KabarDermayu.com – Kasus dugaan pencabulan yang melibatkan seorang pengurus pondok pesantren berinisial Ashari di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terus menjadi sorotan publik. Pihak kepolisian telah menangkap tersangka yang diduga melakukan perbuatan tersebut terhadap puluhan santriwati. Kesaksian dari para korban mulai terungkap, menyingkap modus manipulasi yang berkedok pembinaan spiritual.
Salah satu korban, yang meminta identitasnya disamarkan sebagai Tari, menceritakan pengalaman pahitnya saat masih menjadi santriwati di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo. Tari mengaku mulai mondok pada tahun 2016. Selama beberapa tahun awal, ia tidak melihat adanya perilaku mencurigakan dari Ashari.
Namun, situasi berubah ketika kedekatannya dengan pengurus pesantren tersebut semakin intens. Tari mengaku mulai diminta melakukan hal-hal yang menurutnya tidak pantas. Perilaku tersebut dibungkus dengan dalih penghormatan kepada guru dan sebagai bagian dari proses pembinaan rohani.
“Awal mula disuruh mijitin, terus dicium, kalau sudah selesai kan pamitan, terus dicium kanan-kiri,” ungkap Tari, mengutip video di kanal YouTube Denny Sumargo pada Jumat, 8 Mei 2026.
Menurut pengakuan Tari, Ashari kerap menggunakan alasan pengobatan spiritual untuk meyakinkan para santri agar menuruti permintaannya. Ia mengatakan bahwa dirinya diarahkan untuk menjalani berbagai “terapi” demi menyembuhkan penyakit batin yang disebut dimilikinya.
“Di sana kan ada guru tarikah. Bilangnya disuruh guru tarikah. Bagian dari nyembuhin sakit,” ujar Tari.
Tari mengaku sering diberi sugesti bahwa dirinya memiliki sifat iri hati, dengki, dan berbagai penyakit batin lainnya yang harus disembuhkan melalui metode tertentu. Dalam proses tersebut, Tari perlahan-lahan diminta untuk ikut dalam berbagai aktivitas bersama Ashari, termasuk ziarah dan salawatan yang dilakukan pada malam hari.
Baca juga: Artis-artis yang Kehilangan Jutaan Pengikut Akibat Instagram Membersihkan Akun
Meskipun sempat merasa ada yang janggal, Tari mengaku tetap menuruti arahan tersebut. Hal ini disebabkan oleh budaya di lingkungan pesantren yang mengajarkan santri untuk selalu patuh kepada pengasuh.
“Santri kan harus tawadhu kan, sebisa mungkin,” ucapnya.
Kejanggalan semakin terasa ketika Ashari meminta Tari untuk menemaninya tidur dalam satu kamar saat kegiatan ziarah berlangsung. Meskipun tidak sampai terjadi hubungan badan, situasi tersebut membuat korban merasa tertekan dan ketakutan.
“Diajak nemenin tidur. Nggak sampai berhubungan, tidur di satu kamar,” imbuhnya.
Menurut Tari, Ashari bahkan menyebut tidur bersama sebagai bagian dari metode penyembuhan penyakit batin yang disebut dideritanya.
“(Kata Ashari) ‘kamu banyak iri, penyakit dalam lah, banyak iri, dengki. Kamu itu banyak penyakitnya. Obatnya harus gini (tidur bareng)’,” tutur Tari.
Pengakuan tersebut memicu kemarahan publik. Modus yang digunakan diduga memanfaatkan relasi kuasa antara pengasuh pesantren dan santri. Tari sendiri mengaku mengalami tekanan mental akibat perlakuan tersebut.
“Takut sih, tapi aku nggak pernah tidur beneran, merem aja,” ucapnya.
Ia juga mengaku permintaan serupa tidak hanya terjadi sekali. Ashari disebut berulang kali mengajaknya melakukan “pengobatan” yang sama, meskipun seringkali ditolak.
“Sering diajak, sering juga aku nolak. Kok gini terus? Mental saya kena,” ucapnya.
Tari diketahui telah melaporkan dugaan kasus tersebut sejak tahun 2024. Namun, penangkapan terhadap Ashari baru dilakukan pada Kamis, 7 Mei 2026, setelah tersangka sempat melarikan diri.
Selain itu, Tari turut menggambarkan suasana disiplin yang sangat keras di lingkungan pondok pesantren tempatnya belajar. Ia menyebut para santri dituntut untuk selalu mengikuti perintah tanpa banyak bertanya. Konsekuensinya, santri berisiko mendapat kekerasan jika dianggap melawan.
“Di sana itu keras,” ujar Tari.
“Di sana itu menurutnya kalau tidak benar ya langsung sikat dipukul-pukul. Ya sama oknum kiai itu tadi,” tambahnya.





