Harga LPG Subsidi Dijamin ESDM Tak Naik Meski Rupiah Melemah

oleh -5 Dilihat
Harga LPG Subsidi Dijamin ESDM Tak Naik Meski Rupiah Melemah

KabarDermayu.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, memberikan jaminan bahwa harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi tiga kilogram (kg) tidak akan mengalami kenaikan. Kepastian ini disampaikan meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tengah mengalami pelemahan.

“Belum ada perubahan. Harga LPG subsidi tetap, tidak ada (perubahan),” tegas Laode Sulaeman saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, pada Senin, 18 Mei 2026.

Jaminan ini juga berlaku untuk harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. Menurut Laode, baik harga LPG subsidi maupun BBM subsidi tidak akan berubah hingga akhir tahun 2026. Hal ini sejalan dengan penegasan yang sebelumnya telah disampaikan oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.

“Kan sudah diumumkan Pak Menteri. Sampai akhir tahun (tidak berubah),” ujarnya, mengkonfirmasi kebijakan tersebut.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah di pasar spot tercatat ditutup melemah. Rupiah berada di level Rp 17.668 per dolar AS, sebuah penurunan sebesar 71 poin atau 0,40 persen pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Level ini merupakan posisi terendah rupiah sepanjang masa.

Melemahnya rupiah ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk sentimen global. Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa kekhawatiran pelaku pasar meningkat akibat pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kondisi kritis dalam negosiasi dengan Iran.

Kekhawatiran tersebut diperparah dengan potensi gangguan pelayaran di Selat Hormuz. Hal ini berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia dan selanjutnya menambah tekanan pada inflasi energi.

“Perang dengan Iran mulai berdampak pada perekonomian AS karena harga minyak yang lebih tinggi menyebabkan harga bahan bakar menjadi lebih mahal, dan para ekonom memperkirakan melihat dampak putaran kedua dalam beberapa bulan mendatang,” jelas Ibrahim dalam riset hariannya pada Senin, 18 Mei 2026.

Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga menyoroti pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada tanggal 14–15 Mei 2026. Pertemuan ini berpotensi memengaruhi arah ketegangan dagang, rantai pasok global, serta minat investor terhadap aset negara berkembang.

Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) dipastikan akan tetap aktif di pasar keuangan. BI akan terus melakukan stabilisasi pasar secara berkesinambungan, baik di pasar offshore maupun domestik.

Ibrahim menambahkan, BI diperkirakan akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak pembukaan perdagangan pada 18 Mei 2026. Intervensi ini akan dilakukan melalui pasar valas spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Meskipun rupiah mengalami pelemahan, pemerintah melalui Kementerian ESDM telah mengambil langkah tegas untuk menjaga stabilitas harga komoditas penting seperti LPG subsidi.

Baca juga: Dukungan KDM untuk Kajian Akademik Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih

Kepastian ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat, terutama rumah tangga yang sangat bergantung pada LPG tiga kilogram sebagai sumber energi utama.

Pemerintah terus berupaya menyeimbangkan antara menjaga stabilitas harga energi subsidi dan kondisi perekonomian nasional yang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar mata uang asing.

Dengan jaminan dari Dirjen Migas ESDM, masyarakat dapat bernapas lega karena harga LPG subsidi tidak akan menjadi beban tambahan di tengah ketidakpastian ekonomi.

Kebijakan ini juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam melindungi daya beli masyarakat menengah ke bawah.

Hal ini penting mengingat LPG tiga kilogram merupakan salah satu kebutuhan pokok yang distribusinya harus tetap terjaga dengan baik.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap berbagai sektor, termasuk harga energi.

Koordinasi antar lembaga, seperti Kementerian ESDM dan Bank Indonesia, menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.

Diharapkan, langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah dapat memberikan kepastian dan stabilitas bagi masyarakat.

Kenaikan harga LPG subsidi dapat memicu inflasi lebih lanjut dan berdampak negatif pada perekonomian rumah tangga.

Oleh karena itu, jaminan dari Kementerian ESDM ini sangat krusial bagi stabilitas ekonomi makro.

Masyarakat dihimbau untuk tetap bijak dalam menggunakan energi subsidi agar ketersediaannya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan.