Modifikasi Cuaca di Gunung Bromo Terkendala, Ini Penjelasan Kemenhut

oleh -4 Dilihat
Modifikasi Cuaca di Gunung Bromo Terkendala, Ini Penjelasan Kemenhut

KabarDermayu.com – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kini menghadapi tantangan berat akibat kondisi cuaca yang tidak mendukung, sehingga opsi Modifikasi Cuaca belum dapat dilakukan.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa rencana penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terpaksa ditunda. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketersediaan awan konvektif yang menjadi syarat utama penyemaian garam belum terpenuhi di wilayah Bromo.

“Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk,” jelas Satyawan pada Senin, 10 Agustus 2026.

Sebagai informasi, Operasi Modifikasi Cuaca merupakan metode intervensi manusia untuk memicu curah hujan dengan menyemai bahan kimia, seperti Natrium Klorida (NaCl) atau garam, ke dalam gumpalan awan potensial. Proses ini memerlukan kolaborasi lintas instansi, melibatkan tim ahli dari BNPB, BMKG, hingga dukungan armada pesawat dari TNI Angkatan Udara.

Kebakaran yang melanda kawasan wisata ikonik tersebut diketahui telah berlangsung sejak Selasa, 4 Agustus 2026. Hingga saat ini, titik api masih belum sepenuhnya berhasil dijinakkan, menyebabkan kerusakan lahan yang kian meluas.

Berdasarkan pendataan sementara oleh Balai Besar TNBTS, luas area yang terdampak kebakaran di Gunung Bromo telah mencapai 520 hektare. Angka ini diperkirakan masih bisa berubah seiring dengan terus dilakukannya pendataan di lapangan.

Strategi penanggulangan saat ini difokuskan pada kombinasi antara pengerahan pasukan darat dan pemadaman melalui udara atau water bombing. Namun, tim di lapangan menghadapi kendala teknis yang cukup signifikan dalam upaya pemadaman tersebut.

Tantangan Medan dan Cuaca di Lapangan:

  • Akses yang Terjal: Sulitnya medan darat membuat pergerakan tim pemadam menjadi terbatas untuk menjangkau titik api.
  • Kondisi Angin: Kecepatan angin yang tinggi di wilayah pegunungan mempercepat penyebaran api ke area lain.
  • Kelembapan Rendah: Tingkat kelembapan udara yang sangat rendah membuat vegetasi di sekitar lokasi menjadi sangat kering dan mudah terbakar.

Satyawan menambahkan bahwa upaya water bombing telah dilakukan secara intensif, dengan catatan setidaknya 30 kali pengeboman air telah dilepaskan ke titik api. Namun, kombinasi antara medan yang sulit dan faktor cuaca ekstrem membuat upaya tersebut belum memberikan hasil yang maksimal dalam memadamkan api secara menyeluruh.

Pihak Kementerian Kehutanan dan instansi terkait terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Fokus utama saat ini tetap pada menahan laju api agar tidak merembet ke area konservasi yang lebih luas, sembari menunggu kondisi cuaca yang lebih memungkinkan untuk melakukan modifikasi cuaca di masa mendatang.