Spanyol Tetap Terima Kapal Pesiar Pembawa Hantavirus Meski Ditolak Warga

oleh -6 Dilihat
Spanyol Tetap Terima Kapal Pesiar Pembawa Hantavirus Meski Ditolak Warga

KabarDermayu.com – Otoritas Spanyol bersiap menghadapi situasi darurat kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan kedatangan kapal pesiar MV Hondius. Kapal ini membawa penumpang dan awak yang terjangkit hantavirus, bahkan telah merenggut tiga nyawa. Spanyol harus mengambil alih operasi penilaian dan pemulangan 149 orang yang terinfeksi.

Kapal pesiar yang berbendera Belanda ini berlayar dari Argentina menuju Tanjung Verde. MV Hondius dijadwalkan tiba di perairan Tenerife, Kepulauan Canary, pada Minggu, 10 Mei 2026, sekitar tengah hari.

Setelah melalui negosiasi alot antara pemerintah pusat Spanyol dan otoritas regional Kepulauan Canary, diputuskan bahwa MV Hondius akan tetap berlabuh di pelabuhan Granadilla. Kapal tersebut tidak akan merapat ke dermaga di Tenerife.

Seluruh penumpang akan menjalani evaluasi medis di atas kapal. Mereka tidak akan melakukan kontak dengan penduduk setempat selama proses pemulangan.

Sebanyak 14 warga negara Spanyol yang terinfeksi di kapal akan segera dibawa ke rumah sakit militer di Madrid untuk menjalani karantina. Menteri Kesehatan Spanyol, Mónica García, menyatakan bahwa ini adalah operasi respons kesehatan internasional yang melibatkan 23 negara.

García menambahkan bahwa Spanyol dipercaya oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menangani operasi berskala besar ini. Pemerintah berkomitmen untuk memberikan dukungan kesehatan dan logistik yang diperlukan.

Untuk warga negara non-Spanyol yang tidak memerlukan perawatan medis segera, mereka akan dievakuasi langsung ke negara asal masing-masing. Keputusan ini diambil meskipun mereka menunjukkan gejala hantavirus.

“Jika mereka menunjukkan gejala tetapi tidak memerlukan perawatan medis segera, mereka akan dievakuasi bersama petugas kesehatan masing-masing ke negara mereka masing-masing,” jelas García.

Protokol kesehatan internasional yang ketat akan diterapkan selama operasi ini. Protokol ini didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada penumpang yang membutuhkan perawatan medis darurat.

Pemerintah meyakini bahwa tidak akan ada kebutuhan perawatan medis segera. Hal ini karena semua penumpang telah meninggalkan Tanjung Verde tanpa menunjukkan gejala, dan telah berada di kapal selama beberapa hari.

Adanya kapal pesiar yang membawa wabah hantavirus ini menimbulkan keresahan yang cukup besar di kalangan warga Tenerife. Fernando Clavijo, presiden regional Kepulauan Canary, menyuarakan keberatannya terhadap kedatangan kapal di pelabuhan Granadilla.

Clavijo meyakinkan pemerintah pusat bahwa kapal tersebut seharusnya tetap berlabuh di Tanjung Verde. Ia berpendapat bahwa Spanyol tidak memiliki kewajiban hukum untuk menerima kapal tersebut.

“Kami tetap berpendapat bahwa Spanyol tidak memiliki kewajiban hukum untuk menerima kapal itu dan bahwa operasi yang sekarang dilakukan di sini dapat diatur dengan sempurna di Tanjung Verde,” tegas Clavijo.

Ia menambahkan bahwa masalah ini seharusnya dapat diselesaikan lebih awal, tanpa perlu perjalanan tambahan selama tiga hingga empat hari. Hal ini untuk mencegah potensi penyebaran lebih lanjut.

WHO menyatakan bahwa risiko hantavirus terhadap masyarakat umum sangatlah minimal. Virus ini hanya menyebar melalui “kontak yang sangat dekat”.

Hingga saat ini, WHO mencatat lima kasus terkonfirmasi dan tiga kasus yang dicurigai terkait wabah di MV Hondius.

“Ini adalah virus yang berbahaya, tetapi hanya bagi orang yang benar-benar terinfeksi, dan risiko bagi masyarakat umum tetap sangat rendah,” ujar juru bicara WHO, Christian Lindmeier.

Lindmeier menjelaskan bahwa bahkan orang yang berada di kabin yang sama dengan penderita terinfeksi di MV Hondius tidak semuanya terinfeksi. Penyakit ini tidak menyebar seluas COVID-19.

Pelacakan kontak untuk hantavirus dinilai efektif karena berfokus pada individu yang melakukan kontak dekat dengan penderita.

Inggris dan Amerika Serikat termasuk negara yang setuju mengirim pesawat untuk memulangkan warga negara mereka dari Tenerife. Otoritas kesehatan di empat benua sedang berupaya keras melacak penumpang yang meninggalkan kapal sebelum wabah terdeteksi.

Mereka juga berupaya melacak individu lain yang mungkin telah melakukan kontak dengan penumpang tersebut sejak saat itu. Upaya ini dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Pada 24 April, lebih dari dua lusin orang dari setidaknya 12 negara berbeda meninggalkan kapal tanpa pelacakan kontak. Hal ini terjadi hampir dua minggu setelah penumpang pertama meninggal di atas kapal.

Baca juga: Putusan Pengadilan untuk Teddy Pardiyana Terkait Harta Lina Jubaedah

Menurut WHO, otoritas kesehatan baru mengkonfirmasi hantavirus pada penumpang MV Hondius pada 2 Mei. Keterlambatan konfirmasi ini menambah kompleksitas penanganan.