KabarDermayu.com – Roy Suryo memberikan sorotan tajam terhadap langkah mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengumpulkan rekan-rekan kuliahnya dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Surakarta, Jawa Tengah, pada Senin, 20 Juli 2026.
Pertemuan tersebut dinilai oleh Roy Suryo memiliki potensi masalah, terutama karena dilakukan menjelang dimulainya persidangan kasus dugaan pencemaran nama baik yang berkaitan dengan tudingan ijazah palsu. Dalam pandangan Roy, langkah ini dapat memicu persepsi publik mengenai adanya upaya pengondisian saksi.
Diketahui bahwa beberapa rekan Jokowi yang hadir dalam pertemuan tersebut memang berpeluang untuk dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan yang menyeret Tifauzia Tyassuma, atau yang lebih dikenal sebagai dokter Tifa, sebagai terdakwa.
Roy Suryo menekankan bahwa dalam koridor hukum, terdapat prinsip etika yang sangat fundamental yakni saksi harus memberikan keterangan secara independen dan tanpa tekanan atau pengaruh dari pihak manapun.
“Ya lucu aja. Sebenarnya etika saksi itu enggak boleh dikondisikan. Larangan ya,” ujar Roy Suryo saat memberikan keterangan pada Rabu, 22 Juli 2026.
Lebih lanjut, Roy menyoroti adanya informasi mengenai fasilitasi bagi para saksi untuk menghadiri persidangan secara bersama-sama. Menurutnya, jika benar pihak tertentu mengakomodasi transportasi dan perjalanan para saksi, maka hal tersebut mencederai etika proses pembuktian di pengadilan.
“Itu sudah pelanggaran. Itu enggak elok,” tegas Roy Suryo. Dalam kesempatan yang sama, ia juga melontarkan sindiran melalui kaus bergambar uang pecahan Rp100 ribu, yang mengisyaratkan dugaan adanya motif lain dalam pertemuan tersebut.
Di sisi lain, Jokowi sendiri tidak menampik bahwa pertemuan dengan teman-teman seangkatannya memang ditujukan sebagai persiapan menghadapi sidang perkara dugaan pencemaran nama baik terkait ijazah tersebut. Setelah pertemuan di kediamannya, rombongan tersebut diketahui pergi bersama-sama menuju sebuah rumah makan untuk santap siang.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian dalam pertemuan tersebut adalah Mulyono, yang merupakan rekan kuliah Jokowi. Secara total, terdapat sembilan rekan seangkatan yang hadir dalam agenda tersebut. Mulyono sendiri sempat menjadi sorotan publik karena kesamaan namanya dengan nama kecil Jokowi, sebuah isu yang sempat viral sejak reuni Fakultas Kehutanan UGM pada 26 Juli 2025.
Nama Mulyono bahkan sempat diterpa tudingan miring dari dokter Tifa yang menyebutnya bukan alumni, melainkan calo tiket. Namun, data yang diungkap oleh kader PSI, Dian Sandi Utama, pada 30 Juli 2025 memberikan gambaran berbeda. Berdasarkan data tersebut, Mulyono lahir di Sukoharjo pada 19 Juni 1961 dan merupakan alumni SMA Negeri Sukoharjo tahun 1980.
Data akademis menunjukkan bahwa Mulyono tercatat sebagai mahasiswa angkatan 1980/1981 dengan nomor induk mahasiswa 80/34419/KT/1684 di Fakultas Kehutanan UGM. Ia dinyatakan lulus pada tahun 1987, dengan nama ayah yang tercatat sebagai Suwarno. Seluruh data ini dipublikasikan untuk membantah spekulasi mengenai identitas rekan kuliah Jokowi tersebut.





