Mapag Sri 2026 Tawangsari: Eva Rosyani Lestarikan Adat Wayang Kulit

oleh -1 Dilihat
Mapag Sri 2026 Tawangsari: Eva Rosyani Lestarikan Adat Wayang Kulit

KabarDermayu.com – Desa Tawangsari, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, baru-baru ini menggelar perhelatan akbar yang sarat makna, yaitu Mapag Sri 2026. Acara yang bertujuan melestarikan tradisi dan menyambut datangnya panen raya ini menjadi bukti nyata semangat gotong royong dan kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhur. Uniknya, Mapag Sri kali ini diwarnai dengan pementasan wayang kulit yang memukau, sebuah inisiatif dari Kuwu Desa Tawangsari, Eva Rosyani, untuk menghadirkan nuansa budaya yang berbeda.

Tradisi Mapag Sri sendiri memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata “Mapag” berarti menjemput atau menyambut, sementara “Sri” merujuk pada Dewi Sri, dewi kesuburan dalam kepercayaan masyarakat agraris Nusantara. Dengan demikian, Mapag Sri adalah ritual penyambutan Dewi Sri yang diharapkan membawa berkah limpahan hasil panen.

Pelaksanaan Mapag Sri di Desa Tawangsari tahun ini terasa lebih istimewa berkat sentuhan inovatif dari Kuwu Eva Rosyani. Beliau tidak hanya ingin menjaga kelestarian ritual tradisional, tetapi juga berupaya agar tradisi tersebut tetap relevan dan menarik bagi generasi muda. Pilihan untuk menyajikan wayang kulit sebagai bagian dari perayaan adalah langkah strategis yang brilian.

Wayang kulit, sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Indonesia yang kaya akan nilai sejarah dan budaya, dipilih untuk menjadi magnet dalam Mapag Sri 2026. Pementasan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi media edukasi yang efektif untuk mengenalkan kembali kisah-kisah epik dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap lakonnya.

Kuwu Eva Rosyani dalam sambutannya menyampaikan betapa pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah arus modernisasi. “Kita harus bangga dengan warisan budaya yang kita miliki. Mapag Sri adalah momen sakral untuk bersyukur atas rezeki yang diberikan Tuhan melalui bumi pertiwi. Dengan menyajikan wayang kulit, kami berharap dapat membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya adiluhung,” ujar Kuwu Eva Rosyani.

Pementasan wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk berhasil menarik perhatian ribuan warga, baik dari Desa Tawangsari maupun daerah sekitarnya. Dalang ternama tampil memukau, membawakan lakon yang sarat pesan moral dan relevan dengan kehidupan masyarakat agraris. Antusiasme penonton terlihat jelas, mulai dari anak-anak hingga orang tua, semua larut dalam alunan gamelan dan keindahan cerita yang disajikan.

Selain pementasan wayang kulit, Mapag Sri 2026 juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan lain yang mencerminkan kekayaan budaya Desa Tawangsari. Tarian tradisional, parade hasil bumi, dan berbagai perlombaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat turut memeriahkan suasana. Semuanya dilakukan dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur.

Mapag Sri bukan sekadar ritual seremonial, melainkan cerminan dari hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Ini adalah tradisi yang mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, menghargai jerih payah para petani, dan mensyukuri setiap nikmat yang diberikan.

Keberhasilan Mapag Sri 2026 di Desa Tawangsari ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kabupaten Indramayu, bahkan di seluruh Indonesia. Inisiatif Kuwu Eva Rosyani untuk memadukan tradisi kuno dengan seni pertunjukan klasik seperti wayang kulit menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara-cara yang kreatif dan inovatif, sehingga dapat terus hidup dan berkembang di masa depan.

Dengan semangat Mapag Sri, masyarakat Desa Tawangsari berharap agar Dewi Sri senantiasa memberikan berkah melimpah, hasil panen yang berlimpah ruah, dan keberkahan bagi seluruh penduduk. Lebih dari itu, melalui perayaan ini, diharapkan nilai-nilai luhur budaya bangsa dapat terus tertanam kuat di hati setiap generasi.