Milenial Dominasi Dunia Kerja: Raih Posisi C-Level

oleh -5 Dilihat
Milenial Dominasi Dunia Kerja: Raih Posisi C-Level

KabarDermayu.com – Dominasi generasi milenial di dunia kerja kini mulai menggeser arah kepemimpinan perusahaan modern. Perubahan demografi tenaga kerja ini mendorong organisasi untuk mempercepat regenerasi pemimpin, termasuk membuka peluang bagi milenial untuk menduduki posisi strategis hingga level C-Level.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), generasi Milenial yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996 merupakan angkatan kerja produktif terbesar. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk beralih dari pola kepemimpinan lama yang kaku, menuju sistem kerja yang lebih kolaboratif dan adaptif.

“Keberlanjutan organisasi saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola kepemimpinan lama. Kita perlu berani bertransisi dari struktur hierarki kaku yang berbasis kekuasaan, menuju sebuah ekosistem kolaboratif yang digerakkan oleh tujuan bersama,” ujar Chief Human Resources Officer TACO Group, Dr. Irwan Dewanto, dalam sebuah pertemuan di Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 pada Rabu, 20 Mei 2026.

Irwan menekankan bahwa regenerasi kepemimpinan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak agar perusahaan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Ia menilai generasi milenial memiliki karakter kepemimpinan yang lebih fleksibel, terbuka terhadap teknologi, dan mampu membangun budaya kerja yang kolaboratif.

Fenomena ini menginspirasi Irwan untuk menulis buku berjudul Milenial Bisa Memimpin. Buku tersebut, yang diangkat dari riset disertasi doktoralnya, membahas urgensi transformasi kepemimpinan di tengah perubahan pola kerja dan disrupsi global yang terjadi.

Dalam bukunya, Irwan memperkenalkan konsep “The Big 4” sebagai standar baru kepemimpinan modern. Keempat pilar tersebut mencakup pembangunan budaya kerja yang sehat, apresiasi terhadap pencapaian kecil tim, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kelincahan kerja, serta komunikasi dua arah melalui mentoring.

Ia berpendapat bahwa budaya organisasi merupakan fondasi utama kesuksesan kepemimpinan generasi baru. Transparansi, hubungan sosial yang sehat, dan ruang diskusi terbuka kini menjadi kebutuhan penting bagi para pekerja muda, termasuk milenial dan Gen Z.

“Memberikan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi milenial bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah urgensi mutlak untuk bertahan,” tegas Irwan.

Baca juga: KPK Telusuri Aliran Dana Mantan Wakil Ketua PN Depok

Dalam karyanya, ia juga mengingatkan perusahaan akan risiko besar jika gagal beradaptasi dengan perubahan karakter tenaga kerja. Salah satu ancaman yang disoroti adalah talent drain atau hilangnya talenta terbaik akibat sistem organisasi yang tidak lagi sesuai dengan ekspektasi generasi baru.

Selain itu, organisasi berpotensi mengalami penurunan produktivitas dan kesenjangan relevansi jika tetap mempertahankan birokrasi yang terlalu hierarkis. Minimnya ruang interaksi antar-level dapat menurunkan keterlibatan karyawan dan memperlambat inovasi.

Dalam visi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, Irwan menilai perusahaan perlu membangun ekosistem kepemimpinan lintas generasi. Melalui konsep Multiplier Leadership, perusahaan didorong untuk memberikan ruang lebih besar bagi talenta muda agar dapat mengambil keputusan dan berkembang menjadi pemimpin masa depan.

Sementara itu, framework LEAD-PRO yang ia gagas menempatkan generasi milenial sebagai pilar kepemimpinan strategis. Ia melihat peran generasi Z (Gen Z) sebagai penggerak produktivitas digital di lingkungan kerja modern.

Peluncuran buku tersebut mendapatkan apresiasi dari Direktur PT Pusat Studi Apindo (ATC) sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen SDM FEB-UNS, Prof. Dr. Soeprayitno, MM., MSc. Menurutnya, riset yang dilakukan Dr. Irwan memiliki validasi kuat dan sangat relevan dengan tantangan organisasi masa kini.

“Materi yang disampaikan benar-benar merupakan hasil penelitian tervalidasi yang aktual, tajam, dan terpercaya,” ujar Prof. Soeprayitno dalam sambutannya.

Di tengah dominasi generasi milenial dalam dunia kerja, perusahaan dinilai perlu mempercepat transformasi kepemimpinan agar tetap relevan menghadapi disrupsi bisnis dan perubahan gaya kerja modern. Kepemimpinan yang adaptif, kolaboratif, dan terbuka terhadap teknologi disebut menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi sekaligus mempersiapkan regenerasi pemimpin menuju visi Indonesia Emas 2045.