AS Disebut Kehilangan 39 Pesawat dalam Perang dengan Iran, Pentagon Tak Berkomentar

oleh -6 Dilihat
AS Disebut Kehilangan 39 Pesawat dalam Perang dengan Iran, Pentagon Tak Berkomentar

KabarDermayu.com – Amerika Serikat dilaporkan telah kehilangan 39 pesawat dalam konflik yang terjadi melawan Iran sejak 28 Februari. Pernyataan ini diungkapkan oleh Ed Case, seorang anggota kongres dari Partai Demokrat AS, yang mengacu pada laporan dari media pertahanan Amerika.

Case menyampaikan hal ini dalam sebuah sidang khusus komite Senat ketika ia mempertanyakan Kepala Keuangan Pentagon, Jay Hurst, mengenai besarnya kerugian yang dialami selama konflik berlangsung.

“Kami telah kehilangan sekitar 39 pesawat, berdasarkan laporan The War Zone, dan itu laporan lama yang sudah hampir sebulan,” kata Case seperti dikutip dari laman Anadoulu Agency pada Rabu, 13 Mei 2026.

Ia kemudian menanyakan kepada Hurst apakah Pentagon telah melakukan perhitungan biaya pemulihan untuk seluruh pesawat tersebut.

Baca juga: IHSG Merah, Bursa Asia dan Wall Street Terdampak Perlambatan Gencatan Senjata AS-Iran

Hurst menjawab bahwa rincian tersebut akan disampaikan secara tertulis, dengan alasan perlunya melakukan pengecekan silang terhadap data pesawat.

“Ada biaya terkait hal itu, Pak, tetapi saya akan menyampaikan rinciannya secara tertulis karena, seperti yang bisa dibayangkan, biaya perbaikan pesawat sangat sulit dihitung. Kami ingin melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pesawat-pesawat itu sebelum memperkirakan total biayanya,” lanjutnya.

Laporan yang dirujuk oleh Case, yang diterbitkan oleh The War Zone, sebuah media pertahanan AS, menyatakan bahwa Angkatan Udara AS telah melakukan hampir 13.000 penerbangan selama konflik dengan Iran.

Menurut laporan tersebut, sebanyak 39 pesawat dilaporkan hancur dan 10 lainnya mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.

Laporan itu juga mengklaim bahwa jet tempur F-35A Lightning II terkena serangan di wilayah udara Iran, dan sebuah pesawat Boeing E-3 Sentry juga ikut hancur.

Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Pejabat Pentagon pun tidak memberikan konfirmasi terbuka mengenai dugaan kerugian tersebut selama sidang berlangsung.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Hal ini kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan ke Israel dan sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, yang juga berujung pada penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun pembicaraan di Islamabad dilaporkan gagal mencapai kesepakatan jangka panjang.

Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.