Banyak Armada Boros BBM, Sistem Monitoring Emisi Jadi Perhatian

oleh -6 Dilihat
Banyak Armada Boros BBM, Sistem Monitoring Emisi Jadi Perhatian

KabarDermayu.com – Meningkatnya kesadaran industri akan pentingnya penghitungan emisi karbon yang akurat, terutama di sektor transportasi dan logistik, mendorong adopsi teknologi baru. Dorongan ini dipicu oleh perkembangan regulasi serta tuntutan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam operasional perusahaan.

Namun, banyak perusahaan masih menghadapi kendala dalam mengintegrasikan data armada mereka. Kurangnya visibilitas secara real-time menghambat pengambilan keputusan yang optimal terkait efisiensi distribusi dan strategi penurunan emisi karbon.

Studi kasus di Indonesia menunjukkan bahwa waktu kendaraan yang terlalu lama dalam kondisi idle dan rute distribusi yang kurang efisien menjadi penyebab utama pemborosan bahan bakar. Konsekuensinya, emisi karbon dari aktivitas kendaraan pun ikut meningkat.

Untuk menjawab tantangan ini, TransTrack memperkenalkan Smart Fleet Management System yang berbasis Internet of Things (IoT). Sistem ini memungkinkan pemantauan performa armada secara real-time sekaligus menghitung emisi karbon secara otomatis berdasarkan aktivitas kendaraan.

Baca juga: Rupiah Menguat di Tengah Kekhawatiran Fiskal Akibat Kenaikan Harga Minyak Dunia

Pendiri dan CEO TransTrack, Anggia Meisesari, menyatakan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada kesadaran, melainkan pada eksekusi di lapangan. Banyak perusahaan telah memiliki komitmen ESG, namun belum didukung oleh visibilitas data yang memadai.

“Banyak perusahaan sudah memiliki komitmen ESG, tapi belum didukung visibilitas data yang memadai,” ujar Anggia dalam keterangan resminya pada Senin, 4 Mei 2026.

Dengan sistem yang berbasis data ini, perusahaan dapat mengidentifikasi sumber inefisiensi. Hal ini mencakup pola berkendara pengemudi, lamanya waktu berhenti, hingga perencanaan rute. Informasi ini menjadi dasar penting untuk menekan biaya operasional sekaligus mengurangi emisi karbon secara lebih konkret.

TransTrack mengklaim bahwa teknologinya telah diadopsi di berbagai sektor, termasuk logistik dan pertambangan. Hasilnya menunjukkan peningkatan produktivitas armada hingga 40 persen dan penurunan biaya operasional sampai 30 persen. Selain efisiensi, sistem ini juga mendukung pelaporan emisi yang lebih akurat berdasarkan data.

Namun, penerapan teknologi saja tidak cukup tanpa kesiapan sumber daya manusia. Oleh karena itu, melalui TransTrack Academy, perusahaan menyelenggarakan Mini Bootcamp Sustainable Supply Chains yang akan berlangsung secara daring pada 8 Mei 2026.

Direktur TransTrack Academy, Budi Santosa Chulasoh, menilai masih ada kesenjangan antara pemahaman konsep dan praktik di lapangan. “Masih ada gap antara konsep keberlanjutan dengan implementasi operasional sehari-hari,” katanya.

Program ini dirancang dengan pendekatan studi kasus agar para profesional dapat langsung memahami penerapan strategi berbasis data dalam operasional mereka. Tujuannya adalah mempercepat adopsi praktik rantai pasok yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Ke depan, integrasi teknologi digital dan peningkatan kompetensi SDM diproyeksikan menjadi kunci utama dalam menekan emisi karbon sekaligus menjaga efisiensi operasional. Dengan langkah ini, industri tidak hanya meningkatkan daya saing, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan secara terukur.