KabarDermayu.com – Harga bahan pangan di Amerika Serikat mengalami kenaikan tajam pada April 2026. Data terbaru menunjukkan, biaya belanja kebutuhan pokok mencatat lonjakan bulanan terbesar dalam hampir empat tahun terakhir.
Hal ini dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas utama seperti sayuran, kopi, dan daging sapi.
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, kategori “food at home” atau bahan makanan rumah tangga, naik 0,7 persen pada April. Sebelumnya, pada Maret, harga bahan pangan sempat turun 0,2 persen.
Secara tahunan, harga bahan pangan di supermarket AS kini naik 2,9 persen dibanding tahun lalu. Kenaikan paling signifikan terjadi pada sayuran segar. Dalam basis tahunan, harga sayuran segar tercatat lebih dari 44 persen lebih tinggi dibanding tiga bulan lalu.
Sementara itu, harga roti dan susu juga mengalami kenaikan masing-masing sekitar 8 persen dan 5 persen. Kopi dan daging sapi menjadi dua komoditas yang mengalami tekanan harga cukup besar.
Untuk kopi, kenaikan dipicu cuaca buruk di negara produsen utama seperti Brazil dan Vietnam, yang menyebabkan gangguan pasokan biji kopi. Selain itu, biaya pengiriman yang meningkat dan permintaan global yang tinggi ikut mendorong harga kopi naik. Dalam tiga bulan terakhir, harga kopi di supermarket AS meningkat dengan laju tahunan lebih dari 22 persen.
Harga daging sapi dan daging anak sapi juga melonjak akibat populasi ternak yang menurun. Alhasil, banyak peternak yang keluar dari bisnis karena biaya operasional semakin mahal.
Kenaikan harga energi, terutama bahan bakar diesel, turut menambah beban peternak karena digunakan untuk operasional alat pertanian, distribusi pakan, dan pengangkutan ternak.
Peternak sapi asal Georgia, Will Harris, mengatakan harga daging sapi yang dijual langsung ke konsumen kini sekitar 20 persen lebih mahal dibanding dua tahun lalu. “Ini belum pernah terjadi pada kami sebelumnya. Ini pertama kalinya harga naik sebesar itu dan secepat itu,” kata Harris, sebagaimana dikutip dari NBC News, Kamis, 14 Mei 2026.
Baca juga: Pendekatan Polantas: Utamakan Hati, Bukan Tilang
Ia mengaku, khawatir dengan daya beli masyarakat jika harga terus meningkat. “Saya rasa saya bisa memproduksinya semurah siapa pun, tetapi saya tidak tahu sampai di mana batas konsumen mau membayar,” ujarnya.
Di tengah kenaikan harga pangan, belanja konsumen AS sejauh ini masih bertahan. Laporan Bank of America menunjukkan total transaksi kartu kredit dan debit per rumah tangga naik 4,8 persen pada April dibanding periode sama tahun lalu.
Namun, laporan tersebut juga menunjukkan kesenjangan ekonomi semakin melebar. Rumah tangga berpenghasilan tinggi masih menopang konsumsi, sementara kelompok berpendapatan rendah mulai mengurangi pengeluaran.
Inflasi di AS kini berada di level 3,8 persen, lebih tinggi dibanding pertumbuhan upah yang tercatat 3,6 persen pada April. Ekonom Bank of America menyebut pola kesenjangan ekonomi berbentuk “K-shaped” masih terus berlangsung.
“Pola berbentuk huruf ‘K’ dalam belanja dan pertumbuhan upah masih berlangsung, dengan rumah tangga berpenghasilan tinggi berada dalam kondisi yang lebih baik dibanding kelompok lainnya,” tulis ekonom Bank of America dalam laporannya.
Menurut mereka, rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah mulai mengurangi belanja non-kebutuhan pokok, sementara kelompok berpenghasilan tinggi tetap meningkatkan konsumsi.
Riset dari Federal Reserve Bank of New York juga menemukan kesenjangan serupa terlihat pada konsumsi bahan bakar kendaraan. Kelompok berpenghasilan tinggi tetap mempertahankan aktivitas berkendara meski harga bensin naik. Sebaliknya, masyarakat berpendapatan rendah mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi atau beralih ke transportasi umum.
Kondisi ini dinilai membuat Federal Reserve menghadapi tantangan lebih besar dalam mengendalikan inflasi tanpa menambah tekanan terhadap konsumen dan pelaku usaha.
Harris mengatakan kondisi saat ini masih penuh ketidakpastian bagi pelaku usaha peternakan. “Situasinya sekarang benar-benar berbeda, dan kami belum tahu bagaimana semuanya akan berjalan. Ini baru bagi kami,” kata Harris.





