Dampak Krisis Pupuk, Jutaan Orang Terancam Kelaparan

oleh -5 Dilihat
Dampak Krisis Pupuk, Jutaan Orang Terancam Kelaparan

KabarDermayu.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi krisis kelaparan yang mengancam puluhan juta jiwa di seluruh dunia.

Ancaman ini timbul akibat terganggunya distribusi pupuk global, terutama yang melewati jalur strategis Selat Hormuz.

Gangguan tersebut merupakan imbas dari ketegangan yang memanas antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Selat Hormuz sendiri memegang peranan krusial, sebab sekitar sepertiga dari total distribusi pupuk dunia melewati kawasan ini.

Jorge Moreira da Silva, kepala satuan tugas PBB untuk penanganan krisis pupuk global, menekankan bahwa dunia kini berada dalam perlombaan melawan waktu. Tujuannya adalah untuk mencegah eskalasi krisis kemanusiaan yang lebih besar.

“Kita hanya memiliki beberapa minggu ke depan untuk mencegah apa yang kemungkinan akan menjadi krisis kemanusiaan besar,” ujar Moreira da Silva, mengutip dari Channel News Asia pada Selasa, 12 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa situasi ini berpotensi mendorong tambahan 45 juta orang terjerumus ke dalam kondisi kelaparan ekstrem.

Terhambatnya distribusi pupuk ini berdampak langsung pada pasokan bahan baku esensial untuk pertanian, seperti amonia, sulfur, dan urea. Kondisi ini menjadi sangat mengkhawatirkan mengingat banyak negara tengah memasuki periode musim tanam.

Menanggapi situasi ini, PBB telah membentuk satuan tugas khusus sejak Maret lalu. Satuan tugas ini bertugas mencari solusi agar pengiriman pupuk dan bahan bakunya tetap dapat melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan.

Moreira da Silva mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan upaya diplomasi dengan lebih dari 100 negara untuk menggalang dukungan internasional. Namun, ia mencatat bahwa negara-negara produsen pupuk utama seperti Amerika Serikat, Iran, dan beberapa negara Teluk, belum sepenuhnya memberikan dukungan terhadap mekanisme yang diusulkan.

Baca juga: Wali Kota Arcadia AS Mengaku Jadi Agen Intelijen China

Ia menegaskan bahwa musim tanam tidak dapat ditunda lebih lama lagi. “Masalahnya, musim tanam tidak bisa menunggu,” tegasnya.

PBB memproyeksikan negara-negara di benua Afrika dan Asia akan menjadi wilayah yang paling rentan terdampak apabila distribusi pupuk tidak segera pulih.

Meskipun harga pangan global belum menunjukkan lonjakan yang drastis, Moreira da Silva mengindikasikan bahwa biaya pupuk sendiri telah mengalami kenaikan yang signifikan. “Ada kenaikan besar-besaran pada biaya pupuk,” katanya.

Kenaikan harga pupuk ini dikhawatirkan akan menurunkan produktivitas pertanian secara keseluruhan. Akibatnya, hal ini berpotensi memicu lonjakan harga pangan dunia dalam beberapa bulan mendatang.

Menurutnya, krisis ini sebenarnya dapat diredam jika ada kesepakatan politik dari semua pihak yang terlibat. Ia berpendapat bahwa dengan dilayarkannya sekitar lima kapal pupuk per hari melalui Selat Hormuz, risiko ketidakamanan pangan global dapat diminimalkan.

“Kita tidak bisa menunda apa yang sebenarnya mungkin dilakukan, dan apa yang mendesak untuk dilakukan, yaitu membiarkan pupuk melintasi selat dan melalui hal itu meminimalkan risiko ketidakamanan pangan besar-besaran di tingkat global,” paparnya.

Moreira da Silva menambahkan bahwa sekalipun Selat Hormuz dibuka kembali saat ini, dunia masih membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan untuk memulihkan rantai pasok pupuk global sepenuhnya.

“Ini hanya masalah waktu. Jika kita tidak menghentikan sumber krisis ini segera, maka kita harus menghadapi konsekuensinya melalui bantuan kemanusiaan,” pungkasnya.