Dunia Terancam Krisis Energi, Trump Sebut Xi Jinping Siap Pengaruhi Iran

oleh -4 Dilihat
Dunia Terancam Krisis Energi, Trump Sebut Xi Jinping Siap Pengaruhi Iran

KabarDermayu.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Presiden China Xi Jinping telah menyatakan kesiapannya untuk menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Klaim ini disampaikan Trump menyusul pertemuan bilateral antara kedua pemimpin di Beijing selama dua hari, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Pernyataan Trump tersebut belum mendapatkan tanggapan tegas dari pemerintah China. Hingga kini, belum ada sinyal konkret dari Beijing mengenai keterlibatan mereka dalam upaya menekan Teheran untuk membuka jalur pelayaran strategis yang sangat penting bagi distribusi minyak dunia tersebut.

Trump menyatakan, “Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, dan kami ingin Selat Hormuz kembali dibuka,” seperti dikutip dari Reuters pada Minggu, 17 Mei 2026. Pernyataan ini mengindikasikan harapan AS agar Iran mengakhiri blokade yang berdampak pada krisis energi global.

Selat Hormuz menjadi titik pusat perhatian internasional setelah Iran secara efektif menutup akses pelayaran di wilayah tersebut. Penutupan ini terjadi pasca serangan militer gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Dampaknya, jalur vital yang sebelumnya dilalui hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia ini memicu krisis energi global.

Kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi internasional menyebabkan lonjakan harga minyak. Harga minyak mentah tercatat melonjak tajam, bahkan menyentuh kisaran US$109 per barel.

Meskipun Trump mengklaim adanya dukungan dari Xi Jinping untuk pembukaan Selat Hormuz, pemerintah China hingga kini belum menunjukkan sikap yang konkret dalam menekan Iran. Kementerian Luar Negeri China hanya menyatakan bahwa konflik yang terjadi adalah sebuah situasi yang “tidak seharusnya terjadi dan tidak punya alasan untuk terus berlanjut”.

Di sisi lain, Iran dilaporkan mulai mempersiapkan mekanisme baru untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengumumkan bahwa akan disiapkan jalur khusus. Hanya kapal dagang dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan mendapatkan akses melalui jalur tersebut.

Iran juga dikabarkan akan memberlakukan biaya tertentu untuk layanan khusus yang ditawarkan dalam mekanisme baru tersebut. Hal ini menunjukkan upaya Iran untuk mengontrol dan mendapatkan keuntungan dari lalu lintas di selat strategis itu.

Baca juga: Prabowo: Banyak Negara Minta Bantuan Pupuk RI Akibat Konflik Iran

Situasi semakin kompleks dengan Amerika Serikat yang terus melanjutkan blokade pelabuhan terhadap Iran, meskipun serangan langsung sempat dihentikan bulan lalu. Militer AS mengklaim telah mengalihkan puluhan kapal komersial untuk memastikan blokade tersebut tetap berjalan efektif.

Teheran secara tegas menyatakan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sampai Washington menghentikan blokade yang diberlakukan. Donald Trump bahkan memberikan ancaman akan kembali melancarkan serangan jika Iran menolak untuk mencapai kesepakatan baru yang menguntungkan kedua belah pihak.

Ketegangan yang terus berlanjut ini turut memengaruhi dinamika politik domestik Amerika Serikat, terutama menjelang pemilihan Kongres AS yang dijadwalkan pada November mendatang. Upaya diplomasi antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu, setelah kedua pihak saling menolak proposal terbaru yang diajukan pekan lalu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa negaranya masih membuka peluang untuk diplomasi dan menyambut keterlibatan China dalam pembicaraan damai. Namun, ia juga menekankan bahwa Iran tidak lagi sepenuhnya mempercayai Amerika Serikat, terutama setelah serangan udara yang terjadi di tengah proses negosiasi sebelumnya.

Sementara itu, Pakistan dilaporkan turut berperan sebagai mediator dalam komunikasi antara Washington dan Teheran. Media pemerintah Iran melaporkan adanya pembahasan intensif mengenai peluang untuk melanjutkan perundingan damai antara kedua negara yang bersitegang.

Di tengah konflik yang terus berkecamuk, Iran juga dilaporkan memperketat penindakannya terhadap pihak-pihak yang dianggap berkolaborasi dengan Israel maupun Amerika Serikat. Otoritas kehakiman Iran mengumumkan bahwa 39 orang telah dieksekusi sejak perang dimulai. Mereka dituduh melakukan spionase, terorisme, dan terlibat dalam kerusuhan bersenjata.

Hingga kini, belum terlihat tanda-tanda yang jelas bahwa perang ini akan segera berakhir. Dunia kini menanti dengan cemas, apakah China benar-benar akan memainkan peran besar dalam meredakan konflik yang memanas, atau justru memilih untuk tetap menjaga jarak di tengah pertarungan sengit antara Washington dan Teheran.