2026. Ia memastikan bahwa kebutuhan valas masyarakat pada periode tersebut dapat terpenuhi.
Lonjakan permintaan valas ini, menurut Perry, disebabkan oleh beberapa faktor musiman yang terjadi bersamaan.
Salah satu pendorong utama adalah kebutuhan masyarakat untuk menunaikan ibadah umrah dan haji. Banyak warga Indonesia yang melakukan perjalanan ke Tanah Suci pada periode tersebut.
Selain itu, periode April dan Mei juga kerap dimanfaatkan oleh korporasi untuk melakukan repatriasi dividen. Ini berarti keuntungan perusahaan yang beroperasi di Indonesia dikirim kembali ke negara asal perusahaan.
Tidak hanya repatriasi dividen, korporasi juga sering melakukan pembayaran utang luar negeri pada waktu yang sama. Pembayaran ini mencakup pokok utang maupun bunga yang jatuh tempo.
“Secara musiman, di April sama Mei itu permintaan valasnya tinggi. Untuk apa? Untuk kita doakan seluruh masyarakat kita yang beribadah umrah dan haji, Insya Allah nanti sehat, dan kita pastikan kebutuhan dolarnya terpenuhi,” ujar Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2026 di kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, 7 Mei 2026.
“Lalu juga di bulan April dan Mei itu memang korporasi banyak yang repatriasi dividen, membayar utang luar negeri baik bunga maupun pokok (utang). Jadi memang kondisinya seperti itu,” tambahnya.
Baca juga: Perpanjangan Penahanan Gus Yaqut oleh KPK
Menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang masih terjadi, Perry menegaskan komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas rupiah. Bank sentral akan bekerja maksimal, berkoordinasi erat dengan pemerintah.
Perry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami oleh mata uang negara lain di dunia. BI berupaya agar pelemahan rupiah tidak terlalu dalam.
Faktor global turut memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Salah satunya adalah tensi geopolitik yang masih tinggi di Timur Tengah, serta kenaikan harga minyak dunia.
Suku bunga acuan di Amerika Serikat yang masih tinggi juga menjadi pendorong. Hal ini membuat investor asing cenderung menarik dananya dari negara-negara berkembang (emerging markets) untuk berinvestasi di aset dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi.
Meskipun demikian, Perry menekankan bahwa nilai tukar rupiah saat ini dianggap masih dalam kondisi undervalued jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
Ia meyakinkan bahwa kondisi perekonomian domestik tetap dalam keadaan yang solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,61 persen (year-on-year) pada kuartal I-2026.
Selain itu, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus, dan cadangan devisa juga terpantau tetap tinggi.





