Mengapa Trump Minta Netanyahu Hentikan Serangan ke Lebanon, Alasan Sebenarnya Terungkap

oleh -3 Dilihat
Mengapa Trump Minta Netanyahu Hentikan Serangan ke Lebanon, Alasan Sebenarnya Terungkap

KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang awalnya tampak bersatu dalam kampanye melawan Iran pada 28 Februari, kini menunjukkan perbedaan pandangan yang kian melebar.

Perbedaan ini muncul seiring berjalannya konflik, di mana prioritas politik kedua pemimpin mulai mengarah pada tujuan yang berbeda.

Ketegangan terbaru mencuat setelah Israel melancarkan serangan ke Beirut, sebagai upaya melawan Hezbollah yang didukung Iran. Hal ini terjadi meskipun Trump sebelumnya telah memperingatkan agar serangan tersebut tidak dilakukan.

Iran kemudian membalas dengan menembakkan rudal balistik ke Israel, menandai eskalasi baru setelah berbulan-bulan pertempuran.

Meskipun serangan langsung dari kedua belah pihak telah mereda, Netanyahu tampaknya tidak berniat mengurangi intensitas operasi militernya. Sebaliknya, Trump terus mendorong upaya perundingan untuk mengakhiri konflik.

Pemilu Membentuk Prioritas yang Berbeda

Menurut laman NDTV pada Sabtu, 13 Juni 2026, alasan utama di balik jurang pemisah yang semakin lebar antara Trump dan Netanyahu adalah faktor politik domestik. Trump sedang menghadapi pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada November mendatang dan ingin segera mengakhiri perang dengan Iran yang tidak populer di kalangan publik.

Konflik ini telah menyebabkan kenaikan harga bahan bakar di AS, dengan harga rata-rata bensin reguler melebihi 4 dolar AS per galon atau setara Rp 71.664 di banyak wilayah. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pemerintahannya.

Sementara itu, Netanyahu, yang juga menghadapi pemilihan umum tahun ini, memiliki tantangan yang berbeda. Ia perlu menunjukkan kepada publik bahwa Israel berhasil meraih kemenangan atas Iran dan sekutunya, di tengah kritik yang terus muncul akibat serangan Hezbollah yang masih berlanjut.

Ketika AS dan Israel pertama kali menyerang Iran, kedua pemimpin menunjukkan sikap yang kompak.

Netanyahu menyatakan bahwa misi tersebut bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran, menghancurkan program nuklir dan rudal balistiknya, serta menggulingkan pemerintah Iran. Di sisi lain, Trump mengumumkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran dalam serangan awal dan menyerukan rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.

Namun, tujuan keduanya kemudian tampak berbeda. Trump terlihat lebih fokus pada pencapaian hasil yang cepat, sementara Netanyahu menginginkan kampanye yang lebih luas terhadap Iran dan para sekutunya, meskipun itu berarti perang akan berlangsung lebih lama.

Lebanon Menjadi Titik Perselisihan Utama

Perbedaan pendapat antara kedua pemimpin paling terlihat dalam isu Lebanon, di mana Israel terus menjalankan operasi militer terhadap Hezbollah meskipun berbagai upaya gencatan senjata sedang dilakukan.

Iran bersikeras bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan regional yang lebih luas. Trump tampaknya terbuka terhadap gagasan tersebut sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan, sementara Iran memperingatkan bahwa mereka dapat kembali menyerang Israel jika serangan terhadap Lebanon terus berlanjut.

Namun, Israel ingin melanjutkan kampanyenya sampai ancaman Hezbollah benar-benar dihilangkan. Ketegangan itu akhirnya terlihat secara terbuka ketika Trump mengakui bahwa ia sempat terlibat percakapan sengit dengan Netanyahu terkait masalah tersebut.

Ia mengatakan merasa frustrasi karena tindakan Israel terhadap Hezbollah berpotensi merusak proses negosiasi dengan Iran.

