AS Alokasikan Rp 500 Triliun untuk Perang Melawan Iran

oleh -5 Dilihat
AS Alokasikan Rp 500 Triliun untuk Perang Melawan Iran

KabarDermayu.com – Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menggelontorkan dana fantastis, hampir mencapai 29 miliar dolar AS, untuk mendanai operasi militer yang ditujukan kepada Iran. Angka ini disampaikan oleh Wakil Menteri Perang sekaligus Kepala Keuangan AS, Jules W. Hurst III, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Jumlah tersebut jika dikonversikan ke dalam mata uang Rupiah, setara dengan sekitar 507 triliun rupiah, dengan asumsi nilai tukar dolar AS sebesar 17.500 rupiah.

Hurst menjelaskan bahwa angka ini merupakan pembaruan dari estimasi sebelumnya yang berkisar pada 25 miliar dolar AS. Tim gabungan staf dan pengawas anggaran terus melakukan pembaruan data secara berkala. Peningkatan biaya ini terutama disebabkan oleh kebutuhan perbaikan dan penggantian peralatan militer yang rusak, serta biaya operasional umum untuk memastikan keberlangsungan pasukan di lapangan.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini: Antam Turun, Emas Global Melemah

Pernyataan ini disampaikan Hurst saat memberikan kesaksian dalam sidang Komite Anggaran Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS.

Konflik antara AS dan Iran sendiri diketahui telah memanas sejak tanggal 28 Februari. Pada tanggal tersebut, Washington, bersama dengan Israel, melancarkan serangan udara yang menyasar berbagai target di wilayah Iran. Serangan ini dilaporkan menimbulkan kerusakan yang signifikan dan, sayangnya, menimbulkan korban di kalangan warga sipil.

Tidak tinggal diam, Iran kemudian merespons dengan melakukan serangan balasan. Tindakan ini memicu eskalasi konflik yang dampaknya terasa begitu luas, bahkan hampir menghentikan seluruh lalu lintas di Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat krusial bagi distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Sebagai konsekuensi dari meningkatnya ketegangan dan gangguan pasokan energi, harga energi di pasar global dilaporkan melonjak tajam. Lonjakan ini semakin menambah beban dan tekanan terhadap perekonomian dunia yang sudah dalam kondisi yang rentan.

Sejak insiden tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan terus memperluas skala operasi militernya. Alasan yang dikemukakan adalah untuk menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan regional, serta untuk menekan kemampuan militer Iran.

Pihak Washington juga secara tegas menyatakan bahwa operasi militer ini memiliki tujuan ganda: melemahkan kapasitas militer Iran sekaligus melumpuhkan perekonomian Teheran.

Hurst menekankan bahwa biaya operasi militer ini akan terus mengalami peningkatan seiring dengan berlanjutnya durasi konflik. Situasi ini menempatkan pemerintah AS di bawah tekanan fiskal yang besar.

Di sisi lain, Kongres AS juga terus menuntut adanya transparansi yang lebih besar mengenai penggunaan anggaran pertahanan yang dialokasikan untuk operasi tersebut.