AS Terancam Ambruk Akibat Kekalahan dari Iran

oleh -6 Dilihat
AS Terancam Ambruk Akibat Kekalahan dari Iran

KabarDermayu.com – Seorang analis neokonservatif terkemuka di Amerika Serikat, Robert Kagan, membuat pengakuan mengejutkan mengenai posisi AS dalam konflik global. Kagan menyatakan bahwa Amerika Serikat mengalami kekalahan total dalam pertempuran yang sedang berlangsung melawan Iran, dan menilai bahwa konflik tersebut telah merusak posisi global AS secara permanen.

Kutipan dari laman presstv.ir pada Selasa, 12 Mei 2026, menyebutkan bahwa Kagan menyatakan, “AS mengalami kekalahan total.” Ia lebih lanjut menggambarkan kekalahan ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika, dan tidak dapat diperbaiki maupun diabaikan.

Meskipun mengakui bahwa militer AS sebelumnya juga pernah menderita kerugian besar, Kagan melihat konflik kali ini dengan Iran memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Ia membandingkannya dengan kekalahan di Vietnam dan Afghanistan.

“Kekalahan di Vietnam dan Afghanistan memang mahal, tetapi tidak memberikan kerusakan permanen terhadap posisi keseluruhan Amerika di dunia. Namun kekalahan dalam konfrontasi saat ini dengan Iran akan memiliki dampak yang benar-benar berbeda,” tulisnya.

Menurut analisis Kagan, inti dari bencana ini terletak pada kemampuan baru Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz, jalur laut yang sangat strategis di dunia, tanpa dapat ditantang oleh pihak lain. Kemampuan ini memberikan Iran kekuatan yang signifikan.

Baca juga: Pengakuan Global untuk Hunian Premium dan Fasilitas Komersial Terpadu di CitraLand City CPI

“Iran tidak hanya akan mampu memungut biaya bagi kapal yang melintas, tetapi juga membatasi akses hanya untuk negara-negara yang memiliki hubungan baik dengannya,” jelas Kagan dalam tulisannya.

Kagan menilai bahwa Iran tidak memiliki kepentingan untuk kembali ke situasi sebelum perang. Ia juga meyakini bahwa negara-negara di kawasan Teluk Persia pada akhirnya tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan diri dengan Teheran. Hal ini akan menjadikan Iran sebagai kekuatan dominan baru di kawasan tersebut.

“Amerika Serikat akan terbukti hanya macan kertas, memaksa negara-negara Teluk dan negara Arab lainnya untuk menyesuaikan diri dengan Iran,” tegas Kagan.

Ia juga menepis kemungkinan bahwa koalisi sekutu AS dapat memperbaiki situasi yang ada. Kagan berargumen bahwa jika AS dengan kekuatan angkatan lautnya yang besar saja tidak mampu atau tidak mau membuka selat tersebut, maka koalisi lain dengan kemampuan yang jauh lebih kecil tentu tidak akan bisa berbuat banyak.

“Jika Amerika Serikat dengan angkatan lautnya yang sangat kuat saja tidak mampu atau tidak mau membuka selat itu, maka koalisi mana pun yang hanya memiliki sebagian kecil kemampuan AS juga tidak akan mampu melakukannya,” katanya.

Kagan memandang kemunduran ini bukan sekadar kekalahan regional, melainkan sebuah kegagalan strategis global yang secara fundamental mengubah posisi Amerika Serikat di panggung dunia. Dampaknya dirasakan lebih luas dari sekadar konflik di satu kawasan.

“Dominasi Amerika di kawasan Teluk hanyalah korban pertama dari banyak konsekuensi lainnya. Sekutu-sekutu Amerika di Asia Timur dan Eropa kini pasti mempertanyakan daya tahan AS jika konflik besar kembali terjadi di masa depan,” ujarnya.

Situasi ini, menurut Kagan, diperparah oleh menipisnya persediaan militer Amerika selama perang berlangsung. Hal ini, katanya, telah banyak diberitakan oleh media-media di AS sendiri.

“Hanya dalam beberapa pekan perang melawan negara kekuatan tingkat kedua, stok senjata Amerika sudah turun ke level yang berbahaya, tanpa solusi cepat yang terlihat,” tulisnya, menyoroti kerentanan pasokan militer AS.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat saat ini tidak lagi mampu mengendalikan dampak dari perang yang mereka mulai sendiri, sebuah perang yang menurutnya telah mereka kalahkan. Kehilangan kendali ini menambah kekhawatiran tentang peran AS di masa depan.

“Sekutu-sekutu Amerika pasti mempertanyakan kemampuan AS untuk bertahan dalam konflik-konflik berikutnya,” katanya, menekankan keraguan yang muncul di antara para sekutu AS.