Menurut laporan Axios, dalam sebuah percakapan telepon, Trump menyebut Netanyahu gila dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih.

“Anda benar-benar gila. Anda mungkin sudah berada di penjara kalau bukan karena saya. Saya sedang menyelamatkan Anda. Sekarang semua orang membenci Anda. Semua orang membenci Israel karena hal ini,” kata Trump kepada Netanyahu, menurut laporan Axios.

Seorang sumber juga mengatakan bahwa pada satu titik Trump sangat marah kepada Netanyahu dan mempertanyakan tindakan sang PM Israel itu.

“Apa sebenarnya yang sedang Anda lakukan?,” kata Trump.

Trump mengkritik serangan Israel ke Beirut yang menurut otoritas Lebanon menghantam sebuah bangunan tempat tinggal, menewaskan dua orang dan melukai 20 lainnya.

Setelah Iran membalas dengan meluncurkan rudal, Trump menyerukan sikap menahan diri dan mengatakan kepada Financial Times bahwa dia yang mengambil semua keputusan dan bukan Netanyahu.

Namun beberapa jam kemudian, Israel kembali melancarkan serangan ke Iran.

Kedua Pihak Berusaha Meredam Isu Perpecahan

Pejabat dari kedua kubu berupaya mengecilkan perbedaan yang terjadi. Trump mendorong pendekatan yang lebih hati-hati agar pasar tidak terguncang dan jalur diplomasi tetap terbuka. Sebaliknya, para pejabat Israel berpendapat bahwa serangan Iran memerlukan respons yang tegas.

Dalam sebuah podcast New York Post, Trump mengakui bahwa dirinya memang menyebut Netanyahu “gila” dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih.

“Benar, saya mengatakannya,” ujar Trump.

Namun ia menambahkan, dirinya tidak bisa dibilang marah.

“Saya hanya sedikit terganggu karena dia terus berperang dengan Lebanon. Pada satu titik saya berkata, ‘Bibi, kita harus menghentikan ini. Kita harus menghentikannya’,” kata presiden AS itu.

Meski demikian, Trump segera menegaskan bahwa hubungannya dengan Netanyahu tetap dekat meskipun sempat terjadi perselisihan.

“Kami telah bekerja sama dengan baik. Saya sangat menyukai Bibi,” katanya.

Sementara itu, Netanyahu menolak anggapan bahwa dirinya memiliki perbedaan serius dengan Trump. Setelah serangan terbaru, ia mengatakan, Israel memiliki hak penuh untuk membela diri, dan pihaknya akan menggunakan hak tersebut sejauh yang diperlukan.

“Saya menyampaikan hal ini kepada Anda sebagaimana saya menyampaikannya dalam percakapan yang baik dengan sahabat saya, Presiden Trump, dengan penuh penghargaan dan rasa hormat,” kata dia.

Bukan Pertama Kalinya Berbeda Pendapat

Ini bukan pertama kalinya Trump dan Netanyahu berbeda pandangan secara terbuka mengenai keputusan militer. Sebelumnya dalam konflik yang sama, Trump mengkritik keputusan Netanyahu untuk menyerang fasilitas gas strategis milik Iran, yang kemudian memicu serangan balasan Iran terhadap target-target energi di kawasan Teluk.

“Saya sudah mengatakan kepadanya, ‘Jangan lakukan itu’. Kami memiliki hubungan yang sangat baik. Semua terkoordinasi, tetapi terkadang dia tetap melakukan sesuatu,” ujar Trump.

Saat ini, Amerika Serikat dan Iran sedang menjalankan pembicaraan tidak langsung melalui mediator Pakistan tanpa keterlibatan Israel dalam proses negosiasi tersebut. Kesepakatan yang mungkin tercapai nantinya dapat memungkinkan pemerintahan Iran tetap berkuasa, sambil tetap mengizinkan program nuklir terbatas yang berada di bawah berbagai pembatasan.