Bursa Asia dan Wall Street Tertekan oleh Ketegangan Iran-AS, IHSG Turun Tajam

oleh -6 Dilihat
Bursa Asia dan Wall Street Tertekan oleh Ketegangan Iran-AS, IHSG Turun Tajam

KabarDermayu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan anjlok 138 poin atau 2,06 persen pada pembukaan perdagangan Senin, 18 Mei 2026, dibuka di level 6.584.

Kondisi ini diprediksi akan berlanjut oleh Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman. Ia memperkirakan IHSG akan melanjutkan koreksinya seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah.

Fanny menjelaskan bahwa kenaikan tajam harga minyak dunia dan belum terselesaikannya negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi penyebab utama aksi jual besar-besaran di pasar saham Asia pada Jumat pekan lalu.

Kekhawatiran investor terhadap lonjakan inflasi dan tekanan suku bunga kembali meningkat. Hal ini diperparah oleh gangguan di Selat Hormuz yang terus membatasi arus perdagangan energi global.

Kondisi serupa juga dialami bursa saham Asia lainnya. Indeks Kospi anjlok lebih dari 6 persen, terutama pada saham-saham teknologi dan semikonduktor. Saham Samsung Electronics tercatat melemah 8,6 persen, sementara SK Hynix turun 7,7 persen.

Tekanan di pasar saham ini terjadi di tengah tren penguatan yang sebelumnya didorong oleh harapan tercapainya gencatan senjata di Timur Tengah.

Selain Kospi, indeks Nikkei 225 Jepang juga turun 1,99 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,62 persen, dan ASX 200 Australia berkurang 0,11 persen.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dilaporkan sepakat untuk menolak Iran memiliki senjata nuklir dan mendukung jalur perdagangan di Selat Hormuz tetap terbuka.

Baca juga: 32 WNI Dicegat di Bandara Soekarno-Hatta Diduga Hendak ke Tanah Suci Lewat China

Fanny Suherman memberikan pandangannya mengenai level teknikal IHSG. Menurutnya, support IHSG berada di kisaran 6.500-6.600, sementara resistance berada di rentang 6.780-6.850.

Pasar saham Wall Street juga ditutup turun pada perdagangan Jumat pekan lalu. Kekhawatiran terhadap inflasi global kembali membayangi investor.

Lonjakan harga minyak akibat memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah mendorong investor untuk beralih dari aset berisiko ke obligasi pemerintah AS.

Indeks Dow Jones tercatat turun 1,07 persen, S&P 500 melemah 1,24 persen, dan Nasdaq terkoreksi signifikan sebesar 1,54 persen.

Tekanan di pasar Wall Street dipicu oleh lonjakan tajam harga minyak mentah. Pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, memicu keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata antara kedua negara.

Gangguan di Selat Hormuz juga menjadi perhatian pasar, karena dikhawatirkan dapat memburuk dan mengganggu pasokan energi global.

Selain itu, Jumat menandai hari terakhir Jerome Powell menjabat sebagai Ketua The Fed. Pergantian kepemimpinan The Fed kepada Kevin Warsh berpotensi menghadapi tekanan untuk kembali menaikkan suku bunga jika inflasi akibat ketegangan Iran terus meningkat.