KabarDermayu.com – Model kerja hybrid diprediksi akan semakin umum diadopsi di lingkungan profesional dalam beberapa tahun ke depan. Namun, para pakar berpendapat bahwa kesuksesan karier tidak semata-mata bergantung pada fleksibilitas bekerja dari mana saja, melainkan juga pada bagaimana karyawan memanfaatkan waktu saat mereka berada di kantor.
Sebuah laporan terbaru dari ACCA, sebuah organisasi profesi akuntansi global, mengungkapkan bahwa mayoritas pekerja masih lebih memilih sistem kerja hybrid dibandingkan bekerja sepenuhnya dari kantor atau bekerja sepenuhnya dari jarak jauh.
Meskipun demikian, kehadiran fisik di kantor tetap dianggap memiliki signifikansi. Banyak responden survei meyakini bahwa interaksi tatap muka dengan kolega dan atasan dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan karier. Hal ini terutama berlaku dalam hal kolaborasi, peningkatan visibilitas, dan peluang untuk mendapatkan promosi.
Data dari ACCA menunjukkan bahwa sebanyak 79 persen responden di India menyatakan preferensi mereka terhadap sistem kerja hybrid. Angka ini sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata global yang tercatat sebesar 75 persen.
Lebih lanjut, sebanyak 53 persen responden di India saat ini telah mengadopsi model kerja hybrid. Persentase ini mengalami peningkatan dari 45 persen pada tahun sebelumnya, dan posisinya berada di atas rata-rata global yang mencapai 45 persen.
Laporan tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan mulai melakukan penyesuaian kebijakan kerja mereka agar selaras dengan preferensi karyawan. Fleksibilitas tetap menjadi elemen krusial dalam menjaga kepuasan kerja dan produktivitas tenaga kerja.
Meskipun mendukung fleksibilitas, banyak pekerja tetap mengharapkan adanya panduan yang jelas mengenai kewajiban kehadiran di kantor. Sebanyak 74 persen responden di India sepakat bahwa perusahaan perlu menetapkan jumlah hari tertentu bagi karyawan untuk bekerja dari kantor setiap minggunya.
Laporan yang diterbitkan oleh The Economic Times pada Senin, 1 Juni 2026, mengutip, “Sementara itu, 69 persen responden percaya bahwa kehadiran yang lebih sering di kantor dapat membantu mempercepat perkembangan karier. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di level 58 persen.”
Pandangan serupa juga disuarakan oleh kalangan generasi muda. Sebanyak 72 persen responden dari Generasi Z di India menilai bahwa kehadiran di kantor memiliki pengaruh positif terhadap kemajuan karier mereka. Secara global, angka ini berada pada level 63 persen.
Para ahli yang terlibat dalam diskusi ACCA menilai bahwa model hybrid merupakan pendekatan yang lebih seimbang. Model ini memberikan ruang bagi karyawan untuk mengatur pekerjaan mereka secara mandiri, sekaligus tetap membuka peluang kolaborasi secara langsung.
Namun, para ahli juga memberikan peringatan bahwa perusahaan sebaiknya tidak menerapkan kebijakan yang seragam untuk seluruh divisi atau jenis pekerjaan. Kebutuhan setiap tim dapat bervariasi tergantung pada karakteristik pekerjaan, klien yang dilayani, hingga teknologi yang tersedia.
Baca juga: Ramai Lambang Garuda Diduga Buatan AI, BRIN Minta Maaf
Ke depannya, fleksibilitas diproyeksikan akan tetap menjadi komponen penting dalam dunia kerja. Namun, kehadiran di kantor tidak lagi semata-mata untuk memenuhi aturan perusahaan. Waktu yang dihabiskan di kantor akan semakin berfokus pada kegiatan kolaborasi, pengambilan keputusan strategis, pembangunan relasi profesional, hingga peningkatan visibilitas karyawan di hadapan para pimpinan.





