AS Meraup Keuntungan dari Sanksi Iran, Trump Akui Mirip Bajak Laut

oleh -5 Dilihat
AS Meraup Keuntungan dari Sanksi Iran, Trump Akui Mirip Bajak Laut

KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengibaratkan tindakan Angkatan Laut AS dalam menyita kapal-kapal Iran di Selat Hormuz seperti “bajak laut”. Ia menyebut aksi tersebut sebagai “bisnis yang sangat menguntungkan” sebagai bagian dari blokade laut yang diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Kami mengambil alih kapal, kami mengambil alih kargo, kami mengambil alih minyak. Ini bisnis yang sangat menguntungkan,” ujar Trump dalam sebuah acara di Florida pada Jumat, 1 Mei 2026, seperti dilaporkan Reuters. Ia menambahkan, “Kami seperti bajak laut. Kami agak seperti bajak laut tetapi kami tidak bermain-main.”

Baca juga di sini: Solusi BBM Diesel Mahal: Tetap dengan Innova Reborn atau Beralih ke Zenix?

Penyitaan kapal-kapal Iran oleh Amerika Serikat ini terjadi setelah beberapa kapal Iran meninggalkan pelabuhan Iran. Selain itu, kapal kontainer yang dikenai sanksi dan kapal tanker Iran juga turut disita di perairan Asia.

Situasi ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global dan gas alam cair (LNG). Iran sebelumnya telah memblokir hampir seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz, kecuali kapalnya sendiri, sejak awal perang.

Trump membela kebijakan blokade tersebut dengan alasan bahwa Iran telah menggunakan Selat Hormuz sebagai “senjata” selama bertahun-tahun. Ia menyatakan bahwa ketika Iran mengancam akan menutup selat tersebut, AS kemudian membalasnya dengan menutup selat tersebut untuk kapal-kapal Iran.

Terkait perundingan nuklir yang sedang berlangsung dengan Iran, Trump menyuarakan keraguan apakah kesepakatan benar-benar diinginkan. “Sejujurnya, mungkin lebih baik kita tidak membuat kesepakatan sama sekali,” katanya, meskipun ia juga mengakui bahwa situasi saat ini tidak dapat dibiarkan berlanjut.

Ketegangan semakin memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan ini memicu balasan dari Teheran terhadap sekutu-sekutu AS di Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, serta berujung pada penutupan Selat Hormuz.

Perang yang terjadi telah menyebabkan kenaikan harga minyak dunia. Trump sendiri telah menghadapi berbagai kritik atas komentarnya terkait konflik tersebut, termasuk ancaman untuk menghancurkan seluruh peradaban Iran bulan lalu. Banyak pakar AS berpendapat bahwa serangan Amerika terhadap Iran mungkin dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, terutama setelah ancaman Trump untuk menargetkan infrastruktur sipil.